Web Support Moment Indonesia

Sehat,cantik dan dibayar Mahal hanya ada di Bisnis moment yuk segera gabung bersama kami.

Web Support Moment Indonesia

Sehat,cantik dan dibayar Mahal hanya ada di Bisnis moment yuk segera gabung bersama kami.

Web Support Moment Indonesia

Sehat,cantik dan dibayar Mahal hanya ada di Bisnis moment yuk segera gabung bersama kami.

Web Support Moment Indonesia

Sehat,cantik dan dibayar Mahal hanya ada di Bisnis moment yuk segera gabung bersama kami.

Selamat Datang di MomentDina.com.

Web ini adalah web support bagi para Member2 yang ingin mengembangkan Bisnis moment secara Online dan Offline, Untuk mempermudah Anda dalam mengenalkan Bisnis Moment Beserta Produk Berkualitas Internasional kepada calon Member dan rekan Bisnis Anda. Kami memiliki 2 web support untuk para member yg join dibawah jaringan kami, Web replika ( web product )Yang akan kami bagikan kepada anda yg join Platinum ( 7 BA ), Why platinum ??..Sedangkan di tempat lain, join silver ( 1 BA ) atau Gold ( 3 BA ) saja sudah dapat web ??.. Karena kami Fokus sama orang yg benar2 mau sukses besar2an dan Punya niat besar buat Sukses, dan standarisasi kami dan semua member kami Join Platinum.. Karena PERCAYALAH.. Member2 yg incomenya 100 juta ke atas, semua join Platinum.. Web support ini adalah web hidup dan aktif jadi isinya akan selalu terupdate.

Fanspage

FREE ONGKIR SELURUH INDONESIA KHUSUS MEMBER DI BAWAH JARINGAN SAYA

Minggu, 20 Juni 2010

Uu hak cipta

1.1 Latar Belakang
Hak cipta (lambang internasional: ©) adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu. Pada dasarnya, hak cipta merupakan "hak untuk menyalin suatu ciptaan". Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan. Pada umumnya pula, hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas.
Hak cipta berlaku pada berbagai jenis karya seni atau karya cipta atau "ciptaan". Ciptaan tersebut dapat mencakup puisi, drama, serta karya tulis lainnya, film, karya-karya koreografis (tari, balet, dan sebagainya), komposisi musik, rekaman suara, lukisan, gambar, patung, foto, perangkat lunak komputer, siaran radio dan televisi, dan (dalam yurisdiksi tertentu) desain industri.

Hak cipta merupakan salah satu jenis hak kekayaan intelektual, namun hak cipta berbeda secara mencolok dari hak kekayaan intelektual lainnya (seperti paten, yang memberikan hak monopoli atas penggunaan invensi), karena hak cipta bukan merupakan hak monopoli untuk melakukan sesuatu, melainkan hak untuk mencegah orang lain yang melakukannya.
Hukum yang mengatur hak cipta biasanya hanya mencakup ciptaan yang berupa perwujudan suatu gagasan tertentu dan tidak mencakup gagasan umum, konsep, fakta, gaya, atau teknik yang mungkin terwujud atau terwakili di dalam ciptaan tersebut. Sebagai contoh, hak cipta yang berkaitan dengan tokoh kartun Miki Tikus melarang pihak yang tidak berhak menyebarkan salinan kartun tersebut atau menciptakan karya yang meniru tokoh tikus tertentu ciptaan Walt Disney tersebut, namun tidak melarang penciptaan atau karya seni lain mengenai tokoh tikus secara umum.
Di Indonesia, masalah hak cipta diatur dalam Undang-undang Hak Cipta, yaitu, yang berlaku saat ini, Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002. Dalam undang-undang tersebut, pengertian hak cipta adalah "hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku" (pasal 1 butir 1).
1.2 Tujuan
Untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa Hak cipta itu perlu dilindungi oleh undang-undang dari orang yang memperbanyakkan hasil ciptanya seseorang. Karena apabila hasil cipta seseorang tidak dilindungi maka orang-orang seenak saja membajak atau memperbanyakkan hasil cipta karya seseorang.

1.3 Perumusan Masalah
1. Bagaimana Sejarah hak cipta di Indonesia
2. Menyebutkan Hak-hak yang tercakup dalam hak cipta
3. Bagaimana Cara Perolehan dan pelaksanaan hak cipta
4. Bagaimana mana Perkecualian dan batasan hak cipta
5. Bgaimana cara Pendaftaran hak cipta di Indonesia

BAB II
PERMASALAHAN

Seperti yang kita ketahui bahwa hak cipta, atau hasil cipta dan karya seseorang harus dilindungi oleh pemerintah yang harus di masukkan dalam peraturan undang-undang agar tidak terjadinya pembajakan oleh orang-orang yang mempebanyak hasil hak cipta seseorang.
Setiap hasil ciptaan harus mendapatkan hak cipta pada saat diciptakan, ciptaan tersebut harus memuat suatu "pemberitahuan hak cipta" (copyright notice). Pemberitahuan atau pesan tersebut terdiri atas sebuah huruf c di dalam lingkaran (yaitu lambang hak cipta, ©), atau kata "copyright", yang diikuti dengan tahun hak cipta dan nama pemegang hak cipta. Jika ciptaan tersebut telah dimodifikasi (misalnya dengan terbitnya edisi baru) dan hak ciptanya didaftarkan ulang, akan tertulis beberapa angka tahun. Bentuk pesan lain diperbolehkan bagi jenis ciptaan tertentu. Pemberitahuan hak cipta tersebut bertujuan untuk memberi tahu (calon) pengguna ciptaan bahwa ciptaan tersebut berhak cipta.









BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Sejarah hak cipta di Indonesia
Pada tahun 1958, Perdana Menteri Djuanda menyatakan Indonesia keluar dari Konvensi Bern agar para intelektual Indonesia bisa memanfaatkan hasil karya, cipta, dan karsa bangsa asing tanpa harus membayar royalti.
Pada tahun 1982, Pemerintah Indonesia mencabut pengaturan tentang hak cipta berdasarkan Auteurswet 1912 Staatsblad Nomor 600 tahun 1912 dan menetapkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta, yang merupakan undang-undang hak cipta yang pertama di Indonesia[1]. Undang-undang tersebut kemudian diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987, Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997, dan pada akhirnya dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 yang kini berlaku.
Perubahan undang-undang tersebut juga tak lepas dari peran Indonesia dalam pergaulan antarnegara. Pada tahun 1994, pemerintah meratifikasi pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization – WTO), yang mencakup pula Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Propertyrights - TRIPs ("Persetujuan tentang Aspek-aspek Dagang Hak Kekayaan Intelektual"). Ratifikasi tersebut diwujudkan dalam bentuk Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994. Pada tahun 1997, pemerintah meratifikasi kembali Konvensi Bern melalui Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1997 dan juga meratifikasi World Intellectual Property Organization Copyrights Treaty ("Perjanjian Hak Cipta WIPO") melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 1997[2].
3.2 Hak-hak yang tercakup dalam hak cipta
 Hak eksklusif
Beberapa hak eksklusif yang umumnya diberikan kepada pemegang hak cipta adalah hak untuk:
membuat salinan atau reproduksi ciptaan dan menjual hasil salinan tersebut (termasuk, pada umumnya, salinan elektronik),
mengimpor dan mengekspor ciptaan,
menciptakan karya turunan atau derivatif atas ciptaan (mengadaptasi ciptaan),
menampilkan atau memamerkan ciptaan di depan umum,
menjual atau mengalihkan hak eksklusif tersebut kepada orang atau pihak lain.
Yang dimaksud dengan "hak eksklusif" dalam hal ini adalah bahwa hanya pemegang hak ciptalah yang bebas melaksanakan hak cipta tersebut, sementara orang atau pihak lain dilarang melaksanakan hak cipta tersebut tanpa persetujuan pemegang hak cipta.
Konsep tersebut juga berlaku di Indonesia. Di Indonesia, hak eksklusif pemegang hak cipta termasuk "kegiatan menerjemahkan, mengadaptasi, mengaransemen, mengalihwujudkan, menjual, menyewakan, meminjamkan, mengimpor, memamerkan, mempertunjukkan kepada publik, menyiarkan, merekam, dan mengkomunikasikan ciptaan kepada publik melalui sarana apapun"[2].
Selain itu, dalam hukum yang berlaku di Indonesia diatur pula "hak terkait", yang berkaitan dengan hak cipta dan juga merupakan hak eksklusif, yang dimiliki oleh pelaku karya seni (yaitu pemusik, aktor, penari, dan sebagainya), produser rekaman suara, dan lembaga penyiaran untuk mengatur pemanfaatan hasil dokumentasi kegiatan seni yang dilakukan, direkam, atau disiarkan oleh mereka masing-masing (UU 19/2002 pasal 1 butir 9–12 dan bab VII). Sebagai contoh, seorang penyanyi berhak melarang pihak lain memperbanyak rekaman suara nyanyiannya.
Hak-hak eksklusif yang tercakup dalam hak cipta tersebut dapat dialihkan, misalnya dengan pewarisan atau perjanjian tertulis (UU 19/2002 pasal 3 dan 4). Pemilik hak cipta dapat pula mengizinkan pihak lain melakukan hak eksklusifnya tersebut dengan lisensi, dengan persyaratan tertentu (UU 19/2002 bab V).
 Hak ekonomi dan hak moral
Banyak negara mengakui adanya hak moral yang dimiliki pencipta suatu ciptaan, sesuai penggunaan Persetujuan TRIPs WTO (yang secara inter alia juga mensyaratkan penerapan bagian-bagian relevan Konvensi Bern). Secara umum, hak moral mencakup hak agar ciptaan tidak diubah atau dirusak tanpa persetujuan, dan hak untuk diakui sebagai pencipta ciptaan tersebut.
Hak cipta di Indonesia juga mengenal konsep "hak ekonomi" dan "hak moral". Hak ekonomi adalah hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas ciptaan, sedangkan hak moral adalah hak yang melekat pada diri pencipta atau pelaku (seni, rekaman, siaran) yang tidak dapat dihilangkan dengan alasan apa pun, walaupun hak cipta atau hak terkait telah dialihkan[2]. Contoh pelaksanaan hak moral adalah pencantuman nama pencipta pada ciptaan, walaupun misalnya hak cipta atas ciptaan tersebut sudah dijual untuk dimanfaatkan pihak lain. Hak moral diatur dalam pasal 24–26 Undang-undang Hak Cipta.
3.3 Cara Perolehan dan pelaksanaan hak cipta
Setiap negara menerapkan persyaratan yang berbeda untuk menentukan bagaimana dan bilamana suatu karya berhak mendapatkan hak cipta; di Inggris misalnya, suatu ciptaan harus mengandung faktor "keahlian, keaslian, dan usaha". Pada sistem yang juga berlaku berdasarkan Konvensi Bern, suatu hak cipta atas suatu ciptaan diperoleh tanpa perlu melalui pendaftaran resmi terlebih dahulu; bila gagasan ciptaan sudah terwujud dalam bentuk tertentu, misalnya pada medium tertentu (seperti lukisan, partitur lagu, foto, pita video, atau surat), pemegang hak cipta sudah berhak atas hak cipta tersebut. Namun demikian, walaupun suatu ciptaan tidak perlu didaftarkan dulu untuk melaksanakan hak cipta, pendaftaran ciptaan (sesuai dengan yang dimungkinkan oleh hukum yang berlaku pada yurisdiksi bersangkutan) memiliki keuntungan, yaitu sebagai bukti hak cipta yang sah.
Pemegang hak cipta bisa jadi adalah orang yang memperkerjakan pencipta dan bukan pencipta itu sendiri bila ciptaan tersebut dibuat dalam kaitannya dengan hubungan dinas. Prinsip ini umum berlaku; misalnya dalam hukum Inggris (Copyright Designs and Patents Act 1988) dan Indonesia (UU 19/2002 pasal 8). Dalam undang-undang yang berlaku di Indonesia, terdapat perbedaan penerapan prinsip tersebut antara lembaga pemerintah dan lembaga swasta.
 Ciptaan yang dapat dilindungi
Ciptaan yang dilindungi hak cipta di Indonesia dapat mencakup misalnya buku, program komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang diterbitkan, ceramah, kuliah, pidato, alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan, lagu atau musik dengan atau tanpa teks, drama, drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, pantomim, seni rupa dalam segala bentuk (seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan), arsitektur, peta, seni batik (dan karya tradisional lainnya seperti seni songket dan seni ikat), fotografi, sinematografi, dan tidak termasuk desain industri (yang dilindungi sebagai kekayaan intelektual tersendiri). Ciptaan hasil pengalihwujudan seperti terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai (misalnya buku yang berisi kumpulan karya tulis, himpunan lagu yang direkam dalam satu media, serta komposisi berbagai karya tari pilihan), dan database dilindungi sebagai ciptaan tersendiri tanpa mengurangi hak cipta atas ciptaan asli (UU 19/2002 pasal 12).
 Penanda hak cipta
Dalam yurisdiksi tertentu, agar suatu ciptaan seperti buku atau film mendapatkan hak cipta pada saat diciptakan, ciptaan tersebut harus memuat suatu "pemberitahuan hak cipta" (copyright notice). Pemberitahuan atau pesan tersebut terdiri atas sebuah huruf c di dalam lingkaran (yaitu lambang hak cipta, ©), atau kata "copyright", yang diikuti dengan tahun hak cipta dan nama pemegang hak cipta. Jika ciptaan tersebut telah dimodifikasi (misalnya dengan terbitnya edisi baru) dan hak ciptanya didaftarkan ulang, akan tertulis beberapa angka tahun. Bentuk pesan lain diperbolehkan bagi jenis ciptaan tertentu. Pemberitahuan hak cipta tersebut bertujuan untuk memberi tahu (calon) pengguna ciptaan bahwa ciptaan tersebut berhak cipta.
Pada perkembangannya, persyaratan tersebut kini umumnya tidak diwajibkan lagi, terutama bagi negara-negara anggota Konvensi Bern. Dengan perkecualian pada sejumlah kecil negara tertentu, persyaratan tersebut kini secara umum bersifat manasuka kecuali bagi ciptaan yang diciptakan sebelum negara bersangkutan menjadi anggota Konvensi Bern.
Lambang © merupakan lambang Unicode 00A9 dalam heksadesimal, dan dapat diketikkan dalam (X)HTML sebagai ©, ©, atau ©
 Jangka waktu perlindungan hak cipta
Hak cipta berlaku dalam jangka waktu berbeda-beda dalam yurisdiksi yang berbeda untuk jenis ciptaan yang berbeda. Masa berlaku tersebut juga dapat bergantung pada apakah ciptaan tersebut diterbitkan atau tidak diterbitkan. Di Amerika Serikat misalnya, masa berlaku hak cipta semua buku dan ciptaan lain yang diterbitkan sebelum tahun 1923 telah kadaluwarsa. Di kebanyakan negara di dunia, jangka waktu berlakunya hak cipta biasanya sepanjang hidup penciptanya ditambah 50 tahun, atau sepanjang hidup penciptanya ditambah 70 tahun. Secara umum, hak cipta tepat mulai habis masa berlakunya pada akhir tahun bersangkutan, dan bukan pada tanggal meninggalnya pencipta.

Di Indonesia, jangka waktu perlindungan hak cipta secara umum adalah sepanjang hidup penciptanya ditambah 50 tahun atau 50 tahun setelah pertama kali diumumkan atau dipublikasikan atau dibuat, kecuali 20 tahun setelah pertama kali disiarkan untuk karya siaran, atau tanpa batas waktu untuk hak moral pencantuman nama pencipta pada ciptaan dan untuk hak cipta yang dipegang oleh Negara atas folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama (UU 19/2002 bab III dan pasal 50).
 Penegakan hukum atas hak cipta

Pemusnahan cakram padat (CD) bajakan di Brasil.
Penegakan hukum atas hak cipta biasanya dilakukan oleh pemegang hak cipta dalam hukum perdata, namun ada pula sisi hukum pidana. Sanksi pidana secara umum dikenakan kepada aktivitas pemalsuan yang serius, namun kini semakin lazim pada perkara-perkara lain.
Sanksi pidana atas pelanggaran hak cipta di Indonesia secara umum diancam hukuman penjara paling singkat satu bulan dan paling lama tujuh tahun yang dapat disertai maupun tidak disertai denda sejumlah paling sedikit satu juta rupiah dan paling banyak lima miliar rupiah, sementara ciptaan atau barang yang merupakan hasil tindak pidana hak cipta serta alat-alat yang digunakan untuk melakukan tindak pidana tersebut dirampas oleh Negara untuk dimusnahkan (UU 19/2002 bab XIII).


