Fanspage

FREE ONGKIR SELURUH INDONESIA KHUSUS MEMBER DI BAWAH JARINGAN SAYA

Selasa, 08 Juni 2010

GLOBALISASI LIBERAL DALAM KACAMATA EKONOMI

GLOBALISASI LIBERAL DALAM
KACAMATA EKONOMI

A. PENDAHULUAN
Sebagian besar pengkritik globalisasi adalah penentang gigih ekonomi pasar yang memperlakukan dunia sebagai satu kesatuan. Ada yang menolak ekonomi pasar jenis apa pun. Ada pula yang hanya menolak ekonomi pasar yang mencakup orang asing (walaupun mereka mungkin tidak mau mengakuinya). Ini dengan sendirinya menimbulkan satu pertanyaan. Mengapa ada orang yang percaya bahwa ekonomi semacam itu adalah gagasan yang bagus? Kalau pengkritik benar, berarti pendukung ekonomi pasar glo¬bal setuju pada kemiskinan massa, kesenjangan yang parah, kehancuran kesejahteraan yang disediakan negara, pengikisan terhadap kedaulatan nasional, subversi atas demokrasi, kekuasaan korporasi yang tak terbatas, degradasi lingkungan hidup, pelanggaran hak-hak asasi manusia, dan banyak lagi. Tentu saja, itu semua tidak mereka setujui. Untuk membuktikan hal ini, kritik semacam itu harus dihadapi. Tapi sebelumnya perlu dijelaskan apa itu ekonomi pasar, mengapa ia punya hubungan dekat dengan dan mendukung demokrasi, mengapa dan bagaimana ia menaikkan standar penghidupan, dengan cara apa ia bergantung pada dukungan dari negara, bagaimana pasar bergerak lintas batas secara alami dan menguntungkan, dan, tidak kalah pentingnya, bagaimana ekonomi pasar global semacam itu mendatangkan manfaat dan tantangan besar bagi hubungan politik global.
Globalisasi adalah kata yang mengerikan dengan makna yang kabur, pertama dipakai pada 1960-an, dan menjadi mode yang makin popular pada 1990-an. Bagi banyak pendukungnya ia adalah kekuatan tak tertahankan yang diinginkan yang menyapu batas-batas, menjungkalkan pemerintah-pemerintah despot, memperlemah pemajakan, membebaskan individu, dan memperkaya apa saja yang disentuhnya. Bagi banyak penentangnya, ia juga kekuatan tak tertahankan, tapi tidak diinginkan. Dengan embel-embel "neoliberal" atau "korporasi", globalisasi dikutuk sebagai kekuatan jahat yang memiskinkan massa, menghancurkan budaya, memperlemah demokrasi, memaksakan Amerikanisasi, membasmi negara kesejahteraan, menghancurkan lingkungan hidup, dan memuja keserakahan. Tapi globalisasi juga, setelah mempertimbangkan segala aspek, sangat memuaskan. Persisnya memuaskan sampai di mana tergantung pada pilihan-pilihan yang kita buat .


Sebelum mencoba menjelaskan proposisi ini, harus ada dulu penjelasan tentang apa maksud kami dengan globalisasi. Ini bukan perkara enteng. Karena, seperti dikatakan Paul Hirst dari Birkbeck College dan Grahame Thompson dari Open University, "globalisasi telah menjadi naratif agung baru dari ilmu-ilmu sosial. Kami katakan hal ini bukan karena komitmen pada sensibilitas pascamodernisme kami tidak punya komitmen itu melainkan karena kami rasa konsep itu menawarkan lebih banyak daripada yang dapat ia wujudkan" . Karya-karya teoretikus jalan-ketiga, seperti Anthony Giddens, penasihat Tony Blair, perdana menteri Britania, jatuh ke dalam perangkap ini. Bagi Profesor Giddens, globalisasi adalah kekuatan tak tejbendung, mengubah segala aspek kontemporer dari masyarakat, politik, dan ekonomi . Dengan demikian, definisi globalisasi menjadi terlalu luas, tak bisa dijelaskan. Ia lantas menjadi, seperti kata Profesor Hirst dan Th¬ompson, slogan untuk "proses-proses budaya, ekonomi, dan sosial yang sangat berbeda" .

