Fanspage

FREE ONGKIR SELURUH INDONESIA KHUSUS MEMBER DI BAWAH JARINGAN SAYA

Selasa, 08 Juni 2010

Sosiologi

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .
Sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat masyarakat, perilaku masyarakat, dan perkembangan masyarakat. Sosiologi merupakan cabang Ilmu Sosial yang mempelajari masyarakat dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Sebagai cabang Ilmu, Sosiologi dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, August Comte. Comte kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Namun demikian, sejarah mencatat bahwa Γ‰mile Durkheim — ilmuwan sosial Perancis — yang kemudian berhasil melembagakan Sosiologi sebagai disiplin akademis. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.
Karena sosiologi yang kajiannya tentang segala tindak tanduk masyarakat,maka kajian-kajian sosiologi tidak lepas dari masalah-masalah social yang terjadi,dank arena sosiologi merupakan sebuah ilmu,dan dapat di “hilirkan” lagi kepada penetasan masalah-masalah tersebut.
Saat ini,sebelum kita membahas masalah-masalah social dalam pandangan sosiologi dan cara penetasannya,kita harus tau pengertian sosiologi dan apa saja ruang lingkup sosiologi serta bagaimana pengaruh soisiologi terhadap masyarakat.
B. Batasan Masalah
Dalam makalah ini permasalahan yang diambil dibatasi pada bagaimana sosiologi itu dapat berguna bagi masyarakat dan apa saja yang dipelajari dalam sosiologi.


C. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah tersebut di atas, rumusan masalah yang dapat digunakan dalam makalah ini antara lain :
1. Apakah pengertian sosiologi ?
2. Apa sajakah yang dipelajari dalam sosiologi ?
3. Bagaimana pengaruh sosiologi terhadap masyarakat ?
4. Masalah-masalah social yang terjadi dan penetasannya.
D. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini mempunyai tujuan antara lain :
1. Mengetahui pengertian sosiologi.
2. Mengetahui ruang lingkup dalam kajian sosiologi.
3. Mengetahui pengaruh apa yang terjadi dalam masyarakat.
4. Mengetahui masalah social yang terjadi dan penetasan masalah tersebut.



BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Sosiologi
Sosiologi merupakan sebuah istilah yang berasal dari kata latin socius yang artinya teman, dan logos dari kata Yunani yang berarti cerita, diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul “Cours De Philosophie Positive” karangan August Comte (1798-1857). Sosiologi muncul sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Namun sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat baru lahir kemudian di Eropa.
Sejak awal masehi hingga abad 19, Eropa dapat dikatakan menjadi pusat tumbuhnya peradaban dunia, para ilmuwan ketika itu mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan sosial. Para ilmuwan itu kemudian berupaya membangun suatu teori sosial berdasarkan ciri-ciri hakiki masyarakat pada tiap tahap peradaban manusia.
Dalam buku itu, Comte menyebutkan ada tiga tahap perkembangan intelektual, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumya.
Tiga tahapan itu adalah :
1. Tahap teologis; adalah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atas manusia.
2. Tahap metafisis; pada tahap ini manusia menganggap bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam.
3. Tahap positif; adalah tahap dimana manusia mulai berpikir secara ilmiah.
Comte kemudian membedakan antara sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Sosiologi statis memusatkan perhatian pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat. Sosiologi dinamis memusatkan perhatian tentang perkembangan masyarakat dalam arti pembangunan.
Rintisan Comte tersebut disambut hangat oleh masyarakat luas, tampak dari tampilnya sejumlah ilmuwan besar di bidang sosiologi. Mereka antara lain Pitirim Sorokin, Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, George Simmel, dan Max Weber (semuanya berasal dari Eropa). Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan mempelajari masyarakat yang amat berguna untuk perkembangan Sosiologi.
• Herbert Spencer memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain.
• Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yang menganggap konflik antar-kelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat.
• Emile Durkheim memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.
• Max Weber memperkenalkan pendekatan verstehen (pemahaman), yang berupaya menelusuri nilai, kepercayaan, tujuan, dan sikap yang menjadi penuntun perilaku manusia.
Sosiologi merupakan kajian tentang hukum masyarakat dan proses yang berkenaan dengannya; dan orang yang berlainan bukan setakat sebagai individu, tetapi juga sebagai ahli persatuan, kumpulan sosial, dan institusi (pendek kata sebagai anggota masyarakat).
Sosiologi secara teori sering kali dikaitkan dengan soal-soal manusia dalam masyarakatnya. Sosiologi berminat tentang perangai kita sebagai manusia; atau secara ringkas, mengkaji hubungan antara manusia yang pada awalnya saling tidak kenal kepada suatu peringkat yang lebih proses sosial sejagat.
Sosiologi yang muncul pada abad ke-19 dianggap sebagai tindak balas akademik tentang gaya kemodenan; apabila dunia semakin kecil dan lebih bersepadu, pandangan hidup manusia tentang dunia semakin mengecil dan tersebar. Ahli sosiologi berharap, melalui ilmu ini dapatlah kita memahami unsur-unsur yang menjalinkan perpaduan (mencari persamaan) antara kita, dan juga untuk membentuk "penawar" (antidote) kepada perpecahan atau krisis moral masyarakat.
Para sosiologi masa kini menyelidik struktur makro yang membentuk dan seterusnya meladeni masyarakat, seperti kaum atau etnik, kelas masyarakat dan peranan jantina dan institusi seperti keluarga; proses sosial yang mewakili lencongan daripada, atau kehancuran, struktur ini, termasuk jenayah dan perceraian; dan proses mikro seperti interaksi interpersonal
B. Ruang Lingkup Sosiologi
Bidang khusus
Ahli sosiologi sering kali bergantung kepada kaedah kuantitatif untuk menghurai corak hubungan sosial, dan untuk membina model model yang boleh membantu dalam meramal perubahan sosial dan kesannya kepada manusia. Sesetengah ahli sosiologi pula berpendapat kaedah kuantitatif (seperti wawancara terarah, diskusi berkumpulan, dan kaedah etnografi) mampu memberi pemahaman yang lebih mendalam terhadap proses sosial. Cara yang terbaik ialah menggunakan kedua dua kaedah secara serentak. Keputusan daripada kedua dua kaedah ini boleh digunakan untuk menguatkan hujah antara satu sama lain. Contohnya, kaedah kuantitatif boleh menghurai corak am sosial, manakala kaedah kualitatif pula boleh membantu dalam memahami bagaimana seseorang individu bergerak balas terhadap perubahan sosial.
Sosiologi merupakan bidang kajian yang agak baru berbanding bidang sains social lain termasuk ekonomi, sains politik, antropologi dan psikologi.Istilah ini dicipta oleh Auguste Comte, yang berharap untuk menyatukan semua kajian mengenai manusia -- termasuk sejarah , psychologi dan ekonomi. Skema sosiologinya merupakan yang biasa untuk abad ke-18; dia percaya semua kehidupan manusia melalui tahap sejarah yang jelas berbeza dan bahawa, sekiranya seseorang dapat memahami proses ini, seseorang itu dapat menghasilkan penawar bagi kesemua masalah penyakit sosial.
Akhirnya, sosiologi tidak menggantikan sains sosial yang lain, tetapi salah satu dari mereka, dengan penekanan tersendiri pada segi subject matter dan kaedah. Hari ini, kajian sosiologi mengkaji organisasi manusia dan institusi sosial, kebanyakannya melalui kaedah bandingan. Ia memusat terutamanya pada organisasi kompleks masyarakat pengilangan (industrial society).
Ahli sosiologi mengkaji pelbagai topik yang luas. Untuk mendapatkan gambaran mengenai bidang yang dirangkumi, lawati Persatuan Sosiologi Antarabangsa - International Sociological Association's yang menyenaraikan topik seperti Penuaan, Seni, Pertelingkahan Bersenjata, Bencana, Penyelidikan Masa Depan, Kesihatan, Undang-undang, Rehlah, Migrasi, Penduduk, Agama, Pelancungan, Wanita dalam Masyarakat, Kerja, dan banyak lagi. Persatuan Sosiologi Amerika - American Sociological Association's menyenaraikan seksion merangkumi kebanyakan topik yang sama, termasuk yang lain.
Pokok bahasan sosiologi
• Fakta sosial
Fakta sosial adalah cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunya kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut. Contoh, di sekolah seorang murid diwajidkan untuk datang tepat waktu, menggunakan seragam, dan bersikap hormat kepada guru. Kewajiban-kewajiban tersebut dituangkan ke dalam sebuah aturan dan memiliki sanksi tertentu jika dilanggar. Dari contoh tersebut bisa dilihat adanya cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang ada di luar individu (sekolah), yang bersifat memaksa dan mengendalikan individu (murid).
• Tindakan sosial
Tindakan sosial adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain. Contoh, menanam bunga untuk kesenangan pribadi bukan merupakan tindakan sosial, tetapi menanam bunga untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba sehingga mendapat perhatian orang lain, merupakan tindakan sosial.