3.4 Perkecualian dan batasan hak cipta
Perkecualian hak cipta dalam hal ini berarti tidak berlakunya hak eksklusif yang diatur dalam hukum tentang hak cipta. Contoh perkecualian hak cipta adalah doktrin fair use atau fair dealing yang diterapkan pada beberapa negara yang memungkinkan perbanyakan ciptaan tanpa dianggap melanggar hak cipta.
Dalam Undang-undang Hak Cipta yang berlaku di Indonesia, beberapa hal diatur sebagai dianggap tidak melanggar hak cipta (pasal 14–18). Pemakaian ciptaan tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta apabila sumbernya disebut atau dicantumkan dengan jelas dan hal itu dilakukan terbatas untuk kegiatan yang bersifat nonkomersial termasuk untuk kegiatan sosial, misalnya, kegiatan dalam lingkup pendidikan dan ilmu pengetahuan, kegiatan penelitian dan pengembangan, dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari penciptanya. Kepentingan yang wajar dalam hal ini adalah "kepentingan yang didasarkan pada keseimbangan dalam menikmati manfaat ekonomi atas suatu ciptaan". Termasuk dalam pengertian ini adalah pengambilan ciptaan untuk pertunjukan atau pementasan yang tidak dikenakan bayaran. Khusus untuk pengutipan karya tulis, penyebutan atau pencantuman sumber ciptaan yang dikutip harus dilakukan secara lengkap. Artinya, dengan mencantumkan sekurang-kurangnya nama pencipta, judul atau nama ciptaan, dan nama penerbit jika ada. Selain itu, seorang pemilik (bukan pemegang hak cipta) program komputer dibolehkan membuat salinan atas program komputer yang dimilikinya, untuk dijadikan cadangan semata-mata untuk digunakan sendiri
Hak cipta foto umumnya dipegang fotografer, namun foto potret seseorang (atau beberapa orang) dilarang disebarluaskan bila bertentangan dengan kepentingan yang wajar dari orang yang dipotret. UU Hak Cipta Indonesia secara khusus mengatur hak cipta atas potret dalam pasal 19–23.
Selain itu, Undang-undang Hak Cipta juga mengatur hak pemerintah Indonesia untuk memanfaatkan atau mewajibkan pihak tertentu memperbanyak ciptaan berhak cipta demi kepentingan umum atau kepentingan nasional (pasal 16 dan 18), ataupun melarang penyebaran ciptaan "yang apabila diumumkan dapat merendahkan nilai-nilai keagamaan, ataupun menimbulkan masalah kesukuan atau ras, dapat menimbulkan gangguan atau bahaya terhadap pertahanan keamanan negara, bertentangan dengan norma kesusilaan umum yang berlaku dalam masyarakat, dan ketertiban umum" (pasal 17)[2].
Menurut UU No.19 Tahun 2002 pasal 13, tidak ada hak cipta atas hasil rapat terbuka lembaga-lembaga Negara, peraturan perundang-undangan, pidato kenegaraan atau pidato pejabat Pemerintah, putusan pengadilan atau penetapan hakim, ataupun keputusan badan arbitrase atau keputusan badan-badan sejenis lainnya (misalnya keputusan-keputusan yang memutuskan suatu sengketa). Di Amerika Serikat, semua dokumen pemerintah, tidak peduli tanggalnya, berada dalam domain umum, yaitu tidak berhak cipta.
Pasal 14 Undang-undang Hak Cipta mengatur bahwa penggunaan atau perbanyakan lambang Negara dan lagu kebangsaan menurut sifatnya yang asli tidaklah melanggar hak cipta. Demikian pula halnya dengan pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita, lembaga penyiaran, dan surat kabar atau sumber sejenis lain, dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap.
3.5 Pendaftaran hak cipta di Indonesia
Di Indonesia, pendaftaran ciptaan bukan merupakan suatu keharusan bagi pencipta atau pemegang hak cipta, dan timbulnya perlindungan suatu ciptaan dimulai sejak ciptaan itu ada atau terwujud dan bukan karena pendaftaran[2]. Namun demikian, surat pendaftaran ciptaan dapat dijadikan sebagai alat bukti awal di pengadilan apabila timbul sengketa di kemudian hari terhadap ciptaan[1]. Sesuai yang diatur pada bab IV Undang-undang Hak Cipta, pendaftaran hak cipta diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI), yang kini berada di bawah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Pencipta atau pemilik hak cipta dapat mendaftarkan langsung ciptaannya maupun melalui konsultan HKI. Permohonan pendaftaran hak cipta dikenakan biaya (UU 19/2002 pasal 37 ayat 2). Penjelasan prosedur dan formulir pendaftaran hak cipta dapat diperoleh di kantor maupun Ditjen HKI. "Daftar Umum Ciptaan" yang mencatat ciptaan-ciptaan terdaftar dikelola oleh Ditjen HKI dan dapat dilihat oleh setiap orang tanpa dikenai biaya.






BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pada tahun 1958, Perdana Menteri Djuanda menyatakan Indonesia keluar dari Konvensi Bern agar para intelektual Indonesia bisa memanfaatkan hasil karya, cipta, dan karsa bangsa asing tanpa harus membayar royalti.
Pada tahun 1982, Pemerintah Indonesia mencabut pengaturan tentang hak cipta berdasarkan Auteurswet 1912 Staatsblad Nomor 600 tahun 1912 dan menetapkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta, yang merupakan undang-undang hak cipta yang pertama di Indonesia[1]. Undang-undang tersebut kemudian diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987, Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997, dan pada akhirnya dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 yang kini berlaku.
Dalam hak cipta terdapat Hak-hak yang tercakup dalam hak cipta yakni:
 Hak eksklusif
 Hak ekonomi dan hak moral
Cara Perolehan dan pelaksanaan hak cipta meliputi:

 Ciptaan yang dapat dilindungi
 Penanda hak cipta
 Jangka waktu perlindungan hak cipta

Perkecualian dan batasan hak cipta
Perkecualian hak cipta dalam hal ini berarti tidak berlakunya hak eksklusif yang diatur dalam hukum tentang hak cipta. Contoh perkecualian hak cipta adalah doktrin fair use atau fair dealing yang diterapkan pada beberapa negara yang memungkinkan perbanyakan ciptaan tanpa dianggap melanggar hak cipta.
Dalam Undang-undang Hak Cipta yang berlaku di Indonesia, beberapa hal diatur sebagai dianggap tidak melanggar hak cipta (pasal 14–18). Pemakaian ciptaan tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta apabila sumbernya disebut atau dicantumkan dengan jelas dan hal itu dilakukan terbatas untuk kegiatan yang bersifat nonkomersial termasuk untuk kegiatan sosial, misalnya, kegiatan dalam lingkup pendidikan dan ilmu pengetahuan, kegiatan penelitian dan pengembangan, dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari penciptanya. Kepentingan yang wajar dalam hal ini adalah "kepentingan yang didasarkan pada keseimbangan dalam menikmati manfaat ekonomi atas suatu ciptaan". Termasuk dalam pengertian ini adalah pengambilan ciptaan untuk pertunjukan atau pementasan yang tidak dikenakan bayaran. Khusus untuk pengutipan karya tulis, penyebutan atau pencantuman sumber ciptaan yang dikutip harus dilakukan secara lengkap. Artinya, dengan mencantumkan sekurang-kurangnya nama pencipta, judul atau nama ciptaan, dan nama penerbit jika ada. Selain itu, seorang pemilik (bukan pemegang hak cipta) program komputer dibolehkan membuat salinan atas program komputer yang dimilikinya, untuk dijadikan cadangan semata-mata untuk digunakan sendiri
Hak cipta foto umumnya dipegang fotografer, namun foto potret seseorang (atau beberapa orang) dilarang disebarluaskan bila bertentangan dengan kepentingan yang wajar dari orang yang dipotret. UU Hak Cipta Indonesia secara khusus mengatur hak cipta atas potret dalam pasal 19–23.
Selain itu, Undang-undang Hak Cipta juga mengatur hak pemerintah Indonesia untuk memanfaatkan atau mewajibkan pihak tertentu memperbanyak ciptaan berhak cipta demi kepentingan umum atau kepentingan nasional (pasal 16 dan 18), ataupun melarang penyebaran ciptaan "yang apabila diumumkan dapat merendahkan nilai-nilai keagamaan, ataupun menimbulkan masalah kesukuan atau ras, dapat menimbulkan gangguan atau bahaya terhadap pertahanan keamanan negara, bertentangan dengan norma kesusilaan umum yang berlaku dalam masyarakat, dan ketertiban umum" (pasal 17)[2].
Menurut UU No.19 Tahun 2002 pasal 13, tidak ada hak cipta atas hasil rapat terbuka lembaga-lembaga Negara, peraturan perundang-undangan, pidato kenegaraan atau pidato pejabat Pemerintah, putusan pengadilan atau penetapan hakim, ataupun keputusan badan arbitrase atau keputusan badan-badan sejenis lainnya (misalnya keputusan-keputusan yang memutuskan suatu sengketa). Di Amerika Serikat, semua dokumen pemerintah, tidak peduli tanggalnya, berada dalam domain umum, yaitu tidak berhak cipta.
Pasal 14 Undang-undang Hak Cipta mengatur bahwa penggunaan atau perbanyakan lambang Negara dan lagu kebangsaan menurut sifatnya yang asli tidaklah melanggar hak cipta. Demikian pula halnya dengan pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita, lembaga penyiaran, dan surat kabar atau sumber sejenis lain, dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap.
Pendaftaran hak cipta di Indonesia
Di Indonesia, pendaftaran ciptaan bukan merupakan suatu keharusan bagi pencipta atau pemegang hak cipta, dan timbulnya perlindungan suatu ciptaan dimulai sejak ciptaan itu ada atau terwujud dan bukan karena pendaftaran[2]. Namun demikian, surat pendaftaran ciptaan dapat dijadikan sebagai alat bukti awal di pengadilan apabila timbul sengketa di kemudian hari terhadap ciptaan[1]. Sesuai yang diatur pada bab IV Undang-undang Hak Cipta, pendaftaran hak cipta diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI), yang kini berada di bawah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Pencipta atau pemilik hak cipta dapat mendaftarkan langsung ciptaannya maupun melalui konsultan HKI. Permohonan pendaftaran hak cipta dikenakan biaya (UU 19/2002 pasal 37 ayat 2). Penjelasan prosedur dan formulir pendaftaran hak cipta dapat diperoleh di kantor maupun Ditjen HKI. "Daftar Umum Ciptaan" yang mencatat ciptaan-ciptaan terdaftar dikelola oleh Ditjen HKI dan dapat dilihat oleh setiap orang tanpa dikenai biaya.

Aspek yang mempengaruhi hukum

ASPEK-ASPEK YANG MEMPENGARUHI HUKUM DI TINJAU DARI
SOSIAL BUDAYA KEMASYARAKATAN
(Suatu Tinjauan Terhadap Sosiologi Hukum Kemasyarakatan)
Oleh :
Syarifuddin

A. PENDAHULUAN
Menurut Achmad Ali sebenarnya tidak perlu mempersoalkan tentang bagaimana hukum menyesuaikan diri dengan perubahan masyarakat, dan bagaimana hukum menjadi penggerak ke arah perubahan masyarakat. Juga tidak perlu ngotot mana yang lebih dahulu, apakah hukum yang lebih dahulu baru diikuti oleh faktor lain, ataukah faktor lain dulu baru hukum ikut-ikutan menggerakkan perubahan itu. Yang penting, bagaimana pun kenyataannya hukum dapat ikut serta (sebagai pertama atau kedua atau ke berapa pun tidak menjadi soal) dalam menggerakkan perubahan. Kenyataannya, di mana pun dalam kegiatan perubahan hukum, hukum telah berperan dalam perubahan tersebut dan hukum telah berperan dalam mengarahkan masyarakat kepada kehidupan yang lebih baik.
Hukum dalam konsep law as a tool social engineering sebagaimana yang dikemukakan Roscoe Pound , hukum harus menjadi faktor penggerak ke arah perubahan masyarakat yang lebih baik daripada sebelumnya. Fungsi hukum pada setiap masyarakat (kecuali masyarakat totaliter) ditentukan dan dibatasi oleh kebutuhan untuk menyeimbangkan antara stabilitas hukum dan kepastian terhadap perkembangan hukum sebagai alat evolusi sosial. Oleh karena itu, dalam perubahan ini hendaknya harus direncanakan dengan baik dan terarah, sehingga tujuan dari perubahan itu dapat tercapai.
Erat hubungannya dengan usaha untuk pembaruan hukum ini, konsep law as a tool of social engineering telah mengilhami pemikiran Mochtar Kusumaatmadja untuk dikembangkan di Indonesia. Mochtar Kusumaatmadja mengatakan bahwa konsep ini di Indonesia sudah dilaksanakan dengan asas "hukum sebagai wahana pembaruan masyarakat" jauh sebelum konsep ini dirumuskan secara resmi sebagai landasan kebijaksanaan hukum sehingga rumusan itu merupakan perumusan pengalaman masyarakat dan bangsa Indonesia menurut sejarah. Bahkan lewat budaya bangsa Indonesia misalnya dirumuskan dengan pepatah-pepatah yang menggambarkan alam pikiran hukum adat yang telah diakui dan dapat menerima adanya pembaruan hukum.
Perubahan hukum yang dilaksanakan baik melalui konsep masyarakat berubah dulu baru hukum datang untuk mengaturnya, maupun yang dilaksanakan melalui konsep law as tool social engineering mempunyai tujuan untuk membentuk dan memfungsikan sistem hukum Nasional yang bersumber pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Perubahan hukum yang dilaksanakan itu harus memerhatikan dengan sungguh-sungguh tentang kemajemukan tata hukum yang berlaku dengan tujuan untuk mewujudkan ketertiban, ketenteraman, mampu menjamin kepastian hukum, dapat mengayomi masyarakat yang berintikan keadilan dan kebenaran. Oleh karena itu, pembahan hukum itu hendaknya dilaksanakan secara komprehensif yang meliputi lembaga-lembaga hukum, peraturan-peraturan hukum dan juga harus memerhatikan kesadaran hukum masyarakat. Untuk itu perlu dilakukan pembinaan secara terus-menerus terhadap semua aparatur hukum, sarana dan prasarana hukum, serta segenap peraturan hukum yang diskriminatif.


B. PERMASALAHAN
Pertanyaan yang sudah semestinya dijawab didalam penulisan makalah ini adalah apa sajakah aspek-aspek yang mempengaruhi hukum di tinjau dari sosial budaya kemasyarakatan?

