Fanspage

FREE ONGKIR SELURUH INDONESIA KHUSUS MEMBER DI BAWAH JARINGAN SAYA

Selasa, 29 April 2014

Metode Pembelajaran

PROBLEM SOLVING 
Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut:
1. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
 2. Berpikir dan bertindak kreatif.
3. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis 4. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan. 5. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan. 6. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat. 7. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja. Kelemahan metode problem solving sebagai berikut: 1. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut. 2. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain. Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan. Langkah-langkah metode problem solving. 1. Ada masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemampuannya. 2. Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Misalnya, dengan jalan membaca buku-buku, meneliti, bertanya dan lain-lain. 3. Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan jawaban ini tentu saja didasarkan kepada data yang telah diperoleh, pada langkah kedua di atas. 4. Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam langkah ini siswa harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin bahwa jawaban tersebut itu betul-betul cocok. Apakah sesuai dengan jawaban sementara atau sama sekali tidak sesuai. Untuk menguji kebenaran jawaban ini tentu saja diperlukan metode-metode lainnya seperti demonstrasi, tugas, diskusi, dan lain-lain. 5. Menarik kesimpulan. Artinya siswa harus sampai kepada kesimpulan terakhir tentang jawaban dari masalah tadi. BASED LEARNING Kegiatan pembelajaran di sekolah adalah kegiatan pendidikan pada umumnya, yang menjadikan siswa menuju keadaan yang lebih baik. Pendidikan dalam hal ini sekolah tidak dapat lepas dari peran guru sebagai fasilitator dalam penyampaian materi. Profesionalisme seorang guru sangatlah dibutuhkan guna terciptanya suasana proses belajar mengajar yang efisien dan efektif dalam pengembangan siswa yang memiliki kemampuan beragam. Pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilakau kearah yang lebih baik. Pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran yang artinya sebelum siswa belajar harus melalui sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan sehari hari yang masalahnya bersifat tertutup dan terbuka.Oleh karena itu pada proses pembelajaran guru perlu meningkatkan kemampuan menjadi guru professional dan kreatif dalam mengembangkan kemampuan mengajar sehingga siswa dapat maksimal walaupun dalam kenyataannya guru-guru di Indonesia sebagian besar masih mempertahankan metode-metode pembelajaran lama. Kemampuan guru sebagai salah satu usaha meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dimana guru merupakan elemen di sekolah yang secara langsung dan aktif bersinggungan dengan siswa, kemampuan yang dimaksudkan adalah kemampuan mengajar dengan menerapkan model pembelajarn yan tepat, efisien dan efektif. Menurut UNESCO: “learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together “ siswa bukan hanya duduk diam dan mendengarkan. Siswa harus diberdayakan agar siswa mau serta mampu berbuat untuk memperkaya pengelaman belajar (learning to do ). Interaksi siswa dengan lingkungannya menuntut mereka untuk memahami pengetahuan yang berkaitan dengan dunia sekitarnya (learning to know). Interaksi tersebut diharapkan siswa dapat membangun jati diri (learning to be). Kesempatan berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok yang bervariasi akan membentuk kepribadian untuk memahami kebersamaan, bersikap toleransi terhadap teman (learning to live together). Untuk mencapai tujuan yang diatas dibutuhkan metode pengajaran yang sesuai, salah satunya