B. PERMASALAHAN
Bagaimanakah globalisasi liberal dalam kacamata ekonomi?

C. PEMBAHASAN
Jadi, apakah arti globalisasi ekonomi? Definisi paling sederhana datang dari Anne Krueger, first deputy managing director Dana Moneter Internasional. Dalam kuliah John Bonython, disampaikan di Australia pada 2000, dia mendefinisikan globalisasi sebagai: "suatu fenomena di mana agen-agen ekonomi di bagian mana pun di dunia jauh lebih terkena dampak peristiwa yang terjadi di tempat lain di dunia" daripada sebelumnya . Tapi ada versi teknis yang lebih tepat mengenai proses ini: integrasi kegiatan ekonomi, lintas batas, lewat pasar. Demikianlah, David Henderson, mantan ekonom kepala Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, mendefinisikan globalisasi sebagai: pergerakan bebas barang, jasa, buruh, dan modal, sehingga menciptakan satu pasar tunggal dalam hal masukan dan keluaran; dan perlakuanbersifat nasional terhadap investor asing (serta warga nasional yang bekerja di luar negeri) sehingga, dari segi ekonomi, tidak ada orang asing .
Definisi yang berkaitan diberikan oleh Brink Lindsey dari Cato Institute di Washington, dalam bukunya Against the Dead Hand. Di situ, Lindsey mendefinisikan kata itu:
Dalam tiga makna yang berbeda tapi saling berhubungan: pertama, untuk menggambarkan fenomena ekonomi dari peningkatan integrasi pasar lintas: perbatasan politik (entah disebabkan alasan politik atau teknologi); kedua, untuk menggambarkan fenomena politik yang terbatas mengenai runtuhnya rintangan-rintangan yang dipasang oleh pemerintah atas arus internasional barang, jasa, dan modal; dan, akhirnya, untuk menggambarkan fenomena politik yang jauh lebih luas mengenai persebaran global kebijakan-kebijakan berorientasi pasar, di lingkungan domestik dan internasional. Karena saya menganggap bahwa globalisasi dalam makna pertama teratama disebabkan globalisasi dalam makna kedua, dan bahwa globalisasi dalam makna kedua teratama disebabkan globalisasi dalam makna ketiga, saya rasa tidaklah terlalu membingungkan memakai kata yang sama untuk menjelaskan tiga hal yang berbeda.