• Khayalan sosiologis
Khayalan sosiologis diperlukan untuk dapat memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia. Menurut Wright Mills, dengan khayalan sosiologi, kita mampu memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya.
Alat untuk melakukan khayalan sosiologis adalah troubles dan issues. Troubles adalah permasalahan pribadi individu dan merupakan ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Issues merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu. Contoh, jika suatu daerah hanya memiliki satu orang yang menganggur, maka pengangguran itu adalah trouble. Masalah individual ini pemecahannya bisa lewat peningkatan keterampilan pribadi. Sementara jika di kota tersebut ada 12 juta penduduk yang menganggur dari 18 juta jiwa yang ada, maka pengangguran tersebut merupakan issue, yang pemecahannya menuntut kajian lebih luas lagi.
• Realitas sosial
Seorang sosiolog harus bisa menyingkap berbagai tabir dan mengungkap tiap helai tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga. Syaratnya, sosiolog tersebut harus mengikuti aturan-aturan ilmiah dan melakukan pembuktian secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normatif.
Institusionalisme baru Di bawah adalah sebahagian dari bidang dan topik tersebut, dengan pautan kepada perbincangan Wikipedia berkenaan bidang dan topik tersebut.
• Sosiologi ekonomi
• Sosiologi persekitaran
• Ekologi manusia
• Sosiologi perindustrian
• Sosiologi perubatan
• Mikrososiologi
• Sosiologi politik
• Penilaian program
• Sosiologi luar bandar
• Sosiologi agama
• Sosiologi sains dan teknologi
• Teori sistem
• Sociologi pasaran
• Sosiologi Perhubungan Perindustrian
• Perubahan sosial
• Demografi sosial
• Sosiologi bencana
• Sosiologi Bandar
• Sosiologi pengetahuan
Topik sosiologi utama
• Strukturalisme
• Kelas sosial
• Ras
• Jantina
• Budaya
• Lencongan
• Ketidakbertanggungjawapan yang mempunyai alasan yang kuat
• Peranan dan kehomogenan peranan
• Kerja
• Peranan
• Struktur sosial
• Kemodenan
• Generasi
C. Pengaruh Sosiologi Dalam Masyarakat
Perkembangan sosiologi dari abad ke abadPerkembangan pada abad pencerahan
Banyak ilmuwan-ilmuwan besar pada zaman dahulu, seperti Sokrates, Plato dan Aristoteles beranggapan bahwa manusia terbentuk begitu saja. Tanpa ada yang bisa mencegah, masyarakat mengalami perkembangan dan kemunduran.
Pendapat itu kemudian ditegaskan lagi oleh para pemikir di abad pertengahan, seperti Agustinus, Ibnu Sina, dan Thomas Aquinas. Mereka berpendapat bahwa sebagai makhluk hidup yang fana, manusia tidak bisa mengetahui, apalagi menentukan apa yang akan terjadi dengan masyarakatnya. Pertanyaan dan pertanggungjawaban ilmiah tentang perubahan masyarakat belum terpikirkan pada masa ini.
Berkembangnya ilmu pengetahuan di abad pencerahan (sekitar abad ke-17 M), turut berpengaruh terhadap pandangan mengenai perubahan masyarakat, ciri-ciri ilmiah mulai tampak di abad ini. Para ahli di zaman itu berpendapat bahwa pandangan mengenai perubahan masyarakat harus berpedoman pada akal budi manusia.
Pengaruh perubahan yang terjadi di abad pencerahan
Perubahan-perubahan besar di abad pencerahan, terus berkembang secara revolusioner sapanjang abad ke-18 M. Dengan cepat struktur masyarakat lama berganti dengan struktur yang lebih baru. Hal ini terlihat dengan jelas terutama dalam revolusi Amerika, revolusi industri, dan revolusi Perancis. Gejolak-gejolak yang diakibatkan oleh ketiga revolusi ini terasa pengaruhnya di seluruh dunia. Para ilmuwan tergugah, mereka mulai menyadari pentingnya menganalisis perubahan dalam masyarakat.
Gejolak abad revolusi
Perubahan yang terjadi akibat revolusi benar-benar mencengangkan. Struktur masyarakat yang sudah berlaku ratusan tahun rusak. Bangasawan dan kaum Rohaniawan yang semula bergemilang harta dan kekuasaan, disetarakan haknya dengan rakyat jelata. Raja yang semula berkuasa penuh, kini harus memimpin berdasarkan undang-undang yang di tetapkan. Banyak kerajaan-kerajaan besar di Eropa yang jatuh dan terpecah.
Gejolak abad revolusi itu mulai menggugah para ilmuwan pada pemikiran bahwa perubahan masyarakat harus dapat dianalisis. Mereka telah menyakikan betapa perubahan masyarakat yang besar telah membawa banyak korban berupa perang, kemiskinan, pemberontakan dan kerusuhan. Bencana itu dapat dicegah sekiranya perubahan masyarakat sudah diantisipasi secara dini.
Perubahan drastis yang terjadi semasa abad revolusi menguatkan pandangan betapa perlunya penjelasan rasional terhadap perubahan besar dalam masyarakat. Artinya :
• Perubahan masyarakat bukan merupakan nasib yang harus diterima begitu saja, melainkan dapat diketahui penyebab dan akibatnya.
• Harus dicari metode ilmiah yang jelas agar dapat menjadi alat bantu untuk menjelaskan perubahan dalam masyarakat dengan bukti-bukti yang kuat serta masuk akal.
• Dengan metode ilmiah yang tepat (penelitian berulang kali, penjelasan yang teliti, dan perumusan teori berdasarkan pembuktian), perubahan masyarakat sudah dapat diantisipasi sebelumnya sehingga krisis sosial yang parah dapat dicegah.
D.Masalah Sosial dan penetasannya.
Masalah sosial