adalah metode pembelajaran Based Learning. Based Learning adalah suatu metode pembelajaran kooperatif berdasarkan pada prinsip penggunaan permasalahan sebagai titik awal untuk penggadaan pengetahuan baru. Pendekatan pemecahan masalah ini menempatkan guru sebagai fasilitator dimana kegiatan belajar mengajar akan dititik beratkan pada keaktifan siswa, kegiatan belajar ini dapat mengasah kemampuan siswa dalam memahami konsep, menggunakan penalaran, memecahkan masalah, mengemukakan gagasan atau ide dan mampu bekerjasama. Proses pembelajaran yang mengikut sertakan siswa secara aktif secara individu maupun kelompok, akan lebih bermakna karena dalam proses pembelajaran siswa mempunyai lebih banyak pengalaman. Dengan pembelajaran dengan metode pembelajaran Based Learning siswa akan lebih kreatif. Dengan strategi pembelajaran baru ini, diharapkan adanya perubahan dari: 1. Mengingat atau menghafal ke arah berpikir dan pemahaman 2. Model ceramah ke pendekatan: discovery learning 3. Belajar secara individu ke belajar bersama-sama 4. Behavioristik ke konstruktivisme, yang ditandai dengan perubahan paradigma pembelajaran, dari paradigma pengetahuan dipindahkan dari otak guru ke otak siswa 5. Terkonstruksinya pengetahuan siswa Karena itulah pendekatan dan strategi pembelajaran yang dapat disarankan adalah suatu pendekatan yang didasarkan pada suatu pendapat bahwa pemahaman suatu konsep atau pengetahuan haruslah dibangun sendiri oleh siswa. 6. Dari metode pembelajaran Based Learning timbulah berbagai permasalahan antara lain adalah: - Apakah metode Based Learning - Apa sajakah ciri dari Based Learning? - Apa tujuan dari Based Learning? - Apa sajakah kelemahan dan kelebihan dari Based Learning? A. METODE BASED LEARNING Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mendengar percakapan seperti: “Kalau ada masalah, mari kita diskusikan bersama” atau “ Segala sesuatu akan dapat kita selesaikan dengan baik apabila kita diskusikan permasalahannya”. Dari percakapan tersebut, kita mendapat gambaran bahwa diskusi merupakan pembicaraan antara dua orang atau lebih untuk membicarakan suatu masalah dan menyelesaikannya. Based learning adalah strategi pengajaran di mana satu kelas dibagi beberapa kelompok, kemudian diberi masalah dan siswa bersama-sama memecahkan masalah tersebut. Satu kelas dibagi beberapa kelompok yang mesing-masing kelompok terdiri dari 3-6 orang untuk mendiskusikan suatu topik atau memecahkan suatu masalah, bisa dilakukan di dalam kelas atau di luar kelas. Dalam satu kelompok ini, mereka mempunyai tugas diantaranya: 1. Membantu memecahkan masalah yang dihadapi 2. Menampilkan saran-saran untuk mendiskusikan atau memecahkan masalah 3. Mendengarkan baik-baik dan menghargai sumbangan pikiran anggota-anggota lainnya 4. Mengembangkan pendapat atas dasar pendapat anggota lainnya Memecahkan masalah merupakan metode belajar yang mengharuskan pelajar untuk menemukan jawabannya. 5. Metode ini dapat didasarkan pada penelitian, pengajaran proyek, pengajaran unit yang terintegrasi, pendekatan interdisipliner, pelajaran individual dan pengajaran yang aktif. Yang penting ialah, bahwa setiap metode yang digunakan mempunyai tujuan untuk mendidik anak agar sanggup memecahakn masalah. Langkah-langkah yang diikuti dalam pemecahan masalah, pada umumnya seperti yang dikemukakan oleh John Dewey, yaitu:Pelajar dihadapkan pada masalah 1. Pelajar merumusakan masalah itu 2. Pelajar merumuskan hipotesis 3. Pelajar menguji hipotesis tersebut Pada umumnya, yang hadir di ruang kelas adalah terjadinya pembelajaran tradisional yang di mana proses pembelajaran yang terjadi bersifat memusatkan pada guru,dengan menjadikan siswa sebagai objek pembelajaran dengan aktivitas utamanya untuk menghafal materi pelajaran, mengerjakan tugas dari guru, menerima hukuman jika melakukan kesalahan, dan kurang