Ini adalah definisi yang bermanfaat dari jenis globalisasi kita sebut saja "globalisasi liberal" yang dikutuk para pemrotes. la memperjelas unsur-unsur globalisasi dengan cara yang relatif tepat. Dan ia melakukannya dengan menunjukkan bahwa apa yang kita bicarakan ialah gerakan ke arah integrasi yang lebih besar, sementara rintangan alami dan buatan manusia terhadap interaksi ekonomi internasional terus turun. Suatu konsekuensi yang hams terjadi akibat proses integrasi ialah peningkatan dampak perubahan ekonomi di satu bagian dunia akibat apa yang terjadi di bagian dunia lain.
Proses integrasi ekonomi yang digambarkan di sini bisa dibayangkan punya dua titik akhir. Pada satu titik, teknologi masih tetap kurang lebih seperti hari ini, tapi tidak ada rintangan kebijakan apa pun bagi pergerakan barang, jasa, informasi, modal, atau orang. Karena alasan sejarah, dunia masih akan berisi budaya dan bahasa yang khas, serta sistem legal yang berbeda. Ini akan menambah hambatan yang sudah dibuat oleh jarak dan kesulitan komunikasi. Perusahaan masih akan cenderung bersifat nasional atau multinasional, bukan global. Prakondisi politik bagi ekonomi global semacam ini bisa merupakan penghapusan unilateral hambatan-hambatan oleh negara-negara yang tetap berdaulat, suatu struktur kedaulatan nasional yang terbatas, serupa dengan anggota-anggota Uni Eropa sekarang, atau bisa merupakan federasi global. Dengan kata lain, suatu ekonomi global, dengan definisi seperti ini, dapat dikombinasikan dengan sejumlah struktur berbeda untuk mencapai suatu pemerintahan global. Bentuk integrasi seperti ini dapat dibayangkan, walaupun sangat jauh dari keadaan kita sekarang. Hampir tidak mungkin sampai ke situ dalam abad ini, apalagi dekade berikut .
Definisi kedua dan jauh lebih radikal akan ekonomi global adalah suatu keadaan di mana, selain penghapusan hambatan-hambatan politik terhadap integrasi ekonomi, biaya transpor dan komunikasi nol. Bentuk ekonomi glo¬bal seperti ini dapat dibayangkan tapi praktis tidak mungkin. Dalam dunia seperti ini jarak tidak akan punya arti lagi. Itu akan menjadi akhir dari geografi. Akan tidak ada lagi jasa yang secara intrinsik tidak dapat diperdagangkan, seperti potong rambut, operasi rumah sakit, dan penjagaan anak atau orang tua. Dunia akan seperti London atau New York sekarang, dengan hampir setiap budaya yang bisa dibayangkan saling berhimpitan. Secara ekonomis, dunia akan tereduksi menjadi satu titik, hal yang hampir tercapai oleh Internet; tapi hanya untuk perkara informasi.
Nilai dari eksperimen pikiran yang lebih ekstrem ini adalah ia memaksa kita menerima betapa pentingnya biaya transpor dan komunikasi. Walaupun biaya ini akan terus turun, ia tidak akan pernah sampai mendekati nol, kecuali untuk hal-hal yang dapat didematerialisasi secara lengkap seperti khususnya informasi. Kalau orang ingin berpartisipasi sepenuhnya dalam budaya Swedia, menikmati pilihan luas sekolah-sekolah Swedia untuk anak-anak mereka, punya mayoritas tetangga Swedia, dan menikmati seluruh manfaat yang disediakan oleh negara kesejahteraan Swedia, mereka harus tinggal di Swedia. Juga, biasanya orang akan terus bekerja atau ke sekolah yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka tinggal. Ini akan tetap begitu walaupun semua hambatan kebijakan terhadap pergerakan barang, jasa, modal, informasi, dan orang dihapuskan. Bahkan, karena pangsa layanan dalam konsumsi dan produk domestik bruto meningkat, geografi mungkin akan menjadi makin penting, bukan makin tidak penting.
Intinya ialah bahwa jarak akan selalu penting, karena kita terdiri dari tubuh fisik. Karena jarak selalu penting, begitu pula ruang. Karena ruang selalu penting, begitu pula kontrol teritorial. Karena kontrol teritorial penting, begitu pula negara. Dengan alasan sederhana ini, proses ekonomi tidak akan bisa memaksa tamatnya riwayat negara, kecuali negara dimusnahkan, entah secara sukarela (seperti dalam keputusan untuk bergabung dengan negara atau negara-negara lain) atau secara paksa (seperti dalam penaklukan). Bahkan, kebijakan dan kapasitas negara tetap menduduki tempat utama dalam setiap upaya memahami bagaimana globalisasi ekonomi berfungsi.
Ada pengarang yang menulis seolah-olah teknologi pada dirinya sendiri merupakan unsur yang menentukan bagi globalisasi. Pengarang paling berpengamh yang paling mendekati pandangan ini ialah Thomas Friedman, kolumnis luar negeri untuk The New York Times, dalam bukunya yang hidup dan mencerahkan The Lexus and the Olive Tree? Dia membedakan tiga macam demokratisasi teknologi, informasi, dan keuangan. Di balik ketiganya adalah revolusi teknologis yang tak terbantahkan, yaitu, peningkatan luar biasa kapasitas kita untuk berkomunikasi dan mengakses informasi, disimbolkan oleh telepon genggam dan Internet. Karena ketiga demokratisasi itu, kata Friedman, organisasi-organisasi top-down tradisional perusahaan dan pemerintah rentan terhadap "Microchip Immune Deficiency Syndrome" (Gejala Defisiensi Kekebalan Mikrocip). Ini:
adalah penyakit politik yang menentukan dalam era globalisasi. la dapat menyerang perusahaan atau negeri mana saja, besar atau kecil, Timur atau Barat, Utara atau Selatan.... MIDS biasanya menyerang negeri dan perusahaan yang gagal memvaksinasi diri mereka terhadap perubahan yang ditimbulkan oleh mikrocip, dan demokratisasi teknologi, keuangan, dan informasi.... Satu-satunya obat yang diketahui untuk negeri dan perusahaan yang terjangkit MIDS ialah "demokratisasi keempat". Ini adalah demokratisasi pengambilan keputusan dan arus informasi, dan dekonsentrasi kekuasaan, dengan cara yang memungkinkan lebih banyak orang di suatu negeri atau perusahaan tukar-menukar pengetahuan, pengalaman, dan berinovasi lebih cepat.... MIDS bisa fatal bagi perusahaan dan negeri yang tidak segera dirawat dengan tepat .
Definisi-definisi di atas berkaitan hanya dengan aspek ekonomi globalisasi. Tapi perubahan dalam teknologi dan ekonomi juga punya dampak kultural, sosial, dan politikyang kompleks. Perubahan dalam hal bagaimana orang bisa memilih mata pencaharian, apa yang bisa mereka beli, bagaimana mudahnya mereka bisa pindah dari satu tempat ke tempat lain, bagaimana mudahnya mereka memindahkan barang, dan bagaimana mereka dapat menyebarkan dan mengakses informasi dan gagasan yang diperlukan untuk mengubah masyarakat manusia dan orang per orang yang tinggal dalam masyarakat-masyarakat itu.
Ada ahli yang mencoba mendefinisikan aspek globalisasi non-ekonomik seperti itu secara relatif tepat. Sosiolog Peter Berger misalnya, dari Boston University, berkata bahwa ada empat fase globalisasi budaya: nilai-nilai bisnis atau dampak "manusia Davos", dinamai demikian menurut lokasi pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia; nilai-nilai intelektual tau pengaruh "klub fakultas"; budaya komersial popular; dan persebaran gerakan-gerakan religius hususnya Protestantisme evangelikal, yang kini diperkirakan dianut 250 juta orang di seluruh dunia. Dia berkata bahwa "Globalisasi adalah, pada dasarnya, suatu kelanjutan, walaupun dalam bentuk intensif dan dipercepat, dari tantangan yang sudah selalu ada terhadap modernisasi. Di tingkat budaya, ini adalah tantangan besar pluralisme: kehancuran tradisi yang sudah dianggap terbiasa dan timbulnya pilihan beragam untuk keyakinan, nilai, dan gaya hidup. Tidak salah mengatakan bahwa ini sebetulnya adalah tantangan besar kebebasan yang meningkat baik bagi individu maupun kolektivitas" .
Perubahan dalam teknologi dan kebijakan ekonomi memang punya dampak politik, sosial, dan kultural semacam itu. Betapa tidak? Sekarang, suatu rejim yang ingin rakyatnya terlibat penuh dalam ekonomi global tidak bisa mencegah mereka memperoleh akses pada ragam informasi yang luar biasa banyaknya, termasuk tentang negeri mereka sendiri. Ini bisa membuat rejim despotik tidak dapat dipertahankan. Tapi, sepenting apa pun, perubahan-perubahan itu bukanlah bagian dari definisi globalisasi yang dipakai di sini. Sebaliknya mereka dianggap konsekuensi atau akibat sampingan.