Para sosiolog biasanya memandang masalah sosial sebagai situasi tertentu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut sebagian besar orang yang setuju bahwa tindakan harus dilakukan untuk mengubah situasi itu. Para pekerja sosial seringkali mendefinisikan masalah sosial sebagai terganggunya keberfungsian sosial individu, kelompok atau komunitas sehingga mempengaruhi kemampuan mereka dalam memenuhi kebutuhan, merealisikan nilai-nilai yang dianutnya, serta menjalankan peranan-peranan masyarakat.
Masalah sosial bisa juga diartikan sebagai sebuah kondisi yang dipandang oleh sejumlah orang dalam masyarakat sebagai sesuatu yang tidak diharapkan. Kemiskinan, pengangguran, penyebaran HIV/AIDS, perceraian, kenakalan remaja, misalnya, adalah contoh masalah sosial, karena merupakan kondisi atau keadaan yang tidak diinginkan oleh hampir semua orang. Masalah sosial tertentu mungkin hanya dipandang sebagai masalah atau kondisi yang tidak menyenangkan oleh sebagian orang saja.
Sebuah fenomena dikanatan sebagai sebuah masalah sosial biasanya karena menjadi perhatian publik. Peran media massa disini sangat penting. Karena media massa seperti koran, televisi atau radio merupakan sarana komunikasi yang bisa menjadi ukuran apakah fenomena itu menjadi perhatian publik atau tidak. Kriminalitas dalam rumah tanga, perlakuan salah terhadap anak (child abuse), penyalahgunaan obat-obat terlarang, kerusakan lingkungan, polusi, kelangkaan air bersih, penyebaran flu burung, adalah beberapa contoh masalah sosial karena sering disiarkan oleh media massa.