C. PEMBAHASAN
Adapun yang menjadi aspek yang mempengaruhi hukum di tinjau dari sosial budaya kemasyarakatan adalah sebagai berikut :
1. Stratifikasi Sosial
Kata stratifikasi sosial berasal dari bahasa Inggris dari kata "stratification", asal katanya "statum", jamaknya "strata" yang berarti "lapisan". Sedangkan yang dimaksud dengan stratifikasi sosial atau social stratification adalah pembedaan penduduk dalam kelas-kelas atau lapisan-lapisan sosial secara vertikal . Muhammad Abduh dengan mengutip pendapat Pitirim A. Sorokim mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sistem berlapis-lapis itu merupakan ciri tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup secara teratur dan inilah yang disebut dengan stratifikasi sosial.
Dasar dan inti dari lapisan-lapisan yang terdapat dalam masyarakat itu adalah ketidakseimbangan dalam pembagian hak-hak dan kewajiban serta tanggung jawab terhadap nilai-nilai sosial dan pengaruhnya di antara anggota masyarakat. Pada masyarakat yang kebudayaannya masih sederhana lapisan masyarakat pada mulanya hanya berkisar pada perbedaan antara yang memimpin dengan yang dipimpin. Kemudian ketika masyarakat sudah berkembang sedemikian rupa, maka lapisan-lapisan dalam masyarakat itu memasuki ke sektor lain, misalnya status seseorang karena ia kaya, mempunyai kepandaian tertentu sehingga ia ditokohkan dalam kelompoknya. Akibat dari stratifikasi sosial ini adalah timbulnya kelas-kelas sosial tertentu dalam masyarakat yang dihargai oleh masyarakat tersebut, sebaliknya ada juga masyarakat yang tidak menghargai lapisan-lapisan tersebut karena mereka menganggap sesuatu yang dimiliki oleh seseorang tidak mempunyai nilai berarti baginya.
Selama dalam suatu masyarakat ada sesuatu yang dapat dihargainya, maka hal itu akan menjadi bibit yang dapat menumbuhkan adanya sistem berlapis-lapis dalam masyarakat itu. Barang sesuatu yang dihargai itu mungkin juga keturunan dari keluarga yang terhormat. Bagi masyarakat yang tidak mempunyai sesuatu yang berharga dari hal tersebut itu, ada kemungkinan masyarakat lain memandang sebagai masyarakat dengan kedudukan yang rendah. Sesuatu yang berharga atau tidak berharga ini akan membentuk lapisan masyarakat, yaitu adanya masyarakat lapisan atas, lapisan bawah yang jumlahnya ditentukan oleh masyarakat itu sendiri. Lapisan dalam masyarakat ini selalu ada yang jumlahnya banyak sekali dan berbeda-beda, sekalipun dalam masyarakat kapitalis, demokratis, komunis dan sebagainya. Lapisan masyarakat itu ada sejak manusia mengenal adanya kehidupan bersama dalam organisasi sosial. Semakin kompleks dan semakin majunya perkembangan teknologi sesuatu masyarakat, semakin kompleks pula sistem lapisan dalam masyarakat .
Terjadinya sistem berlapis-lapis dalam masyarakat adakalanya terbentuk dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu seperti tingkat umur, kepandaian, dan kekayaan. Ada pula yang sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama, hal ini biasanya berkaitan dengan pembagian kekuasaan dan wewenang secara resmi dalam organisasi-organisasi formal seperti pemerintahan, perusahaan, partai politik angkatan bersenjata atau perkumpulan. Dari kelompok-kelompok sosial inilah dapat dimulainya perbuatan yang berasal dari persamaan dan perbedaan dalam cara pandang terhadap satu peristiwa, keadaan, situasi, dan lingkungan tempat mereka tinggal yang memengaruhi kehidupan mereka dari keadaan ini pula yang dapat memengaruhi adanya suatu perubahan produk hukum.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi ukuran atau kriteria yang biasa dipakai untuk menggolongkan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan adalah pertama: ukuran kekayaan atau kebendaan, siapa yang memiliki kekayaan atau kebendaan yang paling banyak mempunyai peluang untuk memasuki ke dalam lapisan yang paling atas, misalnya dapat dilihat pada bentuk rumah, mobil, gaya hidup yang dimiliki seseorang, kedua: ukuran kehormatan, biasanya ukuran ini terlepas dari ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang yang paling disegani dan dihormati akan mendapat tempat teratas dalam kelompoknya dan ukuran seperti ini dapat ditemukan pada kelompok masyarakat tradisional, ketiga: ukuran kekuasa¬an, barangsiapa yang memiliki kekuasaan atau mempunyai wewenang yang besar, ia akan menempati lapisan yang teratas, keernpat: ukuran ilmu pengetahuan, dalam kriteria ini ilmu pengetahuan menjadi ukuran utama untuk menempatkan seseorang pada lapisan yang tertiriggi. Tentang hal ini sekarang sudah mempunyai banyak menimbulkan efek negatif, sebab ternyata bukan mutu ilmu pengetahuan yang dijadikan ukuran, akan tetapi ukuran kesarjanaannya, pada hal orang tersebut tidak mempunyai kepintaran sesuai dengan kesarjanaan yang dimilikinya, karena memperolehnya tidak melalui prosedur normal yang ditentukan.
Ukuran tersebut di atas tidaklah bersifat limitatif, sebab masih banyak ukuran lain yang dapat dijadikan kriteria dan ukuran dalam menentukan lapisan-Iapisan dalam masyarakat. Akan tetapi ukuran dan kriteria yang disebut di sini merupakan ukuran dan kriteria yang paling menonjol dalam lahirnya lapisan-lapisan dalam kehidupan dalam masyarakat. Selain daripada itu, ada faktor lain yang juga menentukan dalam mewujudkan sistem berlapis-lapis dalam kehidupan masyarakat yaitu kedudukan (status) dan peranan (role). Kedua hal ini mempunyai arti penting dalam sistem sosial masyarakat karena kedua hal tersebut merupakan pola yang mengatur hubungan timbal balik antara individu-individu dalam masyarakat dan mengatur tingkah laku antara individu-individu tersebut supaya tidak saling bertabrakan satu dengan yang lain. Dalam kaitan hubungan timbal balik ini, kedudukan dan peran harus dapat berfungsi secara baik karena langgengnya kehidupan masyarakat itu harus ada keseimbangan antara kepentingan-kepentingan individu yang tumbuh dalam masyarakat. Agar hal ini dapat berjalan dengan baik, maka diperlukan hukum yang mengaturnya dan oleh karena itu jika hukum yang lama itu sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi masa tersebut maka harus diadakan pembaruan dan disesuaikan dengan kondisi zaman.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa dinamika dalam stratifikasi sosial ditandai dengan adanya lapisan-Iapisan dalam kehidupan masyarakat yang tidak statis. Setiap kelompok masyarakat pasti mengalami perkembangan dan perubahan, yang membedakannya adalah dalam cara perubahan itu, yaitu ada yang perubahan itu terjadi sangat lambat dan ada pula yang perubahannya yang sangat cepat, ada yang direncanakan dan ada pula yang tidak direncanakan, ada pula perubahan itu dikehendaki dan ada pula yang tidak direncanakan, ada pula perubahan itu dikehendaki dan ada pula yang tidak dikehendaki. Pada umumnya perubahan itu terjadi sebagai akibat pengaruh reformasi dari pola-pola yang ada dalam
2. Pengaruh Budaya Luar
Kata budaya dalam bahasa Inggris disebut "culture" yang berarti kebudayaan. Kata "kebudayaan" berasal dari kata Sansekerta yang asal katanya "buddhayah" yang merupakan bentuk jamak dari kata "buddhi" yang berarti budi atau akal. Secara harfiah kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal atau hasil karya, rasa dan cipta manusia. Menurut Hasan Shadilly kebudayaan adalah keseluruhan dari hasil karya manusia dalam hidup bermasyarakat yang berisi aksi-aksi manusia yang berupa kepandaian, kepercayaan, kesenian, moral hukum, adat istiadat dan lain-lain kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Kebudayaan sebagai hasil dari cipta karsa dan rasa manusia mempunyai tingkatan yang berbeda-beda antara kebudayaan di tempat tertentu dengan kebudayaan di tempat lain, di tempat tertentu kemungkinan terdapat kebudayaan yang lebih sempurna dibandingkan dengan kebudayaan di tempat lain. Hal ini tergantung dari bagaimana reaksi kebudayaan setempat dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar yang dapat mengubah sistem dan pandangan kebudayaannya. Kebudayaan yang sudah maju sering juga disebut dengan "peradaban" yang dalam bahasa Inggris disebut "civilization" yakni istilah yang sering dipakai untuk menyebut kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, ilmu pengetahuan, seni bangunan, seni rupa dan sistem kenegaraan, masyarakat kota yang maju dan kompleks. Istilah peradaban juga sering dipergunakan untuk menyebutkan bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus, indah, cantik dan maju seperti kesenian, ilmu pengetahuan, adat dan sopan santun, kepandaian menulis, susunan organisasi pemerintahan yang baik, sistem kehidupan yang mapan dan sebagainya.
Unsur-unsur kebudayaan dalam masyarakat terdiri dari unsur yang besar dan unsur yang kecil. Unsur-unsur ini merupakan bagian dari kesatuan yang bulat yang bersifat utuh. Dalam hal ini Koentjaraningrat menyebutkan tujuh macam unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia, yaitu bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian untuk kehidupan, sistem religi dan kesenian. Sedangkan Bronislaw Malirowski menyebutkan empat macam unsur-unsur pokok dari kebudayaan yaitu pertama: sistem norma-norma yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat agar menguasai alam sekelilingnya, kedua: terdapatnya organisasi ekonomi yang baik, ketiga mempunyai alat-alat, lembaga-lembaga dan petugas-petugas untuk penyelenggaraan pendidikan, termasuk juga lembaga pelndidikan yang utama yaitu keluarga, keempat: organisasi kekuatan dalam masyarakat.
Setiap masyarakat mempunyai kebudayaan yang masing-masing berbeda satu dengan yang lainnya, namun setiap kebudayaan mempunyai sifat dan hakikat yang berlaku umum bagi semua kebudayaan yang ada di dunia ini. Adapun sifat dan hakikat yang berlaku umum tersebut antara lain pertama: kebudayaan itu terwujud dan tersalurkan dari perilaku manusia, kedua: kebudayaan itu telah ada terlebih dahulu daripada lahirnya suatu generasi tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan, ketiga: kebudayaan itu diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya, keempat: kebudayaan itu mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang diizinkan.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas dapat dipahami bahwa sifat dan hakikat dari kebudayaan itu adalah sikap dan tingkah laku manusia yang selalu dinamis, bergerak dan beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara melakukan hubungan-hubungan dengan manusia lainnya, atau dengan cara terjadinya hubungan antarkelompok dalam masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan mengapa setiap produk hukum yang dibuat dalam rangka memberi ketertiban dan kenyamanan dalam kehidupan masyarakat harus melihat dan mengikuti kebudayaan masyarakat di mana hukum tersebut akan diterapkan. Agar hukum itu harus melihat kepada budaya dan hukum-hukum yang telah ada dalam masyarakat tersebut. Hukum tidak akan berlaku secara efektif apabila dipaksakan berlaku kepada masyarakat, padahal hukum tersebut bertentangan dengan budaya yang hidup dalam masyarakat tersebut
Dalam kaitannya dengan kehidupan suatu masyarakat di mana hidup sebagai warga negara, maka tidak dapat dielakkan bahwa kehidupannya akan tersentuh dengan kehidupan bangsa lain, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Dengan demikian budaya suatu masyarakat akan bersentuhan dengan budaya masyarakat luar di luar wilayah negaranya. Apabila hubungan tersebut berlangsung lama dan terus-menerus, maka bukan suatu hal yang mustahil budaya bangsa luar itu lambat laun diserap dalam budaya masyarakat yang bersangkutan dengan tanpa dan atau dapat menyebabkan hilangnya kepribadian dari masyarakat itu sendiri. Adanya kontak budaya suatu masyarakat dengan budaya di luar masyarakat itu menimbulkan beberapa masalah antara lain unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang mudah diterima dan sulit diterima, individu-individu yang dapat menerima unsur-unsur yang baru dan masalah ketegangan-ketegangan sebagai akibat kontak budaya tersebut.
Pada umumnya masuknya teknologi asing sebagai unsur dari kebudayaan luar merupakan hal yang paling dapat diterima oleh masyarakat, sedangkan unsur-unsur yang menyangkut sistem kepercayaan seperti ideologi, falsafah hidup atau nilai-nilai luhur merupakan hal yang sangat sulit bisa diterima oleh suatu masyarakat. Kalau terpaksa harus diterima karena ada tekanan baik secara langsung maupun tidak langsung, maka cara yang dipergunakan adalah dengan menerima kebudayaan itu dan mengolahnya sedemikian rupanya dan mengadaptasikan ke dalam produk-produk hukum yang dibuat oleh suatu negara, meskipun ada ketidakpuasan terhadap produk-produk hukum tersebut.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat diketahui bahwa adanya kontak budaya suatu kelompok sosial (masyarakat) dalam suatu negara, maka akan memengaruhi terjadinya suatu pembentukan dan perubahan produk hukum di negara tersebut. Agar gerak dan kontak budaya tersebut dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan dapat menghasilkan integrasi antara unsur-unsur kebudayaan asing dengan kebudayaan sendiri dari masyarakat penerima, maka masyarakat penerima harus menyesuaikan pengaruh asing yang datang itu dengan kesadaran hukum dari masyarakat itu sendiri.

3. Kejenuhan Terhadap Sistem yang Mapan
Pada dasarnya masyarakat memiliki kecenderungan untuk memberikan penilaian terhadap hukum yang berlaku dan kepada norma-norma yang hidup dalam masyarakat. Norma hukum selalu dijadikan pedoman dan ukuran dalam pergaulan hidup masyarakat untuk mencapai kestabilan dan ketenteraman, sehingga kepentingan individu yang beraneka ragam macamnya dapat diselaraskan satu sama lain. Tetapi adakalanya di dalam penilaian anggota masyarakat tersebut dijumpai ketidak¬puasan terhadap nilai-nilai dan hukum yang sudah mapan.
Hal ini menyebabkan keinginan untuk mengadakan perubahan-perubahan dan hal ini merupakan suatu hal yang wajar sebab kehidupan manusia dalam suatu kelompok sosial selalu cenderung dinamis, berkembang sesuai dengan kondisi zaman.
Wujud kejenuhan masyarakat biasa terjelma dalam bidang "kekuasaan dan wewenang" yang ada dalam masyarakat. Hal ini merupakan hal yang wajar sebab kekuasaan dan wewenang itu mempunyai peranan yang dapat menentukan nasib berjuta-juta umat manusia. Kekuasaan adalah suatu kemampuan untuk memengaruhi pihak lain menurut kehendak yang ada pada pemegang kekuasaan .
Kewenangan dapat efektif apabila didukung dengan kekuasaan yang nyata, namun sering kali terjadi antara kekuasa¬an dan wewenang tidak berada dalam satu tangan, sehingga antara keduanya tidak berjalan secara seimbang dalam mencapai tujan organisasi. Dalam kelompok masyarakat yang kecil dan susunannya sederhana, pada umumnya kekuasaan dipegang oleh seseorang atau sekelompok orang yang menguasai berbagai macam bidang keahlian, sehingga apabila kekuasaan tersebut dipegang oleh seseorang terlalu lama, maka ada anggapan pemegang kekuasaan itu adalah "penguasa". Dalam kelompok sosial masyarakat yang lebih besar dengan susunannya lebih kompleks, di mana tampak adanya berbagai golongan yang sifat dan tujuan hidupnya berbeda-beda dan kepentingan tidak selalu sesuai satu sama lainnya, maka kekuasaan biasanya terbagi kepada beberapa golongan, sehingga terdapat perbedaan dan pemisahan yang nyata dari kekuasaan politik, militer, ekonomi, agama dan sebagainya. Adanya kekuasaan yang terbagi itu tampak jelas dalam masyarakat yang menganut dan melaksanakan demokrasi secara luas.
Adanya kekuasaan dan wewenang pada setiap masyarakat, merupakan suatu gejala yang normal dalam kehidupan sosial masyarakat, walaupun wujudnya kadang-kadang tidak disukai oleh masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu pada setiap masyarakat diperlukan daya perekat dan pemersatu yang menjelma dalam hati sanubari seseorang atau sekelompok orang-orang yang memilih kekuasaan dan wewenang yang sekaligus dapat mempertahankan integritas masyarakat tersebut. Jika suatu sistem dalam suatu negara bersifat statis karena dianggapnya sistem tersebut sudah cocok untuk diterapkan dalam suatu negara, sedangkan masyarakat dalam negara itu sudah tidak menghendaki lagi sebab sosial budayanya sudah berubah seiring dengan berubahnya zaman, maka sudah sewajarnya pula kekuasaan dan wewenang itu ditinjau kembali dan ditata kembali sesuai dengan budaya hukum yang hidup dalam masyarakat.
Wujud ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentu dapat terefleksi dengan adanya upaya untuk menembus nilai-nilai yang sudah mapan, dan keinginan untuk mengubah sistem nilai yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Gejolak sosial yang timbul pada kondisi masyarakat dewasa ini dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya adalah dengan cara unjuk rasa (demonstrasi). Hal ini timbul diakibatkan aspirasi masyarakat lapisan bawah tidak diperhatikan oleh penguasa.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa kekuasaan dan wewenang yang dipegang oleh seseorang dalam waktu yang terlalu lama dalam kehidupan sosial masyarakat, maka akan menimbulkan kejenuhan dalam kehidupan organisasi yang pada akhirnya akan menimbulkan gejolak dalam kehidupan masyarakat. Apabila hal ini terjadi maka pihak-pihak yang berwenang harus mencari jalan yang terbaik untuk mencari solusi pemecahannya. Salah satu jalan yang terbaik adalah mengadakan reformasi hukum dan memfungsikan sebagai alat untuk merekayasa masyarakat dalam mencapai ketertiban, ketenteraman dan keadilan dalam kehidupan bersama. Di sini hukum harus dilihat sebagai lembaga kemasyarakatan yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial dalam kehidupan bersama sebagai suatu bangsa dalam suatu negara.
4. Menipisnya Kepercayaan Masyarakat Terhadap Hukum
Suatu negara dikatakan sebagai negara hukum apabila unsur supremasi hukum dijadikan sebagai landasan penyelenggaraan negara termasuk memelihara dan melindungi hak-hak warga negaranya. John Locke menyatakan bahwa untuk mendirikan suatu negara hukum yang menghargai hak-hak warga negara harus berisi tiga unsur penting, yaitu adanya hukum yang mengatur bagaimana anggota masyarakat dapat menikmati hak asasinya dengan damai, adanya suatu badan yang dapat menyelesaikan sengketa yang timbul antara pemerintah (vertical dispute) atau sesama anggota masyarakat (horizontal dispute). Masyarakat menurutnya, tidak lagi diperintahkan berdasarkan diktator atau siapa pun tetapi diperintahkan berdasarkan hukum. Inti dari gagasan John Locke ini mengisyaratkan bahwa penghormatan terhadap supremasi hukum tercermin dari adanya hukum secara substantif (law an paper) dan kondisi hukum oleh badan-badan peradilan (law in action).
Suatu negara dapat dikatakan sebagai negara hukum apabila supremasi hukum sebagai landasan penyelenggaraan negara dijalankan tidak hanya sebatas hukum yang dibuat, tetapi bagaimana hukum tersebut dilaksanakan dengan baik. Di setiap negara, apabila di negara-negara berkembang, pembangunan digerakkan melalui instrumen-instrumen hukum yang dibuat. Hukum difungsikan sebagai alat legitimasi pemerintah dalam membuat berbagai kebijakan pembangunan. Dalam kaitannya dengan dinamika pembangunan suatu negara, tidak dapat tidak perubahan demi perubahan terus terjadi seiring dengan proses pembangunan tersebut, termasuk perubahan di bidang hukum.
Ada empat kriteria yang dapat dijadikan patokan untuk menentukan adanya supremasi hukum dalam suatu negara, yaitu pertama: hukum dibuat berdasarkan dan oleh kemauan rakyat, rakyat adalah sumber dan berperan dalam membuat hukum yang diperlukan, kedua: hukum dilaksanakan untuk kepentingan rakyat, bukan semata-mata untuk kepentingan penguasa, rakyat adalah subjek dari hukum bukan objek dari hukum, ketiga: kekuasaan pemerintah harus tunduk pada hukum, dan setiap kekuasaan harus diikuti oleh sistem pertanggungjawaban, keernpat: ada jaminan terhadap hak-hak asasi manusia, baik hak sipil maupun hak politik sosial kemasyarakatan .
Bagir Manan mengemukakan bahwa supremasi hukum dalam suatu negara dapat ditegakkan kalau adanya peraturan yang dibuat oleh pejabat yang berwenang sesuai yang diatur oleh peraturan yang berlaku, harus ada sarana dan prasarana yang memadai, kesadaran hukum masyarakat terhadap hukum yang dibuat itu harus baik dan aparat penegak hukum yang profesional, intelektual, dan bermoral, serta adanya check and balance antara lembaga negara, baik secara vertikal maupun secara horizontal.
Keadaan sebagaimana tersebut di atas dapat terlaksana dengan baik jika masyarakat taat dan patuh kepada hukum. Menurut By. Franz Von Benda-Bechmann orang patuh dan taat kepada hukum karena beberapa hal, antara lain pertama: compliance, yakni takut terhadap sanksi yang akan dikenakan apabila mereka melanggarnya, kedua: identification, yakni mereka patuh karena kepentingannya dijamin oleh hukum, ketiga: internalization, yakni mereka merasa hukum yang berlaku sesuai dengan nilai-nilai yang ada pada dirinya, keempat: kepentingan warga dijamin oleh hukum yang baru dibuat itu. Menurut Lili Rasyidi apabila dilihat dari segi teori kedaulatan hukum, masyarakat patuh dan taat kepada hukum bukan karena negara menghendakinya, tetapi karena hukum itu merupakan perumusan dari kesadaran hukum masyarakat. Berlakunya hukum secara efektif karena nilai bathin yang terdapat dalam individu masyarakat itu menjelma di dalam hukum itu. Hukum yang berlaku itu dapat menjamin ketenteraman dan kedamaian dalam kehidupan masyarakat tersebut.
Orang tidak taat dan patuh kepada hukum tentu saja bertentangan dengan hal-hal tersebut di atas. Selain dari itu, masyarakat tidak taat kepada hukum karena hukum dianggap tidak lagi memihak kepada masyarakat tetapi lebih memihak kepada penguasa. Untuk memperoleh keadilan dirasakan terlalu mahal, sebab asas sederhana, cepat dan biaya ringan dalam penyelesaian suatu perkara di Pengadilan dianggap hanya semboyan belaka. Dalam hal penegakan hukum.
Masyarakat yang tidak taat dan patuh kepada hukum tentu saja mempunyai perilaku kebalikan dari hal-hal yang telah diuraikan di atas. Selain dari itu, masyarakat tidak lagi taat dan patuh kepada hukum, karena hukum dianggap oleh masyarakat tersebut tidak lagi memihak kepadanya, tetapi lebih memihak kepada penguasa atau elite yang lain. Mereka juga beranggapan bahwa mencari keadilan di negeri ini sangat sulit dan mahal, asas sederhana, cepat dan biaya ringan dalam penyelesaian suatu perkara di Pengadilan merupakan semboyan belaka. Dalam penegakan hukum, hanya orang-orang tertentu saja yang dapat dijerat oleh hukum, itu pun penjahat-penjahat kecil yang tidak begitu berpengaruh pada level nasional, sementera penjahat kakap hanya sedikit saja yang dapat dijerat oleh hukum, kebanyakan di antara mereka kabur ke luar negara dan tidak jelas rimbanya.
Ke semua fenomena tersebut di atas merupakan sebagian dari faktor-faktor yang telah memudarkan kepercayaan masyarakat terhadap hukum dan semua atributnya (pembuat, penegak, dan simbol-simbol hukum), serta juga mereduksi kepastian hukum sebagai suatu pilar yang melandasi tegaknya hukum di mana pun. Hukum yang baik adalah hukum yang mampu menampung dan membagi keadilan pada orang-orang yang akan diaturnya. Namun sudah sejak lama orang mempunyai keraguan atas hukum yang dibuat oleh manusia. Enam ratus tahun Sebelum Masehi, Anarchasis menulis bahwa hukum sering kali berlaku sebagai sarang laba-laba, yang hanya menangkap the weak and the poor, but easily be broken by the mighty and rich.... John Locke juga telah memperingatkan bahwa "wherever law ends, tyranny begins". Berdasarkan hal inilah maka jelas bahwa hukum yang berlaku mencerminkan ideologi, kepedulian, dan keterikatan pemerintah pada rakyatnya, tidak semata-mata merupakan hukum yang diinginkan rakyat untuk mengaturnya.
Apabila telah terjadi kesenjangan antara hukum dengan keadaan berarti hukum berjalan sudah tidak efektif lagi, oleh karena itu harus segera diadakan perubahan.