mendapatkan penghargaan terhadap hasil kerjanya. Situasi pembelajaran seperti ini jika terus dipertahankan akan membawa dampak yang buruk bagi siswa, di mana kondisi ini akan memunculkan sikap kegagalan dan mempertahankan diri. Siswa akan merasa apa yang mereka kerjakan bukan merupakan apa yang mereka inginkan. Jika terjadi sesuatu di luar keinginan siswa, maka dia akan berusaha untuk berbohong atau menutupi apa yang mereka rasakan dan alami dalam kegiatan pembelajaran. Mengapa menggunakan based learning? Karena Based learning menawarkan sebuah konsep untuk menciptakan pembelajaran dengan berorientasi pada upaya pemberdayaan potensi otak siswa. Tiga strategi utama yang dapat dikembangkan dalam based learning adalah: 1. Menciptakan lingkungan belajar yang menantang kemampuan berpikir siswa.Dalam setiap kegiatan pembelajaran, sering-seringlah guru memberikan soal-soal materi pelajaran yang memfasilitasi kemampuan berpikir siswa dari mulai tahap pengetahuan sampai tahap evaluasi. Soal-soal pelajaran dikemas semenarik mungkin, misalnya melalui teka-teki, simulasi games, agar siswa dapat terbiasa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya dalam konteks pemberdayaan potensi otak siswa. 2. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan. Hindarilah situasi pembelajaran yang membuat siswa merasa tidak nyaman dan tidak senang terlibat di dalamnya. Lakukan kegiatan pembelajaran dengan diskusi kelompok yang diselingi dengan permainan-permainan menarik, dan upaya-upaya lainnya yang mengeliminasi rasa tidak nyaman pada diri siswa. seseorang akan belajar dengan segenap kemampuan apabila dia menyukai apa yang dia pelajari dan dia akan merasa senang terlibat di dalamnya. 3. Menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi siswa. Siswa sebagai pembelajar dirangsang melalui kegiatan pembelajaran untuk dapat membangun pengetahuan mereka melalui proses belajar aktif yang mereka lakukan sendiri. Bangun situasi pembelajaran yang memungkinkan seluruh anggota badan siswa beraktivitas secara optimal, misal mata siswa digunakan untuk membaca dan mengamati, tangan siswa bergerak untuk menulis, kaki siswa bergerak untuk mengikuti permainan dalam pembelajaran, mulut siswa aktif bertanya dan berdiskusi, dan aktivitas produktif anggota badan lainnya. Selain itu , alasan menggunakan metode based learning ialah: 1. Meningkat pendidikan untuk semua siswa
2. Mengubah pola mengajar dari memberitahu ke melakukan
3. Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan minat dan membuat keputusan sendiri
4. Memberi kesempatan siswa untuk berdiskusi tentang bagaimana mereka akan menemukan jawaban pertanyaan atau memecahkan masalah
5. Memungkinkan siswa melek teknologi
6. Melengkapi siswa dengan keterampilan dan rasa percaya diri untuk sukses pada kompetisi global 7. Mengajarkan inti kurikulum dengan cara interdisiplin Biasanya, based learning digunakan oleh seorang guru ataupun dosen ketika mengajarkan keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah, pertanyaan menarik mionat siswa, bila melatih siswa menjadi pebelajar yang madiri, serta pertanyaan mempunyai kemungkinan jawaban lebih dari satu. Contoh metode based learning: Guru memberikan suatu studi kasus mengenai kondisi suatu daerah tertentu yang kekurangan gizi sehingga menyebabkan rendahnya produksi daerah tersebut. Maka para siswa diminta untuk menyelesaikan dua masalah yang saling berkaitan itu dengan mempertimbangkan kondisi daerah itu secara keseluruhan termasuk soal keuangan, kelembagaan dan sumber-sumber lainnya yang tersedia bagi pembangunan.
B. CIRI- CIRI METODE BASED LEARNING
Mengorientasikan siswa kepada masalah autentik
1. Membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, keterampilan intelektual, dan belajar berbagai peran orang dewasa dengan terlibat dalam pengalaman nyata/simulasi
2. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
 3. Penyelidikan autentik
 4. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
5. Menghindari pembelajaran terisolasi dan berpusat pada guru
6. Menciptakan pembelajaran interdisiplin, berpusat pada siswa dalam jangka waktu lama
7. Terintegrasi dengan dunia nyata dan pengalaman praktis
8. Mengajarkan kepada siswa untuk mampu menerapkan apa yang mereka pelajari di sekolah dalam kehidupannya yang panjang
 9. Pembelajaran berpusat pada siswa.
10. Pembelajaran terjadi pada kelompok kecil.
 11. Guru berperan sebagai tutor dan pembimbing.
12. Masalah diformulasikan untuk memfokuskan dan merangsang pembelajaran
13. Masalah adalah kenderaan untuk pengembangan keterampilan pemecahan masalah.
 14. Informasi baru diperoleh lewat belajar mandiri.
 C. TUJUAN METODE BASED LEARNING Mengembangkan pengetahuan, tentang apakah yang dilakukan dan bagaimana melakukan hal tersebut Mengembangkan sikap, tentang keinginan atau kemauan untuk mempraktekkan apa yang telah dipelajari
 1. Mengembangkan keterampilan, tentang abilitas untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui proses latihan pada pekerjaan tertentu. 2. Melatih siswa berpikir tingkat tinggi dan pemecahan masalah, 3. Melatih siswa menjadi pebelajar yang mandiri (self regulated learning) 4. Memperluas pandangan 5. Siswa didorong menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah 6. Siswa mampu menyatakan pendapatnya secara lisan. Hal itu melatih kehidupan yang demokratis. 7. Memberi kemungkinan pada siswa untuk belajar berparisipasi dalam pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah bersama 8. Mengembangkan keterampilan bertanya, berkomunikasi, menafsirkan, dan menyimpulkan pada diri siswa. 9. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan konsep diri yang lebih positif 10. Membantu mengembangkan kepemimpinan 11. Memberi kemungkinan untuk saling mengemukakan pendapat 12. Mengembangkan rasa sosial, karena bisa saling membantu dalam memecahkan soal. Sementara itu, guru mempunyai peran sebagai berikut: 1. Mengajukan masalah otentik/mengorientasikan siswa/mahasiswa kepada masalah 2. Memfasilitasi/membimbing penyelidikan pada saat pengamatan atau eksperimen 3. Memfasilitasi dialog antara siswa 4. Mendukung belajar siswa 5. Memberikan instruksi verbal kepada siswa untuk membantu siswa memecahkan masalah. Instruksi verbal maksudnya ialah membimbing atau menjuruskan pemikiran pelajar itu ke arah tertentu D. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN METODE BASED LEARNING a. Kelebihan Metode ini memberikan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan pendapat 1. Menguntungkan para siswa yang lemah dalam pemecahan masalah. Karena pemecahan masalah dilakukan oleh kelompok biasanya lebih tepat daripada memecahkan masalah secara perseorangan 2. Meningkatkan kemungkinan siswa berpikir kritis 3. Dapat mengembangkan rasa kepemimpinan 4. Siswa dapat belajar memehami siswa lain karena pendapat setiap siswa selalu berbeda 5. Dapat saling membantu dalam memecahkan masalah 6. Meningkatkan keakraban antar siswa 7. Membuat siswa lebih aktif 8. Dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. 9. Menimbulkan ide-ide baru b. Kelemahan 1. Metode ini tidak menjamin penyelesaian, sekalipun kelompok setuju atau membuat kesepakatan . Sebab keputusan yang dicapai belum tentu dilaksanakan 2. Seringkali didominasi oleh seorang atau beberapa orang anggota diskusi dan menyebabkan orang yang tidak berminat hanya sebagai penonton 3. Kadangkala, terjadi adanya pandangan dari berbagai sudut bagi masalah yang dipecahkan, bahkan mungkin pembicaraan menjadi menyimpang, sehingga memerlukan waktu yang panjang. 4. Seingkali anggota kelompok mencoba mendominasi pembicaraan, sedangkan anggota lainnya mungkin segan untuk ikut berpartisipasi 5. Model pembelajaran Based Learning biasa dilakukan secara berkelompok membuat siswa yang malas semakin malas 6. Siswa merasa guru tidak pernah menjelaskan karena model pembelajaran ini menuntut siswa yang lebih aktif KESIMPULAN Dari pembahasan di atas bahwa pembelajaran Based learning adalah strategi pengajaran di mana satu kelas dibagi beberapa kelompok, kemudian diberi masalah dan siswa bersama-sama memecahkan masalah tersebut.namun dalam setiap pembelajaran memiliki kelemahan dan kekurangan.namun dalam pembelajaran ini siswa dituntut untuk aktif.Selain itu Based Learning adalah suatu metode pembelajaran kooperatif berdasarkan pada prinsip penggunaan permasalahan sebagai titik awal untuk penggadaan pengetahuan baru SARAN Dari pembelajaran Based learning dapat disarankan bahwa dari kelemahan dan kelebihanya siswa diharapkan mampu untuk : 1. Belajar mengemukakan pendapat atau berbicara 2. Mengasah siswa untuk mencari ide ide 3. Belajar untuk memahami pendapat dan diharapkan lebih mengerti dengan penjelasan teman atau kelompok. Pengajaran IPA di kelas IV SD sudah membuka kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu anak didik secara ilmiah. Secara umum, prinsip pembelajaran IPA di SD menurut Ari Widodo (2008: 38), adalah : ”prinsip motivasi, prinsip latar, prinsip menemukan, prinsip belajar sambil melakukan, prinsip belajar sambil bermain, prinsip hubungan sosial”. 