Karakteristik masalah sosial :

1. Kodisi yang dirasakan banyak orang.

Suatu masalah baru dapat dikatakan sebagai masalah sosial apabila kondisinya dirasakan oleh banyak orang. Namun demikian, tidak ada batasan berapa jumlah orang yang harus merasakan masalah tersebut. Jika suatu masalah mendapat perhatian dan menjadi pembicaraan lebih dari satu orang, masalah tersebut adalah masalahosial.

2. Kondisi yang dinilai tidak menyenangkan

Orang senantiasa menghindari masalah, karena masalah selalu tidak menyenangkan. penilaian masyarakat sangat penting dalam menentukan suatu kondisi sebagai masalah sosial. Suatu kondisi dapat dianggap sebagai masalah sosial oleh masyarakat tertentu tetapi tidak oleh masyarakat lainnya. Ukuran baik atau buruknya tergantung pada nilai atau norma yang dianut masyarakat.

3. Kondisi yang menuntut pemecahan

Umumnya suatu kondisi dianggap perlu dipecahkan jika masyarakat merasa bahwa kondisi tersebut memang dapat dipecahkan. Pada waktu lalu, masalah kemiskinan tidak dikategorikan sebagai masalah sosial, karena waktu itu masyarakat menganggap kemiskinan sebagai sesuatu yang alamiah dan masyarakat belum memiliki kemampuan untuk memecahkannya. Sekarang setelah masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menanggulangi kemiskinan, kemiskinan ramai diperbincangkan dan diseminarkan untuk dicarikan jalan pemecahannya, karenanya dianggap sebagai masalah sosial.

4. Pemecahan tersebut harus dapat dilakukan melalui aksi sosial secara koletif

Masalah sosial berbeda dengan masalah individu. Masalah individu dapat diatasi secara perseorangan, tetapi masalah sosial hanya dapat diatasi melalui rekayasa sosial (social engineering) seperti aksi sosial, kebijakan sosial atau perencanaan sosial, karena penyebab dan akibatnya bersifat multidimensional dan menyangkut banyak orang.

Pelayanan Sosial

Pelayanan sosial merupakan aksi atau tindakan untuk mengatasi masalah sosial. Pelayanan sosial dapat diartikan seperangkat program yang ditunjukan untuk membantu individu atau kelompok yang mengalami hambatan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika keadaan individu atau kelompok tesebut dibiarkan, maka akan menimbulkan masalah soisal.

Pelayanan sosial dapat didefinisikan sebagai salah satu bentuk kebijakan sosial yang ditunjukan untuk mempromosikan kesejahteraan. Namun demikian, pemberian pelayanan sosial bukan merupakan satu-satunya stategi untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk. Ia hanyalah salah satu stategi kebijakan sosial dalam mencapai tujuannya.
Secara ideologis, pelayanan sosial didasari keyakinan bahwa tindakan sosial dan pengorganisasian sosial merupakan suatu wujud nyata dari kebijakan sosial sebagai representasi kehendak publik dalam mempromosikan kesejahteraan warga negara. Selain itu, pentingnya pelayanan sosial dilandasi oleh keyakinan bahwa kebijakan ekonomi dan kebijakan publik lainnya tidak selalu mampu mengatasi masalah sosial secara efektif.
Jenis dan Cakupan Pelayanan Sosial
Di negara-negara industri maju seperti AS, Inggris, Australia, dan Selandia Baru, secara tradisi kebijakan sosial mencakup ketetapan atau regulasi pemerintah mengenai lima bidang pelayanan sosial, yaitu jaminan sosial, pelayanan perumahan, kesehatan, pendidikan, dan pelayanan atau perawatan sosial personal.