D. KESIMPULAN
Faktor-faktor yang memengaruhi terjadi perubahan hukum dalam suatu negara dapat berasal dari dalam negeri (internal) yakni adanya suatu perubahan yang cepat dan radikal sehingga memengaruhi seluruh sistem hukum yang sedang berjalan, dapat pula berasal dari pengaruh luar (eksternal) yang memengaruhi sistem hukum nasional yakni adanya keharusan suatu negara untuk menyesuaikan hukum nasionalnya dengan hukum Internasional. Dalam konteks perubahan hukum yang terjadi di Indonesia, kedua faktor ini secara bersamaan telah memengaruhi keseluruhan sistem hukum yang ada dan mengharuskan hukum (termasuk peraturan perundang-undangan) diubah dan bahkan dibuat untuk disesuaikan dengan kondisi yang terjadi, demikian juga sebagai bagian dari anggota masya¬rakat Internasional. Indonesia tidak dapat mengabaikan hukum Internasional yang telah disepakati dan sebagai konsekuensinya Indonesia harus melakukan harmonisasi terhadap hukum nasional yang telah ada.









DAFTAR PUSTAKA
Abdul Manan, Aspek-Aspek Pengubah Hukum, Kencana, Jakarta, 2005
Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum; Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis, Chandra Pratama, Jakarta, 1996
Bagir Manan, Sistem Peradilan Berwibawa ; Suatu Pencarian, Mahkamah Agung RI, 2004
Hasan Sadilly, Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia, Rineka Cipta, Jakarta, 1993
John Locke, Second Treatise of Goverment, 1690
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Aksara Baru, Jakarta, 1983
Lili Rasyidi, Dasar-Dasar Filsafat Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1990
Mochtar Kusumaatmadja, Fungsi dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan Nasional, Bina Cipta, Bandung, 1970
Muhammad Abduh, Pengantar Sosiologi, Fakultas Hukum USU, Medan, 1984
Roescoe Pound, Pengantar Filsafat Hukum, Bharatara, Jakarta, 1972
Soejono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1999

contoh kasus pelanggaran HAM

Anak Buah Hasanudin Dituntut 20 Tahun Penjara

Jakarta - Setelah otak kasus mutilasi 3 siswi SMU Poso, Hasanudin, menjalani sidang tuntutan, kini giliran anak buahnya, Lilik Purnomo dan Irwanto Irano. Keduanya dituntut 20 tahun penjara. Tuntutan dibacakan secara bergantian oleh JPU Firmansyah dan Muji Raharjo di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jalan Gadjah Mada, Rabu (21/2/2007). Hasanudin sebelumnya juga dituntut 20 tahun bui. Wajah Lilik yang terbalut kemeja warna ungu bermotif garis-garis dan Irwanto yang memakai kemeja warna hijau terlihat tenang mendengarkan tuntutan itu. "Kedua terdakwa telah memenuhi dakwaan pertama yakni pasal 15 jo pasal 7 Perpu nomor 1/2002 jo pasal 1 UU 15/2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme," kata Muji di hadapan majelis hakim yang diketuai Liliek Mulyadi. Hal-hal yang memberatkan adalah terdakwa melakukan perbuatan yang sadis dan tidak berkemanusiaan sehingga mengakibatkan 3 orang meninggal dunia dan 1 orang luka-luka. Akibat perbuatan terdakwa mengakibatkan masyarakat resah khususnya masyarakat Bukit Bambu, Poso. Hal-hal meringankan, terdakwa belum pernah dihukum, bersikap sopan, mengakui kesalahan dan tidak mempersulit persidangan dan telah dimaafkan oleh keluarga korban. "Kami meminta kepada majelis hakim agar kedua terdakwa bersalah dan masing-masing dijatuhi hukuman 20 tahun dikurangi masa tahanan," kata Muji. Kuasa hukum terdakwa Abu Bakar Rasyide meminta waktu 10 hari kepada majelis hakim untuk menyusun pledoi atau pembelaan. Namun permintaan itu ditolak. "Kan perpanjangan penahanan habis 20 Maret. Menurut surat edaran MA, 10 hari sebelum berakhir harus sudah diputus," kata Liliek. Majelis hakim akhirnya memutuskan sidang dilanjutkan pada 5 Maret dengan agenda pembacaan pledoi. Usai sidang, Lilik terlihat adem ayem menanggapi putusan itu. "Kan baru sebatas tuntutan, nanti ada upaya lain," sahutnya sambil nyengir. Sedangkan Abu mengaku tuntutan itu terlalu berat lantaran kliennya hanya sebatas menjalankan perintah Hasanudin, otak mutilasi siswi Poso.

Contoh Pelanggaran HAM yang Terjadi di Sekolah
Tarik Biaya Sekolah Kepsek Bisa Dituduh Pelanggaran HAM

Jakarta – Sekolah yang memungut biaya sekolah anak terutama pada keluarga miskin, bisa dikenakan pelanggaran HAM, karena salah satu hak anak yang dilindungi negara adalah hak untuk mendapatkan pendidikan secara cuma-cuma.“Apalagi masyarakat miskin termasuk dalam golongan yang dilindungi Undang-undang untuk mendapatkan pendidikan cuma-cuma. Kepala sekolah dapat dikenai pasal pelanggaran HAM,” demikian pengamat pendidikan Ade Irawan dari Koalisi Pendidikan di Jakarta, Senin (14/7).Menurutnya pihak Koalisi Pendidikan sudah mendirikan pos-pos pengaduan di beberapa daerah untuk menampung semua keluhan masyarakat termasuk soal pungutan biaya sekolah anak. “Namun masyarakat bisa langsung mengadukan pada Komnas HAM dan Komisi Perlindungan Anak,” katanya.Dinas Pendidikan dan Kepala Sekolah diisyaratkan berhati-hati menetapkan biaya pendidikan tinggi karena bisa menutup ruang bagi masyarakat tidak mampu mengenyam pendidikan, dan akhirnya bisa dilaporkan pelanggaran Hak Azazi Manusia (HAM) di bidang pendidikan. "Kepsek perlu hati-hati menetapkan biaya pendidikan tinggi, karena jika memberatkan masyarakat apalagi bagi siswa miskin, dapat dilaporkan sebagai pelanggaran HAM," kata praktisi hukum dari LBH Padang, Sudi Prayitno, di Padang, Sabtu (12/7).Dia mengatakan hal tersebut, terkait sejumlah sekolah setingkat SD, SMP dan SMA di Kota Padang menetapkan biaya tinggi bagi siswa barunya.Informasi yang terhimpun di Kota Padang, biaya masuk sekolah bagi siswa baru setingkat SMP mulai Rp 315.000/siswa sampai Rp 445.000/siswa dan untuk siswa SMA dipungut rata-rata diatas Rp1 juta /siswa termasuk uang pembangunan.Sudi mengatakan, biaya pendidikan tersebut dinilainya tinggi dan memberatkan masyarakat dan bisa dilaporkan sebagai bentuk pelanggaran HAM apalagi kondisi itu mengakibatkan terhambatnya sebagian masyarakat mengenyam bangku sekolah.Pendidikan itu, katanya, telah diatur konstitusi, jadi jika penyelenggaraannya terkesan memberatkan maka dapat dilaporkan sebagai pelanggaran HAM dan konstitusi. "Semestinya pendidikan bisa dinikmati masyarakat dengan biaya murah, karena telah diatur oleh konstitusi dan juga banyak bantuan lainnya untuk biaya pendidikantersebut," katanya.
(web warouw/ant)

Jenis penelitian

Penelitian dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis penelitian, misalnya:
Penelitian kualitatif (termasuk penelitian historis dan deskriptif)adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif.


Penelitian historis menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian dokumenter karena acuan yang dipakai dalam penelitian ini pada umumnya berupa dokumen. Penelitian historis dapat bersifat komparatif, yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan; bibliografis, yakni memberikan gambaran menyeluruh tentang pendapat atau pemikiran para ahli pada suatu bidang tertentu dengan menghimpun dokumen-dokumen tentang hal tersebut : atau biografis, yakni memberikan pengertian yang luas tentang suatu subyek, sifat dan watak pribadi subyek, pengaruh yang diterima oleh subyek itu dalam masa pembentukan pribadinya serta nilai subyek itu terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan.
Penelitian deskriptif adalah penelitian tentang fenomena yang terjadi pada masa sekarang. Prosesnya berupa pengumpulan dan penyusunan data, serta analisis dan penafsiran data tersebut. Penelitian deskriptif dapat bersifat komparatif dengan membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena tertentu; analitis kualitatif untuk menjelaskan fenomena dengan aturan berpikir ilmiah yang diterapkan secara sistematis tanpa menggunakan model kuantitatif; atau normatif dengan mengadakan klasifikasi, penilaian standar norma, hubungan dan kedudukan suatu unsur dengan unsur lain.
Penelitian teoritis adalah penelitian yang hanya menggunakan penalaran semata untuk memperoleh kesimpulan penelitian. Proses penelitian dapat dimulai dengan menyusun asumsi dan logika berpikir. Dari asumsi dan logika tersebut disusun praduga (konjektur). Praduga dibuktikan atau dijelaskan menjadi tesis dengan jalan menerapkan secara sistematis asumsi dan logika. Salah satu bentuk penerapan asumsi dan logika untuk membentuk konsep guna memecahkan soal adalah membentuk model kuantitatif. Dalam beberapa penelitian teoritis tidak diadakan pengumpulan data.
Penelitian ekperimental adalah penelitian yang dilakukan dengan menciptakan fenomena pada kondisi terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hubungan sebab-akibat dan pengaruh faktor-faktor pada kondisi tertentu. Dalam bentuk yang paling sederhana, pendekatan eksperimental ini berusaha untuk menjelaskan, mengendalikan dan meramalkan fenomena seteliti mungkin. Dalam penelitian eksperimental banyak digunakan model kuantitatif.
Penelitian rekayasa (termasuk penelitian perangkat lunak) adalah penelitian yang menerapkan ilmu pengetahuan menjadi suatu rancangan guna mendapatkan kinerja sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Rancangan tersebut merupakan sintesis unsur-unsur rancangan yang dipadukan dengan metode ilmiah menjadi suatu model yang memenuhi spesifikasi tertentu. Penelitian diarahkan untuk membuktikan bahwa rancangan tersebut memenuhi spesifikasi yang ditentukan. Penelitian berawal dari menentukan spesifikasi rancangan yang memenuhi spesifikasi yang ditentukan, memilih alternatif yang terbaik, dan membuktikan bahwa rancangan yang dipilih dapat memenuhi persyaratan yang ditentukan secara efisiensi, efektif dan dengan biaya yang murah. Penelitian perangkat lunak komputer dapat digolongkan dalam penelitian rekayasa.

Jeritan Kubur

J E R I T A N K U B U R

Hal Ihwal Para Mayit Ketika Diturunkan Ke Liang Kubur, Pertanyaan Para Malaikat, Luas dan Sempitnya Kubur serta Tempatnya di Surga atau Neraka

1. Dalam riwayat Bukhari disebutkan,” Jika seorang hamba mukmin dimasukkan ke liang kubur lalu ditanya oleh malaikat kemudian bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah.
2. Thabrani menceritakan dari hadits Barra’ ibn Azib dari Nabi saw,” Orang kafir akan ditanya oleh malaikat,”Siapa Tuhanmu?’tidak tahu, jawabnya. Kemudian ia dipukul denga tongkat kecil dari besi yang bisa menghancurkan sebuah gunung yang pukulannya bisa didengar oleh semua makhluk kecuali jin dan manusia.
3. Dalam riwayat Imam Ahmad diceritakan,”…kemudian ia ditemani oleh seorang yang bisu, tuli dan buta yang membawa tongkat kecil dari besi yang bisa menghancurleburkan sebuah gunung, maka ia akan dipukul dengan satu pukulan sampai hancursampai hancur lebur laksana debu, kemudian dikembalikan oleh Allah ke kondisi semula lalu dipukul lagi sampai menjeit keras, di mana jeritannya bisa di dengar oleh semua makhluk, kecuali jin dan manusia.

Ucapan Kubur Saat Mayit Diturunkan ke Dalamnya

1. Tirmidzi menceritakan dari hadits Abdullah ibn Walid Washafi dari Atiyyah dari Abu Sa’id bahwasanya Rasulillah saw pernah masuk ke dalam mesjid lalu melihat sekumpulan orang yang sedang bergerombol dan tertawa. Beliau berkata,” seandainya kalian banyak mengingat penghancur kenikmatan yaitu kematian niscaya kalian akan lupa untuk berbuat begini. Oleh karena itu hendaklah kalian banyak mengingat mati karena tidak ada yang datang ke kuburan kecuali kuburan akan berkata,” Aku adalah tempat keterasingan, kesendirian dan tempat belatung yang penuh dengan debu.” Jika orang mukmin dikuburkan, kuburan berkata,” Selamat datang bagimu, kamu adalah orang yang paling aku sukai yang lewat di atasku. Hari ini kamu kuangkat sebagai teman dan kamu telah berada di dekaktku maka kamu akan melihat apa yang aku lakukan untukku. Maka dilapangkan kuburnya seluas mata memandang dan dibukakan pintu surga baginya. Sementara itu jika orang kafir atau orang jahat yang dikubur, maka kuburan berkata,” Tidak ada selamat datang bagimu, kamu adalah orang yang paling kubenci melewatiku. Maka jika saat ini kamu menemaniku dan berada bersamaku maka kamu lihat apa yang aku lakukan padamu. Maka kuburan itu menyatu hingga menghimpit tubuhnya dan membuat tulang belulangnya saling melipat. Lalu di sekelilingnya disediakan 70 ekor ular naga yang besar yang jika salah seekor ular itu meniup ke bumi, maka tidak akan bisa menumbuhkan apa-apa karena hangus terbakar.. Si mayit akan terus berada dalam kondisi yang demikian sampai datangnya kiamat.” Beliau bersaba, “ Kuburan itu bisa menjadi sebuah taman surga atau jurang neraka.

Berkumpulnya Amal Para Mayit

1. Ibn Mandah meriwayatkan dari jalur Muhammad ibn Juhadah dari Thallah ibn mashrif dari Abu Hazim dari abu Hurairah,” Jika seorang Mukmin dimasukkan ke dalam kubur, setan akan mendatanginya dari arah kepala, tetapi sujud menjadi penghalang bagi keduanya. Lalu ia datang dari arah kedua tangannya namun puasa menjadi penghalangnya dan ketika datang dari arah kedua kakinya maka berdiri untuk shalat menjadi penghalangnya. Kemudian dibukakan baginya pintu surga dan ia berkata,” wahai Tuhanku antarkan aku ke tempat tinggalku. Dikatakan padanya. Kamu punya banyak saudara laki-laki da perempuan yang belum menyusulmu, maka tidurlah dengan tenang dan jangan merasa takut sesudahnya.
2. Khalaf menceritakan mengenai surah Tabarak. Tabarak adalah penghalang siksa kubur. Tabarak adalah surah penyelamat dan pembela yang akan membela pembacanya di sisi Allah dan meminta agar pembacanya diselamatkan dari siksa api neraka.
3. Diceritakan dari Siwar ibn Mush’ab,” Siapa yang membaca surah as sajadah dan tabrak sebelum tidur maka akan diselamatkan dari siksa kubur dan dilindungi dua malaikat penguji di alam kubur.
4. Dengan Isnad ibn Abu Dunya diceritakan dari yazid Raqasyi,” Aku mendengar bahwa jika seorang mukmin meninggal dunia dan ada yang belum dipelajarinya dari Alqur’an maka akan dikirim kepadanya sejumlah malaikat yang akan mengajarkannya sehingga ia hafal apa yang belum dipelajarinya.

Siksa Kubur dan Nikmat Kubur

1. Dalam shahih Muslim diceritakan dari ibn Abbas dari nabi saw bersabda,” Jika salah seorang dari kalian selesai membaca tasyahud akhir maka hendaklah ia memohon perlindungan dari 4 hal yaitu siksa neraka jahanam, siksa kubur, cobaan hidup dan mati serta fitnah dajjal.
2. Nabi saw pernah melewati dua kuburan lalu berkata,” keduanya sedang disiksa bukan karena dosa besar akan tetapi karena salah satunya tidak membersihkan air kencingnya dan satu lagi suka mengadu domba.
3. Ibn Wahab menceritakan kepada Amr ibn Harits,” Orang mukmin berada dalam kuburnya seperti berada di sebuah taman hijau yang luasnya 77 hasta dengan diterangi cahaya seperti malam bulan purnama.
4. Abu Abdurrahman al-Muqri dari Daud dan Abu Sahar,” Jika ada orang mukmin yang suka tahajjud dan membaca Alquran meninggal, maka ketika ia dimandkan. Alquran akan berada di sisi kepalanya. Setelah ia dimandikan, Alquran akan berada di antara dada dan kain kafannya. Ketika ia dimasukkan ke liang kubur maka malaikat datang dan Alquran berada di tengah-tengah mereka. Malaikat tadi berkata,’ menyingkirlah! Kami akan bertanya kepadanya, Alquran berkata,” Demi Allah saya tidak akan pergi meninggalkannya meskipun kalian diperintahkan berbuat sesuatu terhadapnya. Oleh karena itu tinggalkanlah dia.