1. Prinsip Motivasi : motivasi adalah daya dorong seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan. Motivasi ada yang berasal dari dalam atau intrinsik dan ada yang timbul akibat rangsangan dari luar atau ekstrinsik. Motivasi intrinsik akan mendorong rasa ingin tahu, keinginan mencoba, mandiri dan ingin maju. 2. Prinsip Latar : pada hakekatnya siswa telah memiliki pengetahuan awal. Oleh karena itu dalam pembelajaran guru perlu mengetahui pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman apa yang telah dimiliki siswa sehingga kegiatan belajar mengajar tidak berawal dari suatu kekosongan. 3. Prinsip Menemukan : pada dasarnya siswa memiliki rasa ingin tahu yang besar sehingga potensial untuk mencari guna menemukan sesuatu. Oleh karena itu bila diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi tersebut siswa akan merasa senang atau tidak bosan. 4. Prinsip Belajar Sambil Melakukan (learning by doing) : Pengalaman yang diperoleh melalui bekerja merupakan hasil belajar yang tidak mudah terlupakan. Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar sebaiknya siswa diarahkan untuk melakukan kegiatan atau ”Learning by doing” 5. Prinsip Belajar sambil Bermain : bermain merupakan kegiatan yang dapat menimbulkan suasana gembira dan menyenangkan, sehingga akan dapat mendorong siswa untuk melibatkan diri dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu dalam setiap pembelajaran perlu diciptakan suasana yang menyenangkan lewat kegiatan bermain yang kreatif. 6. Prinsip Hubungan Sosial : dalam beberapa hal kegiatan belajar akan lebih berhasil jika dikerjakan secara berkelompok. Dari kegiatan kelompok siswa tahu kekurangan dan kelebihannya sehingga tumbuh kesadaran perlunya interaksi dan kerja sama dengan orang lain. Dari prinsip-prinsip tersebut nampak bahwa semuanya dalam rangka menciptakan suasana pembelajaran yang membuat siswa senang sehingga mereka akan terlibat aktif dalam pembelajaran.
 Untuk menunjang penerapan prinsip-prinsip tersebut di atas guru dalam mengelola pembelajaran perlu :
1. Memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, karena belajar akan bermakna apabila berhubungan langsung pada permasalahan lingkungan sekitar siswa
2. Menggunakan media dan sumber belajar yang bervariasi dan sesuai dengan tahap perkembangan serta kreatif menghadirkan alat bantu pembelajaran
3. Menyajikan kegiatan yang bervariasi sehingga tidak membuat siswa jenuh. Problem Based Learning “Problem Based Learning (PBL) diartikan sebagai aktivitas pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah yang di hadapi secara ilmiah” (Wina Sanjaya, 2006: 214).
Terdapat 3 ciri utama dari pembelajaran berbasis masalah (Wina Sanjaya, 2006: 215), ” PBL merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, diarahkan menyelesaikan masalah, pemecahan masalah menggunakan pendekatan berfikir ilmiah”. 1) PBL merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran,artinya dalam implementasi PBL ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. PBL tidak mengharapkan siswa sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran akan tetapi melalui PBL siswa aktif berfikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan akhirnya menyimpulkan.
 2) Diarahkan menyelesaikan masalah, artinya PBL menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran.
 3) Pemecahan masalah menggunakan pendekatan berfikir ilmiah. “Berfikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berfikir deduktif dan induktif”. Proses berfikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistematis artinya berfikir melalui tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya penyelesaian masalah didasarkan pada fakta-fakta yang jelas. Jadi Problem Based Learning adalah pembelajaran dengan menyajikan masalah-masalah di lingkungan yang ada kaitannya dengan materi yang dibahas untuk dicari pemecahannya. Hakekat masalah dalam PBL adalah Gap atau kesenjangan antara situasi nyata dan kondisi yang diharapkan, atau antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan. Kesenjangan tersebut bisa dirasakan dengan adanya keresahan, keluhan, kerisauan atau kecemasan. Oleh karena itu, maka materi pelajaran atau topik tidak terbatas pada materi pelajaran yang bersumber dari buku saja, akan tetapi bersumber dari peristiwa-peristiwa tertentu yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku.. Suatu lingkungan yang menggunakan pembelajaran berdasarkan masalah lebih baik daripada praktik kerja/magang dan mampu membentuk para pembelajar untuk belajar dari sendiri, pembelajaran berdasarkan masalah juga lebih baik dari pada satu lingkungan yang menggunakan proses pembelajaran mimetis dimana siswa hanya melihat, mengingat, dan mengulang apa yang sudah mereka katakan Peranan guru dalam PBL adalah untuk mengajukan permasalahan, pertanyaan, dan menyediakan fasilitas yang diperlukan siswa, memberi dukungan dalam upaya meningkatkan inkuiri dan perkembangan intelektual siswa. Oleh karena itu dalam pengajaran berdasarkan masalah diperlukan situasi masalah yang autentik dan bermakna untuk disajikan kepada siswa yang dapat memberikan bantuan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Wina Sanjaya (2006: 216),
“PBL dilakukan melalui 6 langkah : menyadari masalah, merumuskan masalah, menetukan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, menentukan pilihan penyelesaian”.