D. KESIMPULAN
Globalisasi dipahami sebagai integrasi kegiatan ekonomi, melalui pasar. Kekuatan pendorongnya ialah perubahan teknologi dan kebijakan penurunan biaya transpor dan komunikasi serta ketergantungan yang bertambah besar terhadap kekuatan pasar. Globalisasi ekonomi yang didiskusikan di sini punya konsekuensi (dan prasyarat) kultural, sosial, dan politik.

















DAFTAR KEPUSTAKAAN

Anthony Giddens, The Third Way; The Renewal of Social Democracy, Malden, Massachusetts, Polity Press, 1999.

Anne O.Krueger, Traiding Phobias, Governments, NGOs and The Multilateral System, Jhon Bonython Lecture, 10 Oktober 2000

Berger dan Hutingthon, Many Globalization, Culture Diversity in the Contemporary World, Oxford University Press, 2002.

David Henderson, The MAI Affair; A Story and its Leassons, London, Royal Institute of International Affairs, 1999.
Martin Wolf, Globalisasi Jalan Menuju Kesejahteraan, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2007.

Oaul Hirst dan Grahame Thompson, Globalization in Quetion; The International Economy and the posibilities of Governance, Cambridge, Polity Press, 1999.

Peter L.Berger, Four Faces of Global Culture, National Interest, 1997.

Thomas Friedman, The Lexus and The Olive Tree, London, HarperCollins, 2006

0 komentar:

Posting Komentar