Para Mayit Mengetahui Orang yang Menziarahi dan Mengucapkan Salam Kepada Mereka.

1. Diceritakan dari Hasan Qhasab, dia suka pergi bersama Muhammad ibn Wasi’, Setiap sabtu pagi mereka sampai di pemakaman. Dia mendatangi kuburan dan mendoakan untuk mereka serta mengucapkan salam. Dia menanyakan, mengapa tidak mendatangi kuburan pada hari Senin saja, Muhammad ibn Wasi’ menjelaskan bahwa si mayit akan mengenali para penziarahnya pada hari Jumat dan satu hari sebelum dan sesudahnya.
2. Abu Thahir berkata bahwa ia mendengar Abu Barakah berkata ,” Wahai anakku duduklah sebentar di sisi kuburku agar aku bisa menatapmu dengan senang dan berdoalah untukku. Jika kamu berdoa maka rahmat akan datang di antara aku dan kamu seperti sebuah penghalang yang melupakanku dari dirimu.

Syair Ibn Abu Dunya
Tempat para mayit menimbulkan rasa cinta
Namun jika kesedihan akan lahir jika memandangnya
Tempat yang tidak menjawab jika kau panggil
Dan tentu saja kamu tidak enak jika tidak ada jawaban
Tapi bagaimana si mayit bisa menjawab panggilanmu
Sementara ia diselimuti batu besar dan debu tanah
Ia tinggal di sana sampai manusia dibangkitkan oleh Allah
Kamu dekat tapi tidak ada harapan bertemu denganmu
Makin hari kamu bertambah hancur

Orang-orang tercinta pergi setelah lama saling mengasihi
Tempat berkunjung sudah jauh dan kamu sudah diserahkan
Membiarkanmu paling fakir di tempat terasing
Mereka tidak menemanimu dan menghapus kesedihanmu
Ketetapan sudah diputus dan kamu menjadi penghuni kubur
Di sisi orang-orang tercinta yang datang lalu berpisah

Hai orang yang lalai hatinya untuk mengingat mati
Sebentar lagi kamu akan berada di antara para mayit
Ingatlah tempatmu sebelum memasukinya
Dan bertobatlah kepada Allah dari kealpaan dan kesenangan
Kematian punya waktu untuk menjemput seseorang
Ingatlah musibah-musibah zaman
Janganlah merasa tenang dengan dunia dan hiasannya
Sebentar lagi kematian akan tiba wahai orang-orang yang berakal

Aku akan dilupakan dan juga rasa cintaku
Seorang teman akan mrndapatkan teman lagi setelah kematianku

Syair Salamah al-Bashri
Kau kagum oleh kuburan dan keindahan bangunannya
Padahal jasad di dalamnya sudah hancur
Tanyalah para mayit tentang keadaan mereka
Maka tak akan ada kejelasan berita dari mereka

Syair Al-Barra’
Kamu datangi kuburan maka tanyakan kepadanya
Mana orang terhormat dan orang terhina
Mana yang menghinakan kekuasaannya
Dan mana yang kuat jika punya kemampuan
Mereka telah pergi semuanya tanpa ada lagi pemberi berita
Habis cerita tentang mereka dengan matinya mereka semua
Hai sipenanya tentang orang-orang yang sudah mati
Apa kau tidak beriktibar dengan apa yang kau lihat
Kau pulang pergi dan akan hancur oleh tanah
Lalu rupa dan fisik yang indah pun menghilang

Kematian mengusirku dari istanaku
Debu menjadi pembaringan setelah kemewahan
Ada hamba Allah yang beriktibar setelah melihat kuburku
Dan takut mengalami perubahan nasib dari hari-harinya
Kumohon ampunan-Nya dari kejahatan dan rasa dendamku
Juga kemenanganku di hari taufiq
Demikianlah nasib manusia meskipun senang di dunianya
Mereka tertipi oleh lamanya upaya mengulur-ulur waktu

Syair di Bukit al- Ailah
Kematian adalah lautan berombak ganas
Di mana para perenang kewalahan menghadapinya
Dengarlah ucapan dari orang pintar
Tidak ada teman bagi seseorang
Selain ketakwaan dan amal shalih

Segeralah gunakan masa mudamu sebelum berlalu
Dan beramallah untuk harimu yang punya kemuliaan
Tak ada Idul fitri bagi si mayit di alam kuburnya
Juga Idul adha dan juga hari Asyura
Jauh dari keluarga meskipun dekat jaraknya
Seperti itu juga nasibku nanti
Aku sendiri di kubur dan keluarga sudah meninggalkanku
Membiarkanku menghadapi dosa-dosaku
Aku takut jika belum dimaafkan

Wahai orang yang berdiri di atas kubur
Berdiri di antara orang yang pergi dan hadir
Mereka tinggal di kehancuran dengan ditutupi debu tanah
Dan batu besar menunggu tibanya jeritan kebangkitan
Janganlah kau lupakan tempat kembali bagi kami
Karena besok kau akan mendatanginya

Sumber: Ibn Rajab al-Hanbali. 2004. Jeritan Kubur. Jakarta: Pustaka Islami

Karya tulis ilmiah

Akhir-akhir ini tuntutan terhadap kemampuan menulis karya ilmiah sangat terasa sekali. Tidak. hanya dikalangan ilmuan dan sivitas akademika pada suatu perguruan tinggi saja, dikalangan, siswa SMTA pun tuntutan tersebut, sudah lama terasa. Sebagai contoh akan pentingnya kemampuan menulis karya ilmiah bagi siswa SMTA tersebut adalah kewajiban membuat paper. Tahun-tahun 1980-an kepada siswa SMTA yang akan mengikuti EBTA/EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir/Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) diwajibkan membuat sebuah karya tulis ilmiah dalam bentuk makalah. Siswa yang tidak dapat menyelesaikan karya tulis ilmiahnya sampai batas waktu yang telah ditetapkan tidak diperkenankan mengikuti EBTA/EBTANAS. Dengan kata lain, bagi siswa SMTA menulis karya ilmiah merupakan syarat mutlak untuk mengikuti EBTA/EBTANAS. Merupakan Suatu keharusan yang tidak dapat di tawar-tawar.
Di kalangan mahasiswa dan ilmuan tuntutan kemampuan menulis karya ilmiah jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan tuntutan yang berlaku terhadap siswa SMTA. Kalau kepada siswa SMTA tuntutan itu hanya berlaku bagi siswa yang telah duduk di kelas tiga atau yang akan mengikuti EBTA/ EBTANAS saja, maka bagi kalangan mahasiswa tuntutan tersebut berlaku untuk setiap bidang studi yang diikutinya. Bila dalam satu semester mahasiswa mengambil lima (5) mata kuliah, setidaknya mereka harus membuat lima makalah dalam jangka waktu enam bulan. Sekiranya mahasiswa yang bersangkutan mampu menyelesaikan studinya dalam kurun waktu empat tahun (delapan semester), berarti mereka harus mampu menyelesaikan 40 makalah.

Bagi mahasiswa yang mengambil jalur skripsi, selain makalah yang 40 buah tersebut mereka juga membuat sebuah skripsi. Tentunya karya tulis yang sebanyak itu amat membanggakan.
Sehubungan dengan kedua persyaratan di atas, kaitan yang lebih erat adalah antara kalangan ilmuan dengan karya tulis ilmiah. Para ilmuan tidak dapat dilepaskan, dari menulis karya ilmiah. Kenyataan ini disebabkan karena menulis karya ilmiah merupakan sarana untuk menyampaikan gagasan dan hasil penelitian ilmuan tersebut. Seorang ilmuan yang tidak mampu-menyampaikan gagasan dan hasil pemikiran mereka secara tertulis, gagasan itu cenderung tidak bertahan lama. Gagasan tersebut akan hilang di makan ruang dan waktu. Secara tersirat, bobot keilmiahan seorang ilmuan diantaranya ditentukan oleh bobot tulisan ilmiahnya. Itulah sebabnya kemampuan menulis karya ilmiah itu penting artinya bagi seorang ilmuan.
Terlepas dari kualitas suatu karya ilmiah, adanya kesadaran akan pentingnya kemampuan menulis karya ilmiah adalah suatu hal yang menggembirakan. Dari segi kualitas, memang sering terdengar pernyataan yang kurang menyenangkan, yaitu kemampuan menulis karya ilmiah siswa/mahasiswa masih rendah. Dengan latihan yang teratur dan sistematis serta lebih mendalami teori, tentunya isyu yang tidak menyenangkan ini dapat dikurangi, bila perlu dihilangkan.
1.1 Pengertian Karya Tulis Ilmiah
Setiap tahun karya tulis ilmiah selalu dihasilkan siswa kelas III SMTA. Setiap semester mahasiswa selalu menulis karya ilmiah. Sejalan dengan itu, hampir setiap saat karya tulis ilmiah dihasilkan oleh para ilmuan. Begitu berartikah karya tulis ilmiah itu? Kalau memang berarti, apakah yang dimaksud dengan karya tulis ilmiah itu? Secara etimalogi, karya tulis ilmiah terdiri dari kata majemuk karya tulis dan ilmiah. yang dimaksudkan dengan karya tulis adalah hasil dari suatu kegiatan menulis. Hasil karya tulis ini dapat berupa makalah, cerpen, skripsi, puisi, tesis, novel, dan lain-lain. Yang dimaksud dengan ilmiah adalah segala sesuatu yang bersifat keilmuan. Ilmu adalah pengetahuan yang telah teruji kebenarannya melalui metode-metode ilmiah. Dari kedua kata di atas, dapat dirumuskan bahwa yang dimaksud dengan karya tulis ilmiah adalah karya tulis yang disusun secara sistematis menurut kaedah-kaedah tertentu berdasarkan hasil berpikir ilmiah dan metode ilmiah.
Berdasarkan pengertian di atas, yang dapat dikategorikan sebagai karya tulis ilmiah adalah makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian. Hal ini disebabkan karena karya tulis tersebut dikembangkan dengan menggunakan metode ilmiah. Makalah merupakan karya tulis ilmiah yang ditulis untuk memenuhi tugas-tugas perkuliahan atau untuk seminar. Penelitian ilmiah merupakan karya tulis yang lebih ditujukan untuk mengembangkan ilmu atau menguji kebenaran ilmu (teori). Skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian merupakan karya tulis sebagai hasil dari suatu penelitian. Skripsi, tesis, dan disertasi ditulis pada akhir paragraf, suatu studi untuk mendapatkan gelar tertentu. Skripsi ditulis untuk memperoleh gelar kesarjanaan oleh mahasiswa setingkat S.I. Tesis ditulis untuk meraih gelar magister (master) oleh mahasiswa setingkat S.2. Dan disertasi ditulis untuk gelar doktor oleh mahasiswa setingkat S.3.
Penulis karya ilmiah adalah orang yang telah memiliki ilmu pengetahuan (ilmuan). Sekurang-kurangnya, ia memiliki pengetahuan dalam bidang yang ditulisnya. Oleh karena penulis karya ilmiah adalah seorang ilmuan, kepadanya dituntut untuk memiliki sifat terbuka, jujur, kritis, teliti, tidak mudah percaya sebelum ada pembuktian, tidak cepat putus asa, dan tidak cepat merasa puas dengan pekerjaan atau hasil karyanya. Sifat-sifat di atas oleh Nana Sujana (1984: 4) disebut dengan sikap ilmiah. Yang dimaksud dengan keterbukaan adalah kesediaan menerima umpan balik dari orang lain, baik dalam bentuk yang menyenangkan ataupun yang menyakitkan. Tidak selamanya karya tulis seorang ilmuan diterima oleh pembaca. Pemahaman yang pro dan kontra selalu mengiringi karya itu. Apapun pendapat pembaca terhadap karya tulis itu penulis harus menerimanya. Berdasarkan masukan tersebut, dengan kritis penulis mencoba menganalisisnya, Masukan ini sangat besar artinya untuk menyempurnakan karya tulis yang ada, atau karya tulis yang akan muncul. Secara tersirat keterbukaan ini memperlihatkan sikap penulis yang demokratis dan tidal, picik.

Seorang penulis karya ilmiah harus jujur. Ia harus mampu mengemukakan sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, tidak merekayasa data sesuai dengan "pesanan". Sekiranya ia mengutip pendapat orang lain, ia harus mengakui bahwa itu bukan pendapatnya. Karena itu ia mesti membuatkan notasi ilmiahnya. Sekiranya notasi ilmiah ini tidak dibuatkan, maka penulis tersebut tidak lebih dari seorang plagiator. Seorang penulis karya ilmiah juga diharuskan memiliki sifat kritis dan teliti. Ia harus mampu menganalisis segala sesuatunya secermat mungkin, sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya. Analisis yang kritis itu harus dilakukan secara hati-hati dan teliti. Dalam bidang ilmu pengetahuan alam atau bidang-bidang keilmuan yang bersifat eksak tuntutan terhadap kekritisan dan ketelitian sangat tinggi, Kekurang tajaman analisis dan kekurang telitian dalam bekerja dapat mendatangkan akibat yang sangat fatal. Sampai sekarang kita masih ingat peristiwa Chernobel, suatu peristiwa kekurangtelitian dan kekurang hati-hatian yang mengakibatkan kematian.
Ilmu dimulai dari ketidaktahuan menjadi tahu, dari keragu-raguan menjadi yakin. Filsafat keilmuan adalah filsafat epistemologi, yaitu selalu mencari tahu, selalu berusaha menjawab pertanyaan "apa" dan "bagaimana". Seorang ilmuan harus memiliki sifat keingintahuan yang besar. la tidak mudah percaya begitu saja dengan apa yang di dengar, di lihat, atau dibacanya. Setiap informasi yang diperolehnya tidak diterimanya begitu saja. Sebelum diterima, informasi itu harus dibuktikan kebenarannya. Pembuktian kebenaran ini dapat dilakukan secara rasional didasarkan kepada teori-teori. Dengan kata lain, seorang ilmuan baru dapat menerima suatu informasi itu benar secara teori dam diterima oleh akal. Pembuktian secara empiris. didasarkan kepada fakta-fakta yang dapat diamati. Sekiranya informasi itu sesuai dengan fakta yang ada barulah informasi itu dapat diterima.
Cepat putus asa dam lari dari masalah yang sedang dihadapi bukanlah suatu sikap yang terpuji. Tidak hanya dalam bidang keilmuan, dalam kehidupan sehari-hari pun sikap ini tidak berterima bagi siapapun. Seorang ilmuan yang cepat putus asa akan selalu melahirkan karya yang asal jadi. Pembahasannya tidaklah tuntas. Untuk karya tulis ilmiah ketidaktuntasan pembahasan masalah tidaklah dapat diterima. Ketidaktuntasan tidak terselesaikan permasalahan, malahan sebaliknya, yaitu sering mendatangkan masalah baru. Karya yang lahir akibat putus asa adalah karya yang dipaksakan "kelahirannya". Biasanya karya seperti ini sering menimbulkan pemahaman dam penafsiran yang berbeda. Pada hal keberagaman pemahaman ini tidak boleh terjadi dalam memahami karya tulis ilmiah.
Seorang ilmuan yang cepat puas, karya yang telah dihasilkannya cenderung tidak mampu menghasilkan karya lanjutan (lain) yang lebih berbobot. Rasa cepat puas dalam bidang keilmuan tidaklah baik, Rasa ini sering membawa keterlenaan, mengendurkan kearifan, dam memperlemah daya kritis. Seorang ilmuan tidaklah dilarang menikmati karya tulis yang telah dihasilkannya. Yang tidak boleh adalah puas dengan apa yang ada, tidak pernah skeptis terhadap apa yang ada tersebut. Pada hal. karya tulis yang telah dihasilkan tersebut mungkir, masih memiliki kekurangan-kekurangan. Itulah sebabnya seorang ilmuan harus punya sifat kritis analitis. Bukan cepat puas atau terlena.
Melalui berbagai sikap ilmiah di atas, kemampuan menulis karya ilmiah dapat lebih ditingkatkan. Pada hematnya jenis. karya ilmiah seperti yang telah dijelaskan di atas adalah sama sebab sama-sama menggunakan metode ilmiah. Yang membedakan antara yang satu dengan yang lainnya adalah dalam hal kadar keilmiahannya, bobot masalah yang dibahas, dan penggunaan metodologi. Jumlah halaman, kertas yang digunakan, dan kerapian penjilidan belum dapat dijadikan sebagai tolak ukur ilmiah tidaknya sebuah karya tulis.

