Fanspage

FREE ONGKIR SELURUH INDONESIA KHUSUS MEMBER DI BAWAH JARINGAN SAYA

Sabtu, 16 Agustus 2014

Penyebab dan Diagonis Lupus

Penyebab Lupus

Sistem kekebalan tubuh berfungsi untuk melindungi tubuh dari sumber infeksi (misalnya, bakteri, atau virus) yang masuk. Itulah tujuan tubuh memproduksi antibodi.
Tetapi sistem kekebalan tubuh penderita lupus eritematosus sistemik (SLE) akan berbalik menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh yang sehat. Inilah yang disebut dengan kondisi autoimun.
Penyebab kondisi ini pada penyakit lupus belum diketahui. Menurut sebagian besar pakar, SLE disebabkan oleh kombinasi dari beberapa penyebab.
Para pakar menduga bahwa ada beberapa faktor genetika yang dapat mempertinggi risiko seseorang terkena lupus. Faktor-faktor lingkungan juga punya andil dalam memicu penyebab penyakit ini.

Pengaruh Genetika

Faktor ini dipercaya sebagai salah satu penyebab SLE karena ada penelitian yang membuktikan bahwa jika salah satu anak kembar identik menderita SLE, saudaranya juga memiliki risiko setinggi 25% untuk terkena penyakit yang sama. Bukti lainnya adalah tingkat perkembangan SLE dengan variasi yang signifikan dalam tiap grup etnis.
Mutasi genetika kemungkinan berperan besar sebagai penyebab SLE. Menurut para peneliti, ada beberapa mutasi genetika yang kemungkinan menjadi pemicu meningkatnya risiko SLE. Saat terjadi kekacauan pada perintah normal dari gen tertentu, mutasi genetika akan muncul. Hal ini akan menyebabkan keabnormalan dalam kinerja tubuh.
Gen-gen termutasi umumnya berhubungan dengan fungsi tertentu dari sistem kekebalan tubuh. Mungkin inilah yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh penderita SLE mengalami kerusakan.
Alasan di balik jumlah penderita lupus wanita yang lebih banyak daripada pria kemungkinan karena sebagian gen termutasi mengandung kromosom X. Kromosom adalah struktur dalam inti sel yang mengandung informasi genetika. Pria memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y, sedangkan wanita memiliki sepasang kromosom X.

Pengaruh Lingkungan

Risiko orang-orang yang rentan menderita SLE bisa saja meningkat jika dipicu oleh beberapa faktor lingkungan. Meski belum terbukti secara luas, faktor-faktor tersebut meliputi:
  • Perubahan hormon yang terjadi pada wanita, misalnya pada saat pubertas atau hamil.
  • Paparan terhadap sinar matahari.
  • Obat-obatan yang dapat memicu lupus-akibat-obat. Jenis lupus ini biasanya akan hilang saat konsumsi obat yang menjadi penyebabnya dihentikan.
Selain faktor-faktor di atas, virus Epstein-Barr (EBV) juga dianggap berkaitan dengan SLE. Tetapi yang menjadi masalah adalah infeksi virus ini jarang menunjukkan gejala. Jika ada pun, gejalanya berupa penyakit demam kelenjar.

Diagnosis Lupus

Gejala lupus eritematosus sistemik (systemic lupus erythematosus/SLE) kerap mirip dengan penyakit lain yang sangat umum sehingga sulit untuk didiagnosis. Selain itu, gejala yang dialami tiap penderita juga berbeda dan terkadang tidak konsisten. Ada penderita yang mungkin hanya merasakan gejala ringan untuk beberapa waktu atau tiba-tiba bertambah parah pada saat-saat tertentu.

Jenis-jenis Tes Darah yang Dapat Digunakan

Ada beberapa jenis tes darah yang biasanya dianjurkan jika dokter mencurigai Anda menderita SLE. Kombinasi dari hasil tes-tes tersebutlah yang dapat membantu mengonfirmasi diagnosis SLE.
Tes antibodi anti-nuklir (anti-nuclear antibody/ANA)
Tes ini digunakan untuk memeriksa keberadaan sel antibodi tertentu dalam darah, yaitu antibodi anti-nuklir. Jenis antibodi ini merupakan ciri utama SLE. Sekitar 95% penderita SLE memiliki antibodi ini.
Tetapi hasil yang positif tidak selalu berarti Anda mengidap SLE, jadi tes antibodi anti-nuklir tidak bisa dijadikan patokan untuk penyakit ini. Tes lain juga dibutuhkan untuk memastikan diagnosis.
Tes antibodi anti-DNA
Tes lain yang digunakan untuk memeriksa keberadaan antibodi tertentu dalam darah adalah tes anti-DNA. Adanya antibodi anti-DNA dalam darah akan meningkatkan risiko Anda terkena SLE.
Jumlah antibodi anti-DNA akan meningkat saat SLE bertambah aktif. Karena itu, hasil tes Anda akan meningkat drastis saat Anda mengalami serangan yang parah.
Tetapi orang-orang yang tidak menderita SLE juga dapat memiliki antibodi ini.
Tes komplemen C3 dan C4
Dokter mungkin akan menganjurkan pemeriksaan tingkat komplemen dalam darah untuk mengecek keaktifan SLE. Komplemen adalah senyawa dalam darah yang membentuk sebagian sistem kekebalan tubuh. Level komplemen dalam darah akan menurun seiring aktifnya SLE Anda.

Pemeriksaan Lanjut yang Dianjurkan Setelah Diagnosis SLE Positif

Penderita SLE memiliki risiko untuk terkena penyakit lain, misalnya gangguan ginjal atau anemia. Karena itu, pemantauan rutin untuk melihat dampak SLE pada tubuh orang yang positif mengidap SLE sangat dibutuhkan.
Proses ini akan membantu dokter untuk memantau penyakit-penyakit lain yang mungkin muncul sehingga dapat segera ditangani. Pemeriksaan lain yang mungkin Anda butuhkan untuk mengecek dampak SLE pada organ dalam adalah rontgen, USG, dan CT scan.

0 komentar:

Posting Komentar