1. Jaminan Sosial.

Jaminan Sosial (social security) menunjuk pada sistem atau skema pemberian tunjangan yang menyangkut pemeliharaaan penghasilan (income maintenance). Sebagai pelayanan publik, jaminan sosial merupakan perangkat negara yang didesain untuk menjamin bahwa setiap orang sekurang-kurangnya memiliki pendapatan minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. jaminan sosialmmerupakan sektor kunci dari sistem Negara Kesejahteraan berdasarkan prinsip bahwa negara harus berusaha dan mampu menjamin bahwa jaring pengaman pendapatan (financial safety net) bagi mereka yang tidak memiliki sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

2. Perumahan.

Rumah atau tempat tinggal merupakan kebutuhan dasar manusia. Negara memiliki kewajiban asasi untuk menyediakan perumahan bagi warganya. khususnya bagi mereka yang tergolong kurang mampu.

3. Kesehatan.

Pelayanan kesehatan dapat dipandang sebagai aspek penting dalam kebijakan sosial. Kesehatan merupakan faktor penentu bagi kesejahteraan sosial. Orang yang sejahteran bukan saja orang yang memiliki pendapatan atau rumah memadai melainkan pula orang yang sehat, baik secara jasmani maupun rohani. Skema pelayanan kesehatan publik biasanya erat kaitannya dengan sistem jaminan sosial, terutama asuransi sosial, karena sebagian pelayannya menyangkut atau berbentuk asuransi kesehatan. Para pekerja sosial yang bekerja dirumah sakit biasanya disebut sebagai Pekerja Sosial Medis (medis social work). Para pekerja sosial medis biasanya memfokuskan pertolongannya kepada aspek-aspek psikososial pasien dan perngorganisasian sistem pembiayaan bagi pasien-pasien yang tidak mampu.

4.Pendidikan.

Pendidikan merupakan perangkat penting dalam meningkatkan kesejahteraan warga melalui penguasaan pengetahuan informasi, dan teknologi sebagai prasarat masyarakat modern. Pelayanan pendidikan dalam konteks kebijakan sosial bukan saja ditunjukan untuk menyiapkan dan menyediakan angkatan kerja yang sangat diperlukan oleh dunia kerja, melainkan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial dalam arti luas, yakni membebaskan masyarakat dari kebodohan dan ketertinggalan.




BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sosiologi modern tumbuh pesat di benua Amerika, tepatnya di Amerika Serikat dan Kanada. Mengapa bukan di Eropa? (yang notabene merupakan tempat dimana sosiologi muncul pertama kalinya).
Pada permulaan abad ke-20, gelombang besar imigran berdatangan ke Amerika Utara. Gejala itu berakibat pesatnya pertumbuhan penduduk, munculnya kota-kota industri baru, bertambahnya kriminalitas dan lain lain. Konsekuensi gejolak sosial itu, perubahan besar masyarakat pun tak terelakkan.
Perubahan masyarakat itu menggugah para ilmuwan sosial untuk berpikir keras, untuk sampai pada kesadaran bahwa pendekatan sosiologi lama ala Eropa tidak relevan lagi. Mereka berupaya menemukan pendekatan baru yang sesuai dengan kondisi masyarakat pada saat itu. Maka lahirlah sosiologi modern.
Berkebalikan dengan pendapat sebelumnya, pendekatan sosiologi modern cenderung mikro (lebih sering disebut pendekatan empiris). Artinya, perubahan masyarakat dapat dipelajari mulai dari fakta sosial demi fakta sosial yang muncul. Berdasarkan fakta sosial itu dapat ditarik kesimpulan perubahan masyarakat secara menyeluruh. Sejak saat itulah disadari betapa pentingnya penelitian (research) dalam sosiologi.
Karena ilmu sosiologi yang kajiannya adalah segala tindak tanduk masyarakat,tentu hal ini membuat sosiologi sangat diperlukan perannya dalam kehidupan bermasyarakat dan sangat erat kaitannya dengan ilmu-ilmu lain,serta sosiologi juga menjadi ilmu yang gunanya unutk penetasan masalah social dalam masyarakat.

0 komentar:

Posting Komentar