1.2 Berpikir dan Metode Ilmiah
Di atas telah dijelaskan bahwa metode yang digunakan dalam menulis karya ilmiah adalah metode ilmiah. Menurut Yuyun S. Suriasumantri (1985; 119) metode ilmiah merupakan suatu prosedur untuk mendapatkan pengetahuan yang disebut dengan ilmu. Jadi, ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah. Merujuk kepada pendapat Peter R. Senn lebih lanjut Suriasumantri mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan metode merupakan suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu dengan langkah-langkah yang teratur dan sistematis. Dalam hal ini dapat juga ditambahkan dengan kritis dan analitis.
Landasan dari metode ilmiah adalah kemampuan berpikir ilmiah, sedangkan dasar dari berpikir ilmiah adalah kemampuan otak dalam memecahkan dan menganalisis suatu masalah. Berpikir ilmiah tidak sama dengan berpikir biasa. Walaupun kegiatan berpikir apapun sama-sama merupakan kegiatan mental, namun dalam berpikir ilmiah kegiatan mental itu berlangsung secara sistematis dan berdasarkan aturan-aturan tertentu dalam rangka mendapatkan ilmu pengetahuan. Tidak semua kegiatan berpikir menghasilkan pengetahuan. Hampir setiap hari manusia melakukan kegiatan berpikir, tetapi ilmu pengetahuan tidak setiap hari dihasilkan oleh orang yang berpikir tersebut. Kenyataan ini menginformasikan bahwa kegiatan berpikir ilmiah berorientasi kepada, ilmu pengetahuan, sedangkan berpikir yang lainnya tidak berorientasi kepada ilmu pengetahuan.
Kegiatan berpikir ilmiah dimulai dari suatu masalah. Kemampuan mereaksi terhadap masalah inilah, yang menentukan ilmiah tidaknya kegiatan berpikir yang dilakukan. Dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak masalah keilmuan yang dapat diamati dan dicarikan pemecahannya. Akan tetapi sangat banyak masalah tersebut yang tidak terselesaikan, sebab tidak setiap manusia mempunyai kemampuan menyelesaikannya secara ilmiah. Dengan kata lain, tidak setiap manusia mempunyai kemampuan berpikir ilmiah, Sangat banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir ilmiah. Selain dari masalah genetika (keturunan) dalam bentuk IQ, bakat dan motivasi yang besar, kemampuan reseptif yang baik, dan latihan menganalisis masalah. Sikap kritis pun dapat meningkatkan kemampuan berpikir ilmiah.
Berpikir ilmiah tidak dapat dilepaskan dari berpikir deduktif dan induktif. berpikir ilmiah dibangun oleh kedua unsur berpikir tersebut. Berpikir deduktif sering juga disebut dengan berpikir rasional. Dalam berpikir deduktif kesimpulan dari suatu permasalahan ditarik dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang bergerak dari pernyataan umum ke pernyataan khusus. Contoh klasik yang sering dikemukakan adalah tentang pemuaian dan zat padat (logam). Bila dalam pernyataan umum dikemukakan bahwa setiap zat padat logam bila dipanaskan akan memuai. Dalam kenyataan benda-benda seperti besi, seng, emas, perak, dan kuningan termasuk benda padat jenis logam, maka dalam pernyataan khusus (kesimpulan) dapat dikatakan bahwa besi, seng, emas, perak, dan kuningan akan memuai bila dipanaskan.
Berpikir induktif merupakan kebalikan dari berpikir deduktif. Berpikir induktif ini sering juga disebut dengan berpikir empiris. Dalam hal ini, keterandaian data dan fakta secara kuantitatif dan kualitatif sangat besar peranannya untuk menarik kesimpulan. Berpikir induktif merupakan kebalikan dari berpikir deduktif. Kesimpulan yang diperoleh dari berpikir induktif adalah kesimpulan yang ditarik dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang bergerak dari pernyataan sebagai contoh dapat dikemukakan kebalikan contoh di atas. Kalau dalam pernyataan khusus dikemukakan bahwa besi, seng, emas, perak, dan kuningan akan memuai bila dipanaskan. Besi, seng, emas, perak, dan kuningan adalah zat padat jenis logam, maka dalam pernyataan umum (kesimpulan) dapat dikemukakan bahwa setiap zat padat logam akan memuai jika dipanaskan. Di atas telah dijelaskan bahwa kegiatan ilmiah dimulai dari masalah dan mengamati masalah. Kegiatan tersebut tidaklah terhenti sampai disitu saja, melainkan ada tahap-tahap selanjutnya yang harus dilalui, seperti perumusan masalah/hipotesis, mengumpulkan dan mengolah data, dan menarik kesimpulan. Sehubungan dengan ini Nana Sudjana (1988 ; 5) mengemukakan bahwa proses berpikir ilmiah selalu menempuh langkah-langkah tertentu yang disangga oleh tiga unsur pokok, yaitu (1) pengajuan masalah, (2) perumusan hipotesis, dan (3) verifikasi data. SIP Selanjutnya dijelaskan, cara berpikir atau proses berpikir yang terstruktur seperti inilah yang menjadi landasan metode ilmiah. Dengan kata lain dapat dijelaskan bahwa metode i1miah tersebut adalah metode logika-hipotiko verivikatif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dimaksud dengan logika adalah pengetahuan tentang kaedah berpikir, atau jalan pikiran yang masuk akal. Sesuatu yang masuk akal adalah sesuatu yang logis. Logika mengandalkan kemampuan berpikir, baik kemampuan berpikir induktif maupun kemampuan berpikir deduktif atau gabungan dari kedua bentuk berpikir tersebut. Sebagai suatu kegiatan keilmuan, dasar metode ilmiah ini adalah kemampuan berpikir, yaitu berpikir ilmiah, Melalui serangkaian proses berpikir ilmiah seperti yang telah dijelaskan di atas, hasil kegiatan berpikir ini dapat diterima dan dibuktikan keberandaannya. Apakah pembuktian itu secara rasio, dalam arti melalui telaahan berdasarkan teori-teori terkait, ataupun pembuktian secara. empiris, yaitu dengan memperlihatkan dan fakta. Prosedur selanjutnya dari metode ilmiah adalah mengajukan hipotesis. Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu penelitian. Jawaban sementara inilah yang hendak dibuktikan kebenaran atau ketidakbenarannya. Fungsi hipotesis adalah untuk mengarahkan pelaksanaan penelitian. Hipotesis merupakan sentral dari suatu penelitian. Segala keylatan yang dilakukan harus mengacu kepada pembuktian hipotesis. Dalam sebuah penelitian bisa saja tidak hipotesis yang diajukan, melainkan pertanyaan penelitian. Terhadap hal yang seperti ini tidaklah; ada salahnya. Fungsi pertanyaan penelitian tidaklah jauh bedanya dengar, fungsi hipotesis- penelitian; Kedua-duanya sama-sama berfungsi untuk mengarahkan penelitian. Kalau hipotesis merupakan suatu hal yang ingin dibuktikan kebenarannya, maka pertanyaan penelitian adalah sesuatu yang perlu dicari jawabannya. Penyelesaian dari keduanya adalah dengan mengadakan penelitian.
Akhir dari metode ilmiah adalah verifikasi data. Verifikasi data dimaksudkan sebagai kegiatan mengumpulkan data, menganalisis data, membahas hasil analisis data, dan menarik kesimpulan dalam bentuk pembuktian hipotesis atau jawaban pertanyaan penelitian. Kegiatan verifikasi data dapat dikatakan sebagai kegiatan inti dari suatu penelitian. Pelaksanaan kegiatan penelitian terdapat pada tahap verifikasi data ini. Pada tahap inilah temuan dari suatu penelitian diperoleh. Kalau pada, dua tahap sebelumnya penekanan kegiatan hanya pada mendudukkan permasalahan, maka. pada tahap verifikasi data realisasi dari segala perencanaan itu diterapkan. Rumusan masalah dan hipotesis atau pertanyaan-penelitian tidaklah ada artinya bila tidak dilanjutkan dengan kegiatan verifikasi data. Rumusan masalah dan hipotesis hanyalah angan-angan semata, bila tidak diikuti oleh kegiatan pengumpulan data, pengolahan data, dan pengujian hipotesis serta penarikan kesimpulan. Itulah sebabnya kegiatan verifikasi data merupakan init kegiatan dari suatu penelitian. Berdasarkan hasil penelitian (baik lapangan maupun kepustakaan) inilah disusun sebuah karya tulis, yaitu karya tulis ilmiah.
1.3 Jenis-Jenis Karya Tulis Ilmiah
Telah dijelaskan bahwa karya tulis ilmiah merupakan karya tulis yang dihasilkan dengan menggunakan metode ilmiah yang pelaksanaannya dilakukan secara sistematis, kritis dan teliti. Melalui prosedur kerja yang seperti inilah muncul karya tulis ilmiah. Secara umum orang cenderung beranggapan bahwa karya tulis ilmiah ini terdiri dari makalah dan laporan penelitian. Anggapan ini tidaklah ada salahnya, akan tetapi juga tidak ada salahnya untuk membagi anggapan tersebut atas pembagian berikut.
Makalah merupakan suatu karya tulis ilmiah yang membahas suatu permasalahan. Biasanya penulisan dimaksudkan untuk dibicarakan dalam suatu pertemuan ilmiah (seminar, konfrensi, musyawarah dan lain-lain) atau dalam upaya memperbaiki/meningkatkan suatu program tertentu.
Bagi kalangan mahasiswa, makalah ini dimaksudkan untuk melengkapi tugas-tugas (akhir) yang diberikan oleh dosen atau sebagai tugas akhir pengganti skripsi (bagi mahasiswa yang mengambil jalur makalah). Berdasarkan sasaran akhir dari penulisan makalah ini, maka jenis makalah dapat dibedakan atas tiga, yaitu;
1. Makalah sebagai pelengkap tugas-tugas perkuliahan mata kuliah tertentu, makalah tugas,
2. Makalah sebagai pelengkap tugas akhir untuk menyelesaikan suatu program studi, sebagai pengganti skripsi, dan
3. Makalah sebagai wadah untuk suatu pembicaraan dalam pertemuan ilmiah, makalah seminar.
Dalam menulis makalah, tidak seluruh metode ilmiah dipergunakan. Namun hal ini bukan berarti bahwa keilmiahan sebuah makalah akan hilang. Pada satu sisi, ada makalah yang disusun hanya berdasarkan pada pola berpikir rasional, yaitu dengan mengandalkan kajian teoritis. Pada sisi yang lain, ada makalah yang pembahasannya hanya didasarkan pada data empiris yaitu berupa pemaparan dan pendeskripsian temuan-temuan di lapangan. Berdasarkan kenyataan-ini, maka kerangka berpikir penciptaan makalah dapat dilakukan secara, deduktif atau induktif. Pembahasan sebuah permasalahan dalam bentuk makalah biasanya diuraikan dalam tiga bagian pokok, Yaitu : (1) pendahuluan atau pengajuan masalah, (2) pembahasan atau pemecahan masalah, dan (3). penutup atau kesimpulan. Melalui ketiga bagian pokok inilah segala permasalahan diuraikan sehingga menjadi sebuah makalah.
Bagaimanakah halnya dengan artikel? Pada hematnya antara makalah dengan artikel terdapat kesamaan. Hal ini disebabkan karena proses penyusunan kedua jenis tulisan tersebut menggunakan kerangka, berpikir yang sama, yaitu pola berpikir deduktif atau induktif. Kalaupun terdapat perbedaan, maka perbedaan itu cenderung terletak pada pola penyampaian dan tujuan penulisan. Artikel merupakan jenis karya tulis, ilmiah yang dimaksudkan untuk dipublikasikan melalui media cetak (koran, majalah, atau tabloid). Akibat sasaran/tujuannya adalah publikasi, maka, pola penyampaiannya banyak sedikitnya telah mempertimbangkan calon pembaca. Dengan demikian kemurnian keilmiahan terhadap pembahasan masalah tentu terpengaruh. Bahasa yang digunakan telah direkayasa sedemikian rupa. Artinya kata-kata atau kalimat yang dipakai disusun dengan mempertimbangkan calon pembaca. mungkin inilah sebabnya artikel ini sering juga disebut dengan tulisan semi ilmiah atau tulisan kreatif. Dalam pembicaraan selanjutnya artikel ini tidak akan dibicarakan.
Berbeda dari makalah, laporan penelitian (skripsi, tesis, dan disertasi) disusun dengan menggunakan kerangka berpikir yang komplek. Landasan berpikir dari skripsi, tesis, dan disertasi tidak hanya pada satu pola berpikir (deduktif atau induktif), akan tetapi didasarkan kepada kedua pola berpikir tersebut. Gabungan kedua pola pikir off ilmiah inilah yang melahirkan metode ilmiah yaitu logika, hipotesiko, dan verivikatif. Dengan kata lain, skripsi, two tesis, dan disertasi selalu melalui tahapan pengajuan masalah, kajian teori, hipotesis/pertanyaan, verifikasi data, dan kesimpulan. Akibat adanya perbedaan ini, maka proses menghasilkan makalah jauh lebih mudah dari pada proses menghasilkan skripsi, tesis, atau disertasi. Akan tetapi, hasil dari penulisan skripsi, tesis, disertasi, atau laporan penelitian jauh lebih bermakna, setidak tidaknya dalam dunia akademik, yaitu dalam rangka meraih gelar sarjana, master (magister), atau doktor. Prosedur menghasilkan sebuah laporan penelitian (skripsi, tesis, disertasi, atau laporan penelitian) memang tidak mudah. Banyak proses dan tahapan yang harus dilalui. Pada umumnya tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut. (Secara terinci, langkah-langkah penulisan karya tulis ilmiah akan dibicarakan pada Bab II).
Berdasarkan garis besar tahapan di atas, seolah-olah antara skripsi, tesis dan disertasi adalah sama. Apakah memang demikian halnya ? Sebenarnya antara skripsi, tesis dan disertasi tidaklah sama. Ketidaksamaan tersebut pada hakikatnya terletak pada tingkatannya (perbedaan gradual). Lebih lanjut Sudjana (1988 : 96) mengemukakan kemungkinan perbedaan tersebut terletak pada hal-hal berikut :
Kemungkinan Perbedaan Skripsi – Tesis – Disertasi
Aspek/Unsur Skripsi (S1) Tesis (S2) Disertasi (S3)
1. Permasalahan



2. Variabel


3. Tujuan







4. Metodologi Penelitian


5. Analisis Data



6. Skala Pengukuran Masalah dapat diangkat dari pengalaman empirik, sifatnya tidak terlalu spesifik/mendalam/analitik asal cukup jelas dan terbatas

Bias satu variable, atau hubungan dua variable bevariabel

Mendeskripsikan variable dan atau hubungan dua variable






Histories atau deskriptif, studi korelasi


Statistika deskriptif dan atau estetika analitik sederhana non parametric


Ordinal, nominal dan atau interval Diangkat dari pengalaman empirik atau dari berpikir teoritik, sifat mengarah kepada yang spesifik teoritik

Minimal hubungan dua variable multi variat

Mendeskripsikan dan mengkaji secara analitik hubungan / pengaruh variable





Expost facto, quasi experiment (semi eksperimen)

Statistika deskriptif dan statistik non paramerik dan atau non paramerik

Minimal, nominal dan interval
Diangkat dari kajian teoritik yang didukung oleh fakta empirik sifat lebih speifik/mendalam (analitik)

Dua variable multivariate atau tiga variable

Menguji atau menemukan hubungan antar variable dan pengaruh variable satu terhadap variable lain


Eksperimen minimal semi eksperimen


Statistika deskriptif dan statistika analitik/inferensial statistika paramerik

Interval rasio kecuali untuk penelitian kualitatif

Selain dari perbedaan di atas, dari segi manfaat juga terdapat perbedaan, yaitu skripsi di buat untuk memperoleh gelar kesarjanaan, tesis untuk meraih gelar magister atau master, dan disertasi untuk meraih gelar doctor.
Pada uraian terdahulu telah dijelaskan bahwa antara makalah dengan skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian terdapat perbedaan, terutama dalam hal kerangka berpikir. Perbedaan tersebut dapat digambarkan dalam bentuk diagram berikut. (Sudjana, 1988 : 18)

PERBEDAAN KERANGKA BERPIKIR ANTARA
MAKALAH DENGAN SKRIPSI, TESIS DAN DESERTASI
Sekalipun terdapat perbedaan antara makalah dengan skripsi, tesis, desertasi, dan laporan penelitian, kelima jenis tulisan tetap karya tulis ilmiah. Hal ini disebabkan karena kelima jenis tulisan itu memiliki pola yang sama. Kesamaan itu setidak-tidaknya adalah dalam hal (1) adanya pengajuan masalah, (2) adanya kaitan teori sebagai landasan dalam pembahasan, (3) adanya kesimpulan sebagai hasil dari pembahasan
1.4 Karya Tulis Ilmiah Dan Non Ilmiah
uraian-uraian pada bab terdahulu telah menjelaskan perihal karya tulis ilmiah. Kenyataan memperlihatkan ada tulisan ilmiah, tentu ada pula karya tulis yang tidak ilmiah. Kenyataan memperlihatkan bahwa memang ada karya tulis yang bukan merupakan karya tulis ilmiah. Dengan kata lain, ada karya tulis yang ditulis dengan tidak menggunakan kerangka berpikir ilmiah dari metode ilmiah. Karya-karya tulis yang seperti ini sering disebut dengan karya fiksi atau karya tulis dalam bentuk cerita.
Antara karya tulis ilmiah dengan karya yang non ilmiah ini banyak terdapat perbedaan. Pada hakekatnya perbedaan itu dapat ditinjau dari beberapa titik pengamatan. Untuk jelasnya perhatikanlah table berikut,
Table 1. Perbedaan Antara Karya Tulis Ilmiah Dengan Non Ilmiah
No Titik pengenalan Karya tulis ilmiah Karya tulis non ilmiah
(1) (2) (3) (4)