1. Menyadari masalah, Pada tahap ini guru membimbing siswa pada kesadaran adanya kesenjangan atau Gap yang dirasakan oleh manusia atau lingkungan sosial. Kemampuan yang harus dicapai oleh siswa pada tahapan ini adalah siswa dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang terjadi dari berbagai fenomena yang ada. Mungkin pada tahap ini siswa dapat menemukan kesenjangan lebih dari satu, akan tetapi guru dapat mendorong siswa agar menentukan satu atau dua kesenjangan yang pantas untuk dikaji melalui kelompok besar atau kelompok kecil atau bahkan individual.
2) Merumuskan masalah Bahan pelajaran dalam bentuk topik yang dapat dicari kesenjangan, selanjutnya difokuskan pada masalah yang akan dikaji. Rumusan masalah sangat penting, sebab selanjutnya akan berhubungan dengan kejelasan dan kesamaan peresepsi tentang masalah dan berkaitan dengan data-data yang harus dikumpulkan untuk menyelesaikanya. Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam langkah ini adalah siswa dapat menemukan prioritas masalah. Siswa dapat memanfaatkan pengetahuanya untuk mengkaji merinci, dan menganalisis masalah sehingga pada akhirnya muncul rumusan masalah yang jelas, spesifik, dan dapat di pecahkan.
3) Merumuskan hipotesis Siswa dapat menentukan sebab akibat dari masalah yang diselesaikan. Melalui analisis sebab akibat inilah pada akhirnya siswa diharapkan dapat menentukan berbagai kemungkinan penyelesaian masalah. Dengan demikian, upaya yang dapat dilakukan selanjutnya adalah mengumpulkan data sesuai dengan hipotesis yang diajukan.
4) Mengumpulkan data Siswa didorong untuk mengumpulkan data yang relevan. Kemampuan yang diharapkan pada tahap ini adalah kecakapan siswa mengumpulkan, memilah data, kemudian memetakan dan menyajikanya dalam berbagai tampilan sehingga mudah difahami.
5) Menguji hipotesis Berdasarkan data yang dikumpulkan, akhirnya siswa menentukan hipotesis mana yang diterima dan di tolak. Kemampuan siswa yang diharapkan pada tahapan ini adalah kecakapan menelaah data dan sekaligus membahasnya dengan masalah yang dikaji. Disamping itu siswa dapat mengambil keputusan dan simpulan.
 6) Menentukan pilihan penyelesaian Kemampuan yang diharapkan pada tahapan ini adalah kecakapan memilih alternatif penyelesaian yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi sehubungan alternatif yang dipilihnya, termasuk memperhitungkan akibat yang terjadi pada setiap pilihan.
Problem Based Learning menurut Wina Sanjaya (2006: 220), memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan sebagai berikut :
1. Kelebihan :
 - Pemecahan masalah (problem solving) merupakan teknik yang cukup bagus untuk memahami isi pelajaran.
 - Menantang siswa, serta memberi kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
 - Membantu siswa bagaimana cara mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
- Siswa dapat mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab pada pembelajaran yang mereka lakukan.
- Melalui pemecahan masalah (problem solving) bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran pada dasarnya merupakan cara berfikir dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan sekedar belajar dari buku atau guru.
 -  Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
 - Meningkatkan kemampuan siswa untuk berfikir kritis.
 - Mengembangkan kemampuan siswa untuk menerapkan pengetahuan yang dimiliki kedalam dunia nyata.
- Mengembangkan minat siswa untuk terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal berakhir. 2.
Kelemahan :
 - Manakala siswa tidak memiliki minat maka mereka akan enggan untuk mencoba.
 - Membutuhkan cukup waktu dan persiapan.
 - Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha memecahakan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

0 komentar:

Posting Komentar