1. Akhir-akhir ini tuntutan terhadap kemampuan menulis karya ilmiah semakin dirasakan. Tidak saja dikalangan kaum akademik, dan intelektual, kebutuhan kemampuan inipun disadari oleh kalangan lain.
2. secara tegas karya ilmiah dapat dibedakan atas makalah, skripsi, tesis, desertasi dan laporan penelitian
3. seorang penulis karya ilmiah haruslah memiliki sikap ilmiah, yaitu terbuka, jujur, kritis, teliti, tidak Mudah percaya sebelum ada pembuktian, tidak cepat putus asa, dan tidak cepat puas sebelum pekerjaannya selesai.
4. Kerangka berpikir yang dipakai dalam menulis karya ilmiah adalah berpikir i1miah, misalnya berpikir dedukatif dan induktif. Sedangkan metode yang digunakan adalah metode ilmiah, yaitu metode logiko hipatiko, dan verifikatif.
5. Selain dari karya tulis ilmiah, juga terdapat karya tulis non-ilmiah, Untuk membedakan kedua jenis karya tulis ini dapat ditentukan dari berbagai titik pengamatan. Misalnya, permasalahan, bahasa, efek bagi pembaca, pola pengembangan tujuan, jenis, dan lain-lain.
Pertanyaan Latihan
Petunjuk
Pahamilah rangkaian pertanyaan berikut ini dengan baik, kemudian buatlah jawaban Saudara pada kertas bergaris sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh soal.
Pertanyaan
1. Jelaskanlah apa yang dimaksud dengan menulis dan menulis karya ilmiah.
2. Bandingkanlah antara, tulisan ilmiah dengan tulisan non-ilmiah. Berdasarkan perbandingan tersebut kemukakan komentar Saudara.
3. Apa-apa sajakah yang termasuk ke dalam jenis karya tulis ilmiah? Jelaskanlah jawaban Saudara tersebut.
4. Jelaskanlah peranan berpikir dalam menulis karya i1miah.
5. Bagaimanakah landasan, berpikir, makalah, skripsi, tesis, dan desertasi?
6. Jelaskanlah apa yang dimaksud dengan berpikir induktif dan berpikir deduktif. Berilah contoh uraian Saudara tersebut.
7. Uraikan dan jelaskanlah yang dimaksud dengan metode ilmiah!
8. Bagaimanakah peran karya tulis i1miah dalam menyangga ilmu pengetahuan alam?
9. Uraikan dan jelaskanlah bagian-bagian pokok yang ada dalam pengembangan suatu makalah.
Contoh-contoh bidang garapan PTK:
1) metode mengajar, mungkin mengganti metode tradisional dengan metode penemuan;
2) strategi belajar, menggunakan pendekatan integratif pada pembelajaran daripada satu gaya belajar mengajar;
3) prosedur evaluasi, misalnya meningkatkan metode dalam penilaian kontinyu/otentik;
4) penanaman atau perubahan sikap dan nilai, mungkin mendorong timbulnya sikap yang lebih positif terhadap beberapa aspek kehidupan;
5) pengembangan profesional guru misalnya meningkatkan keterampilan mengajar, mengembangkan metode mengajar yang baru, menambah kemampuan analisis, atau meningkatkan kesadaran diri;
6) pengelolaan dan kontrol, pengenalan bertahap pada teknik modifikasi perilaku; dan
7) administrasi, menambah efisiensi aspek tertentu dari administrasi sekolah (Cohen dan Manion, 1980: 181).
Bidang Kajian Penelitian
1. Masalah belajar siswa sekolah (termasuk di dalam tema ini, antara lain: masalah belajar di kelas, kesalahan-kesalahan pembelajaran, miskonsepsi, dan sebagainya);
2. Desain dan strategi pembelajaran di kelas (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi dalam metode pembelajaran, interaksi di dalam kelas, dan sebagainya);
3. Alat bantu, media, dan sumber belajar (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah penggunaan media, perpustakaan, dan sumber belajar di dalam/luar kelas, dan sebagainya);
4. Sistem evaluasi (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen evaluasi berbasis kompetensi, dan sebagainya);
5. Masalah kurikulum (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah implementasi KBK, interaksi guru-siswa, siswa-bahan abelajar, dan lingkungan pembelajaran, dan sebagainya.
A. Strategi penyampaian bahan ajar oleh Guru
1. Strategi urutan penyampaian simultan
Jika guru harus menyampaikan materi pembelajaran lebih daripada satu, maka menurut strategi urutan penyampaian simultan, materi secara keseluruhan disajikan secara serentak, baru kemudian diperdalam satu demi satu (Metode global). Misalnya guru akan mengajarkan materi Sila-sila Pancasila yang terdiri dari lima sila. Pertama-tama Guru menyajikan lima sila sekaligus secara garis besar, kemudian setiap sila disajikan secara mendalam.
2. Strategi urutan penyampaian suksesif
Jika guru harus manyampaikan materi pembelajaran lebih daripada satu, maka menurut strategi urutan panyampaian suksesif, sebuah materi satu demi satu disajikan secara mendalam baru kemudian secara berurutan menyajikan materi berikutnya secara mendalam pula. Contoh yang sama, misalnya guru akan mengajarkan materi Sila-sila Pancasila. Pertama-tama guru menyajikan sila pertama yaitu sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Setelah sila pertama disajikan secara mendalam, baru kemudian menyajikan sila berikutnya yaitu sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Strategi penyampaian fakta
Jika guru harus menyajikan materi pembelajaran termasuk jenis fakta (nama-nama benda, nama tempat, peristiwa sejarah, nama orang, nama lambang atau simbol, dsb.) strategi yang tepat untuk mengajarkan materi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sajikan materi fakta dengan lisan, tulisan, atau gambar.
2. Berikan bantuan kepada siswa untuk menghafal. Bantuan diberikan dalam bentuk penyampaian secara bermakna, menggunakan jembatan ingatan, jembatan keledai, atau mnemonics, asosiasi berpasangan, dsb. Bantuan penyampaian materi fakta secara bermakna, misalnya menggunakan cara berpikir tertentu untuk membantu menghafal. Sebagai contoh, untuk menghafal jenis-jenis sumber belajar digunakan cara berpikir: Apa, oleh siapa, dengan menggunakan bahan, alat, teknik, dan lingkungan seperti apa? Berdasar kerangka berpikir tersebut, jenis-jenis sumber belajar diklasifikasikan manjadi: Pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan. Bantuan mengingat-ingat jenis-jenis sumber belajar tersebut menggunakan jembatan keledai, jembatan ingatan (mnemonics) menjadi POBATEL (Pesan, orang bahan, alat, teknik, lingkungan).
Bantuan menghafal berupa asosiasi berpasangan (pair association) misalnya untuk mengingat-ingat di mana letak stalakmit dan stalaktit pada pelajaran sains. Apakah stalaktit di atas atau di bawah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pasangkan huruf T pada atas, dengan T pada tit-nya stalaktit. Jadi stalaktit terletak di atas, sedangkan stalakmit terletak di bawah.
Contoh lain penggunaan jembatan keledai atau jembatan ingatan: (1) PAO-HOA (Panas April-Oktober, Hujan Oktober – April). (2) Untuk menghafal nama-nama bulan yang berumur 30 hari digunakan AJUSENO (April, Juni, September, Nopember).
4. Strategi penyampaian konsep
Materi pembelajaran jenis konsep adalah materi berupa definisi atau pengertian. Tujuan mempelajari konsep adalah agar siswa paham, dapat menunjukkan ciri-ciri, unsur, membedakan, membandingkan, menggeneralisasi, dsb.
Langkah-langkah mengajarkan konsep: Pertama sajikan konsep, kedua berikan bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri pokok, contoh dan bukan contoh), ketiga berikan latihan (exercise) misalnya berupa tugas untuk mencari contoh lain, keempat berikan umpan balik, dan kelima berikan tes
Contoh:
Penyajian konsep tindak pidana pencurian
Langkah 1: Penyajian konsep
Sesuai pasal 362 KUHP, "Barang siapa dengan sengaja mengambil barang milik orang lain dengan melawan hukum dengan maksud untuk dimiliki dihukum dengan hukuman penjara sekurang-kurangnya … tahun."
Langkah 2: Pemberian bantuan
1. Murid dibantu untuk menghafal konsep dengan kalimat sendiri, tidak harus hafal verbal terhadap konsep yang dipelajari (dalam hal ini Pasal pencurian).
2. Tunjukkan unsur-unsur pokok konsep tindak pidana pencurian, yaitu:
1. Mengambil barang (bernilai ekonomi)
2. Barang itu milik orang lain
3. Dengan melawan hukum (tanpa seijin yang empunya)
4. Dengan maksud dimiliki (mengambil uang untuk jajan).
Contoh positif: Wawan malam hari masuk pekarangan Ali dengan merusak pintu pagar (sengaja) mengambil (melawan hukum) material bangunan berupa besi beton (barang milik orang lain), kemudian dijual, uangnya untuk membeli beras (dengan maksud dimiliki). Contoh negatif/salah (bukan contoh tapi mirip): Badu meminjam sepeda Gani tidak dikembalikan melainkan dijual uangnya untuk membeli makan. Dari contoh negatif atau contoh yang salah ini, unsur-unsur "sengaja mengambil barang milik orang lain dengan maksud dimiliki" terpenuhi, tetapi ada satu unsur yang tidak terpenuhi, yaitu "melawan hukum", karena "meminjam". Jadi pengambilan barang seijin yang empunya. Karena itu perbuatan tersebut bukan termasuk tindak pidana pencurian, melainkan penggelapan.
Langkah 3: Latihan
Pertama-tama murid diminta menghafal dengan kalimat sendiri (hafal parafrase) Kemudian murid diminta memberikan contoh kasus pencurian lain selain yang dicontohkan oleh guru untuk mengetahui pemahaman murid terhadap materi tindak pidana pencurian.
Langkah 4: Umpan balik
Berikan umpan balik atau informasi apakah murid benar atau salah dalam memberikan contoh. Jika benar berikan konfirmasi, jika salah berikan koreksi atau pembetulan.
Langkah 5: Tes
Berikan tes untuk menilai apakah siswa benar-benar telah paham terhadap materi tindak pidana pencurian. Soal tes hendaknya berbeda dengan contoh kasus yang telah diberikan pada saat penyempaian konsep dan soal latihan untuk menghindari murid hanya hafal tetapi tidak paham.

Strategi penyampaian materi pembelajaran prinsip
Termasuk materi pembelajaran jenis prinsip adalah dalil, rumus, hukum (law), postulat, teorema, dsb.
Langkah-langkah mengajarkan atau menyampaikan materi pembelajaran jenis prinsip adalah :
3. Sajikan prinsip
4. Berikan bantuan berupa contoh penerapan prinsip
5. Berikan soal-soal latihan
6. Berikan umpan balik
7. Berikan tes.

Contoh:
Cara mengajarkan rumus menghitung luas bujur sangkar dengan tujuan agar siswa mampu menerapkan rumus tersebut.
Langkah 1: Sajikan rumus
Rumus menghitung luas bujur sangkar adalah: Sisi X Sisi atau sisi kuadrat.
Langkah 2: Memberikan bantuan
Berikan bantuan cara menghafal rumus dilengkapi contoh penerapan rumus menghitung luas bujur sangkar. Misalnya sebuah karton bangun bujur sangkar dengan panjang sisi 30 cm.
Rumus: Luas bujur sangkar = S X S.
Luas karton adalah 30 X 30 X 1 cm2 = 900 cm2.
Langkah 3: Memberikan latihan
Berikan soal-soal latihan penerapan rumus dengan bilangan-bilangan yang berbeda dengan contoh yang telah diberikan. Misalnya selembar kertas panjangnya berbentuk bujur sangkar dengan panjang sisi 40 cm. Hitunglah luasnya.
Langkah 4: Memberikan umpan balik
Beritahukan kepada siswa apakah jawaban mereka betul atau salah. Jika betul berikan penguatan atau konfirmasi. Misalnya, "Ya jawabanmu betul". Jika salah berikan koreksi atau pembetulan.

Langkah 5: Berikan tes
Berikan soal-soal tes secukupnya menggunakan bilangan yang berbeda dengan soal latihan untuk meyakinkan bahwa siswa bukan sekedar hafal soal tetapi betul-betul menguasai cara menghitung luas bujur sangkar.
5. Strategi penyampaian prosedur
Tujuan mempelajari prosedur adalah agar siswa dapat melakukan atau mempraktekkan prosedur tersebut, bukan sekedar paham atau hafal.
Termasuk materi pembelajaran jenis prosedur adalah langkah-langkah mengerjakan suatu tugas secara urut. Misalnya langkah-langkah menyetel televisi.
Langkah-langkah mengajarkan prosedur meliputi:
1. Menyajikan prosedur
2. Pemberian bantuan dengan jalan mendemonstrasikan bagaimana cara melaksanakan prosedur
3. Memberikan latihan (praktek)
4. Memberikan umpan balik
5. Memberikan tes.
Contoh:
Prosedur menelpon di telpon umum koin.
Langkah-langkah mengajarkan prosedur:
Langkah 1: Menyajikan prosedur
Sajikan langkah-langkah atau prosedur menelpon dengan menggunakan bagan arus (flow chart)
Langkah 2: Memberikan bantuan
Beri bantuan agar murid hafal, paham, dan dapat menelpon dengan jalan mendemonstrasikan cara menelpon.
Langkah 3: Pemberian latihan
Tugasi siswa paraktek berlatih cara menelpon.
Langkah 4: Pemberian umpan balik
Beritahukan apakah yang dilakukan siswa dalam praktek sudah betul atau salah. Beri konfirmasi jika betul, dan koreksi jika salah.
Langkah 5: Pemberian tes
Berikan tes dalam bentuk "do it test", artinya siswa disuruh praktek, lalu diamati.
6. Strategi mengajarkan/menyampaikan materi aspek afektif
Termasuk materi pembelajaran aspek sikap (afektif) menurut Bloom (1978) adalah pemberian respons, penerimaan suatu nilai, internalisasi, dan penilaian.
Beberapa strategi mengajarkan materi aspek sikap antara lain: penciptaan kondisi, pemodelan atau contoh, demonstrasi, simulasi, penyampaian ajaran atau dogma.
Contoh:
Penciptaan kondisi. Agar memiliki sikap tertib dalam antrean, di depan loket dipasang jalur untuk antri berupa pagar besi yang hanya dapat dilalui seorang demi seorang secara bergiliran.
Pemodelan atau contoh: Disajikan contoh atau model seseorang baik nyata atau fiktif yang perilakunya diidolakan oleh siswa. Misalnya tokoh Bima dalam Mahabarata. Sifat Bima yang gagah berani dapat menjadi idola anak.
B. Strategi mempelajari bahan ajar oleh siswa
Ditinjau dari guru, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran berupa kegiatan guru menyampaikan atau mengajarkan kepada siswa. Sebaliknya, ditinjau dari segi siswa, perlakuan terhadap materi pembelajaran berupa mempelajari atau berinteraksi dengan materi pembelajaran. Secara khusus dalam mempelajari materi pembelajaran, kegiatan siswa dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu menghafal, menggunakan, menemukan, dan memilih.
Penjelasan dan contoh disajikan sebagai berikut:
1. Menghafal (verbal & parafrase)
Ada dua jenis menghafal, yaitu menghafal verbal (remember verbatim) dan menghafal parafrase (remember paraphrase). Menghafal verbal adalah menghafal persis seperti apa adanya. Terdapat materi pembelajaran yang memang harus dihafal persis seperti apa adanya, misalnya nama orang, nama tempat, nama zat, lambang, peristiwa sejarah, nama-nama bagian atau komponen suatu benda, dsb. Sebaliknya ada juga materi pembelajaran yang tidak harus dihafal persis seperti apa adanya tetapi dapat diungkapkan dengan bahasa atau kalimat sendiri (hafal parafrase). Yang penting siswa paham atau mengerti, misalnya paham inti isi Pembukaan UUD 1945, definisi saham, dalil Archimides, dsb.
2. Menggunakan/mengaplikasikan (Use)
Materi pembelajaran setelah dihafal atau dipahami kemudian digunakan atau diaplikasikan. Jadi dalam proses pembelajaran siswa perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan, menerapkan atau mengaplikasikan materi yang telah dipelajari.
Penggunaan fakta atau data adalah untuk dijadikan bukti dalam rangka pengambilan keputusan. Contoh, berdasar hasil penggalian ditemukan fakta terdapatnya emas perhiasan yang sudah jadi, setengah jadi, perhiasan yang telah rusak, tungku, bahan emas batangan di bekas peninggalan sejarah di desa Wonoboyo Klaten Jawa Tengah. Dengan menggunakan fakta tersebut, ahli sejarah berkesimpulan bahwa lokasi tersebut tempat bekas pengrajin emas.
Penggunaan materi konsep adalah untuk menyusun proposisi, dalil, atau rumus. Seperti diketahui, dalil atau rumus merupakan hubungan antara beberapa konsep. Misalnya, dalam berdagang "Jika penjualan lebih besar daripada biaya modal maka akan terjadi laba atau untung". Konsep-konsep dalam jual beli tersebut meliputi penjualan, biaya modal, laba, untung, dan konsep "lebih besar".
Selain itu, penguasaan atas suatu konsep digunakan untuk menggeneralisasi dan membedakan. Contoh, seorang anak yang telah memahami konsep "jam adalah alat penunjuk waktu", akan dapat menggeneralisir bahwa bagaimanapun berbeda-beda bentuk dan ukurannya, dapat menyimpulkan bahwa benda tersebut adalah jam.
Penerapan atau penggunaan prinsip adalah untuk memecahkan masalah pada kasus-kasus lain. Contoh, seorang siswa yang telah mampu menghitung luas persegi panjang setelah mempelajari rumusnya, dapat menentukan luas persegi panjang di manapun dan berapapun besarnya panjang dan lebar persegi panjang yang harus dihitung luasnya.
Penggunaan materi prosedur adalah untuk dikerjakan atau dipraktekkan. Seorang siswa yang telah hafal dan berlatih mengendarai sepeda motor, dapat mengendarai sepeda motor tersebut.
Penggunaan prosedur (psikomotorik) adalah untuk mengerjakan tugas atau melakukan suatu perbuatan. Sebagai contoh, siswa dapat mengendarai sepeda motor setelah menghafal langkah-langkah atau prosedur mengendarai sepeda motor.
Penggunaan materi sikap adalah berperilaku sesuai nilai atau sikap yang telah dipelajari. Misalnya, siswa berhemat air dalam mandi dan mencuci setelah mendapatkan pelajaran tentang pentingnya bersikap hemat.
3. Menemukan
Yang dimaksudkan penemuan (finding) di sini adalah menemukan cara memecahkan masalah-masalah baru dengan menggunakan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang telah dipelajari.
Menemukan merupakan hasil tingkat belajar tingkat tinggi. Gagne (1987) menyebutnya sebagai penerapan strategi kognitif. Misalnya, setelah mempelajari hukum bejana berhubungan seorang siswa dapat membuat peralatan penyiram pot gantung menggunakan pipa-pipa paralon. Contoh lain, setelah mempelajari sifat-sifat angin yang mampu memutar baling-baling siswa dapat membuat protipe, model, atau maket sumur kincir angin untuk mendapatkan air tanah.
4. Memilih
Memilih di sini menyangkut aspek afektif atau sikap. Yang dimaksudkan dengan memilih di sini adalah memilih untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Misalnya memilih membaca novel dari pada membaca tulisan ilmiah. Memilih menaati peraturan lalu lintas tetapi terlambat masuk sekolah atau memilih melanggar tetapi tidak terlambat, dsb.





FALAH Y: MODEL MODEL DALAM PEMBELAJARAN
MODEL-MODEL DALAM PENGAJARAN
UNTUK MEMBUAT PELAJAR BELAJAR MANDIRI
A. Pendahuluan
Sudah 14 tahun saya menjadi guru SMK Negeri Y Samarinda, sebuah sekolah kejuruan yang banyak diminati, disegani, difavoriti warga Samarinda. Selain itu sebagai sekolah kejuruan yang dianggap senior maka sekolah ini juga merupakan rujukan bagi sekolah kejuruan swasta yang serumpun bidang keahlian nya di Samarinda dan sekitarnya. Kepala sekolah, guru-guru dari luar sering berkonsultasi ke sekolah ini hanya untuk mengembangkan sekolahnya dan menyamakan persepsi dalam pendidikan dan pengajaran.
Sebagai sekolah kejuruan, sekolah ini tergolong telah mampu mengeluarkan lulusan yang banyak di serap di dunia kerja maupun kuliah di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Secara persisnya data ini belum terkaver mengingat sekolah ini tidak memiliki data tentang keadaan lulusan untuk lima tahun terakhir ini. Namun sebagai guru di sini, penulis sering bertemu para alumni ini bekerja di berbagai instansi, perusahaan, dan kantor-kantor juga sering menemui para siswa yang kuliah di Unmul maupun perguruan tinggi swasta lainnya, serta beberapa alumni yang berwiraswasta.
Dalam soal belajar mengajar saya tidak menemukan hal yang istimewa, sekolah ini tetap menggunakan kegiatan belajar mengajar model Ceramah/kuliah. Selanjutnya diskusi kelompok, latihan (praktikum), dan terakhir penugasan oleh guru. Jika siswa mempunyai prestasi baik dalam belajar itu disebabkan dasarnya memang sudah baik, misalnya NEM yang digunakan syarat untuk masuk ke sekolah ini rata-rata baik, selain itu mereka punya kemauan dan motivasi untuk belajar. Di sini guru dalam mengajar tidak terlalu repot, tidak terbeban, tidak merasa kesulitan, walau dengan persiapan seadanya dan dengan metode yang paling sederhana sekalipun.

Di sekolah ini dalam pembagian kelas telah dikelompokkan atas rangking prestasi belajar, pada siswa yang prestasi belajarnya baik maka dikelompokkan pada kelas unggulan, rangking berikutnya di kelompok kelas berikutnya dan seterusnya.
Kelas unggulan merupakan siswa yang mampu mandiri dalam belajar daripada kelas yang lain di bawahnya, hal ini disebabkan kesadaran siswa yang tinggi disertai motivasi belajar yang tinggi serta karena kemampuan mereka yang baik disertai dengan mereka yang dikumpulkan dengan teman-teman yang baik sehingga punya daya saing yang hebat. Namun secara umum para siswa belum mampu mandiri dalam belajar mereka masih bergantung pada guru untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Dengan mengingat rasa keadilan dalam memberikan pelayanan pada siswa serta berdasar pada salah satu kebijakan strategis yang diambil Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dalam meningkatkan mutu pendidikan untuk mengembangkan SDM dengan konsep menggunakan paradigma belajar atau learning paradigm yang akan menjadikan pelajar-pelajar atau learner menjadi manusia yang diberdayakan, maka tulisan ini difokuskan untuk membantu guru-guru dalam membenahi pengajaran agar membuat siswa menjadi mandiri dalam belajar.





B. Hasil Pengamatan
Dalam pengamatan penulis pola umum mengajar guru-guru di SMK Negeri Y Samarinda adalah : 1) Ceramah; 2) Diskusi kelompok; 3) penugasan, 4) latihan (demonstrasi).
1. Metode Ceramah
Pengajaran menggunakan metode ceramah telah mendominasi dalam kegiatan pengajaran di SMK Negeri Y Samarinda. Metode ceramah /kuliah/penuturan merupakan metode mengajar yang konvensional, karena metode ini sudah sejak dulu digunakan sebagai alat komunikasi pengajaran antara guru dengan siswa. Meskipun metode ini banyak menuntut keaktifan guru daripada siswa, namun metode ini tetap tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam kegiatan pengajaran. Apalagi pada sekolah-sekolah yang fasilitasnya kurang dan sekolah-sekolah di daerah terpencil (pedalaman).
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (1996:109-110), "Metode ceramah adalah cara penyajian pelajaran yang dilakukan guru dengan penuturan atau penjelasan lisan secara langsung terhadap siswa.
Kelebihan metode ceramah
- Guru mudah menguasai kelas.
- Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas.
- Dapat diikuti oleh jumlah siswa besar.
- Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya.
- Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik.
a. Kelemahan metode ceramah
- Mudah menjadi verbalisme (pengertian kata-kata)
- Yang visual menjadi rugi, yang auditif (mendengar) lebih besar menerimanya.
- Bila selalu digunakan dan terlalu lama, membosankan.
- Guru menyimpulkan bahwa siswa mengerti dan tertarik pada ceramahnya, ini sukar sekali.
- Menyebabkan siswa menjadi pasif.
Dalam praktiknya, guru dalam mengajar tidak bisa hanya menggunakan metode ceramah saja, tapi dikombinasikan dengan metode-metode mengajar lainnya. Misalnya metode ceramah biasanya dikombinasikan dengan tanya jawab dan penugasan, sedang untuk metode latihan dikombinasi dengan ceramah dan demonstrasi.
2. Metode Latihan
Metode latihan digunakan di SMK Negeri Y Samarinda terutama untuk pelajaran-pelajaran yang memerlukan ketrampilan (skill) seperti pelajaran akuntansi, komputer, stenografi, penjualan barang, korespondensi, mengetik dan sebagainya. Untuk pelajaran Matematika, Bahasa Inggris sering pula menggunakan metode ini. Metode latihan atau disebut juga metode training, merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.
Sebagai suatu metode yang diakui banyak mempunyai kelebihan, juga tidak dapat disangkal bahwa metode latihan mempunyai beberapa kelemahan. Maka dari itu, guru yang ingin mempergunakan metode latihan ini kiranya tidak salah bila memahami karakteristik metode ini.


Syaiful Bahri Djamarah (1996:108-109), merinci kelebihan dan kelemahan metode latihan sebagai berikut:
Kelebihan metode latihan
a. Untuk memperoleh kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan huruf, kata-kata atau kalimat, membuat alat - alat, menggunakan alat-alat (mesin permanen dan elektrik), dan terampil menggunakan peralatan olah raga.
b. Untuk memperoleh kecakapan mental seperti dalam perkalian, menjumlah, pengurangan, pembagian, tanda -tanda (simbol), dan sebagainya.
c. Untuk memperoleh kecakapan dalam bentuk asosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunaan simbol, membaca peta dan sebagainya.
d. Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dan menambah ketepatan serta kecepatan pelaksanaan.
e. Pemanfaatan kebiasaan yang dilakukan dan menambah ketepatan serta kecepatan pelaksanaan.
f. Pembentukan kebiasaan-kebiasaan membuat gerakan-gerakan yang kompleks, rumit, menjadi lebih otomatis.
b. Kelemahan metode latihan
a. Menghambat bakat dan inisiatif siswa, karena siswa lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan jauh dari pengertian.
b. Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan.
c. Kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton, mudah membosankan.
d. Membentuk kebiasaan yang kaku, karena bersifat otomatis.
e. Dapat menimbulkan verbalisme.
Dalam praktiknya, metode latihan tidak bisa berdiri sendiri namun divariasikan dengan metode ceramah, sebagaimana dijelaskan Syaiful Bahri Djamarah :
"Metode latihan umumnya digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan dari bahan yang dipelajarinya. Karena itu, metode ceramah dapat digunakan sebelum maupun sesudah latihan dilakukan. Tujuan dari ceramah untuk memberikan penjelasan kepada siswa mengenai bentuk keterampilan tertentu yang akan dilakukannya."
3. Metode Diskusi
Metode diskusi digunakan oleh guru SMK Negeri Y Samarinda, umumnya oleh guru mata pelajaran Sejarah, PPKn, Agama dan Etika, serta guru Bahasa Indonesia untuk materi praktik diskusi, dan guru kesekretarisan untuk materi praktik pertemuan dan rapat (meeting).
Metode diskusi bermanfat untuk melatih kemampuan memecahkan masalah secara verbal, dan memupuk sikap demokratis. Diskusi dilakukan bertolak dari adanya masalah. Menurut Winarno Surachmad dalam Muhammad Ali (2000:80-81), pertanyaan yang layak didiskusikan mempunyai ciri sebagai berikut :
1. Menarik minat siswa yang sesuai dengan tarafnya
2. Mempunyai kemungkinan jawaban yang lebih dari sebuah yang dapat dipertahankan kebenarannya
3. Pada umumnya tidak menyatakan mana jawaban yang benar, tetapi lebih Banyak mengutamakan hal
mempertimbangkan dan membandingkan.

Metode diskusi mempunyai kadar CBSA cukup tinggi. Namun demikian, diskusi dapat berjalan dengan baik dan efektif bila siswa sudah mampu berfikir dan menggunakan penalaran.
Pelaksanaan sebuah diskusi dapat dipimpin oleh guru yang bersangkutan, atau dapat pula meminta salah seorang siswa untuk memimpinnya. Pemimpin diskusi dikenal dengan nama moderator biasanya secara formal moderator dibantu oleh sekretaris, untuk mencatat pokok-pokok fikiran penting yang dikemukakan peserta diskusi.
Sayangnya karena kurikulum di SMK Negeri Y Samarinda yang padat, dan guru harus menghabiskan materi sesuai program pengajaran maka beberapa guru tidak mau menjalankan, alasan repot, makan waktu dan memerlukan kerja keras untuk memperhatikan tiap-tiap kelompok diskusi. Biasanya guru hanya membagi kelompok pelajar untuk berdiskusi tentang suatu topik, tanpa ada bimbingan, sehingga masing-masing kelompok berdiskusi, hasil diskusi ditulis di kertas, hasilnya dikumpulkan.

4. Penugasan
Penugasan kepada siswa sering dilakukan oleh guru SMK Negeri Y Samarinda. Tugas-tugas tersebut diantaranya adalah mengisi LKS (Lembar Kegiatan Siswa), PR (Pekerjaan Rumah), membuat klippping, membuat makalah/karya tulis, mengadakan studi banding.
Tugas ini sebenarnya baik bagi perkembangan siswa dalam belajar, namun guru kurang mengadakan bimbingan sehingga seolah-olah, siswa hanya mengerjakan kewajiban saja, tanpa tahu apa maknanya tugas tersebut. Misalnya dalam membuat kliping siswa hanya menggunting lalu menempel dan menjilid, tidak tahu apa maksud isi yang diklipping tersebut. Misalnya siswa membuat makalah, tanpa pernah dipresentasikan di depan guru/kelas. Misalnya siswa telah mengerjakan LKS lalu dikumpulkan kepada guru tanpa ada koreksi atau pembahasan.
Rupanya ada keengganan bagi guru untuk mengoreksi, untuk menindak lanjuti tugas-tugas yang ia berikan kepada siswa, dan ini bisa berdampak pada siswa yaitu siswa menjadi kurang bersemangat dalam mengerjakan tugas atau siswa mengerjakan tugas sekedarnya saja (yang penting telah mengerjakan).
C. Permasalahan
Beberapa pola umum mengajar guru-guru SMK Negeri Y Samarinda yang telah diuraikan di atas dengan kelebihan dan kekurangannya masih menimbulkan ganjalan dalam peningkatan mutu pendidikan dan masih menyisakan masalah-masalah sebagai berikut :
1. Guru belum mampu membuat pelajar menjadi Learner autonomy
2. Guru belum menerapkan konsep belajar tuntas sebagai perwujudan dari learner autonomy
3. Guru belum menggunakan perpustakaan sebagai sarana bagi terlaksananya learner autonomy
4. Guru belum menggunakan metode mengajar yang mengarah pada learner autonomy

D. Analisis Masalah dan Pemecahannya
Pembelajar mandiri (learner autonomy) adalah suatu masalah yang eksplisit atau perhatian yang serius atau sadar: kita tidak dapat menerima tanggung jawab pembelajaran kita meskipun kita mempunyai ide apa, bagaimana, kenapa kita berusaha untuk belajar. Pembelajar harus berinisiatif untuk memberi bentuk arahan untuk proses belajar dan harus berbagi dalam kemajuan dan evaluasi untuk mengembangkan sasaran pembelajar yang dicapai (David Little)

Otonomi secara semantik berarti kompleks, Pembelajar mandiri harus menginterpretasikan kebebasan dari kontrol guru, kebebasan dari tekanan kurikulum bahkan kebebasan untuk memilih tidak belajar. Masing-masing kebebasan ini harus dihadapkan dan didiskusikan secara bijaksana, tetapi untuk kita yang terpenting adalah kebebasan belajar yang tersirat di dalam diri sendiri. Yang berarti kapasitas tersebut dibatasi dengan tujuan yang ingin dicapai.
Pembelajar mandiri secara umum adalah salah satu hasil perkembangan dan eksperimen belajar, sebagai contoh penguasaan bahasa Ibu berhasil hanya bila dikembangkan oleh murid sebagai pengguna bahasa tersebut, sebagai bahasa Ibu. Sama dengan belajar melalui pengalaman membantu mendefinisikan apa itu pelayanan masyarakat dalam memperkembangkan kapasitasnya sebagai tingkah laku pembelajar mandiri. Kebanyakan guru tergantung latihan-latihan pembelajar dalam jangkauan yang lebar dari kelakuan pembelajar di luar kelas yang tergambar dalam prinsip semua pembelajar seharusnya mampu di dalam kelas.
Beberapa kritik diajukan terhadap pembelajar mandiri ini dengan ide-ide yang bermacam-macam, seperti bagian dari tradisi budaya barat atau pembelajar bukan barat/aneh. (Jones, 1995). Argumen ini dibantah bahwa metode ini digunakan untuk mengembangkan pengetahuan pembelajar mandiri sebagai tradisi pengajaran barat contoh budaya pendidikan Denmark, Inggris dan Irlandia. Perkembangan Pembelajar mandiri di Jepang dielaborasikan secara spesifik dengan tradisi budaya Jepang baik di dalam maupun di luar kelas, diharapkan pengalaman terhadap tantangan dan pengayaan belajar adalah didapatkan rasa percaya diri untuk dibawa pulang dengan pengertian yang besar mengenai teori dan implikasi praktik pendidikan.
Belajar mandiri membuat para pelajar terbebas dari kelas reguler, membuat belajar sesuai dengan kemampuan pelajar, dan dapat melayani diri sendiri dalam hal kebutuhan belajarnya. Untuk itu perlu diupayakan agar belajar mandiri ini dapat berkembang dengan mendorong para pelajar untuk belajar dengan tekun yang datang dari keinginannya sendiri. Dengan demikian akan diperoleh generasi yang proaktif, mampu memecahkan masalahnya sendiri dan kritis. Dengan pembelajar mandiri maka akan tercipta generasi bisa bertoleransi, bisa berdemokrasi, dan berbudi pekerti, serta menghargai hak-hak orang lain. Maka untuk selanjutnya kita tidak lagi menyebut siswa, student atau pupil tapi learner atau pelajar bagi anak didik kita.
Permasalahan pertama, Guru belum mampu membuat pelajar menjadi Learner autonomy atau pelajar menjadi mandiri dalam belajar ini disebabkan oleh adanya pengkotak-kotakan siswa dalam kelas unggulan, dan bukan unggulan. Pada kelas unggulan yang berisi siswa dengan prestasi diatas rata-rata telah terjadi persaingan yang ketat antar mereka, pada kelas ini guru senang dan bersemangat dalam mengajar karena siswa mudah mengerti dan mudah di atur. Motivasi siswa untuk belajar dan berhasil dalam belajar tinggi, sehingga mereka mampu mandiri mamapu menjadi pelajar yang mandiri. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan mereka dalam mengambil inisiatif jika terjadi kekosongan guru/jam kosong, mereka mulai belajar sendiri melalui kunjungan ke perpustakaan, membaca buku pelajaran sendiri, atau membuat kelompok-kelompok diskusi. Lain halnya pada kelas yang dibawah unggulan mereka kurang termotivasi belajar, semakin kebawah kelasnya semakin tidak semangat untuk belajar. Pada kelas ini mereka merasa sebagai kelas afkiran, mereka kelas kedua dan bukan kelas utama, mereka anak-anak yang bodoh yang bermasalah.
Falah Yunus (1999), dalam penelitiannya tentang hubungan motivasi dengan prestasi belajar di SMK Negeri Y Samarinda ditemukan hal-hal sebagai berikut :
1 1. Korelasi motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa (r=0,62)
2 2. Interpretasi r= 0,62 yaitu : tingkat hubungan adalah "kuat"
3 3. Sumbangan relatif motivasi terhadap prestasi belajar (r2=0,39 atau 39%), sedang sisanya 61% dipengaruhi oleh
faktor lain.
4.
Pada angket motivasi dibagi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, ternyata motivasi intrinsik lebih dominan daripada motivasi ekstrinsik, dengan perbandingan 6:4.
5. Di SMK Negeri Y ada kelas unggulan dan kelas biasa, ternyata kelas unggulan motivasinya lebih tinggi daripada kelas biasa. Dari pernyataan ke 5 simpulan penelitian tersebut, maka seyogyanya agar pelajar dapat mandiri, sekolah jangan membuat kelas unggulan. Jika mau membuat kelas unggulan buat saja sekolah unggulan tersendiri. Untuk itu sebaiknya kelas di campur saja sehingga dalam satu kelas terdapat siswa pandai, sedang dan kurang yang mereka akan berinteraksi dan saling menyadari akan kekurangan dan kelebihan, dan terjaminlah rasa keadilan.
Permasalahan ke dua, Guru belum menerapkan konsep belajar tuntas di SMK Negeri 1 Samarinda sebagai perwujudan dari learner autonomy. Dalam Garis-garis besar Program pendidikan dan Pelatihan (GBPP) Kurikulum SMK, menganut prinsip sebagai berikut :
1. Berbasis luas, kuat dan mendasar (Broad Based Curriculum/BBC)
2. Berbasis kompetensi (Competenci Based Curriculum)
Pengertian Broad Based Curriculum adalah pola penyajian kurikulum yang terstruktur mulai dari kemampuan dasar, kemampuan lanjutan, sampai kemampuan spesialisasi/keahlian 3 aspek dalam pengembangan BBC pertama, pendidikan harus selebar mungkin cakupannya, agar tamatan yang akan bekerja akan dapat menemukan tempat pada lapangan kerja lainnya yang berdekatan dengan kualifiaksi bidang kejuruannya. Kedua pendidikan harus sedalam mungkin agar tamatan yang akan bekerja memiliki kualifikasi yang memadai untuk pekerjaan yang menuntut spesialisai.
Pengertian Pendekatan Competency/kemampuan adalah seperangkat tindakan inteligensi dan penuh tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai prasyarat melaksanakan bidang pekerjaan tertentu

Sehubungan dengan hal tersebut di SMK ada istilah remedial dan pengayaan, maksudnya siswa diharapkan untuk menuntaskan pelajaran sebelum ia mempelajari pelajaran berikutnya atau dalam istilah SMK siswa harus menuntaskan kompetensi pertama sebelum mempelajari kompetensi kedua. Jika siswa belum ternyata belum tuntas maka guru perlu memberikan pengayaan dan remedial. Ini sebenarnya sebuah langkah bahwa siswa harus belajar dan belajar secara kontinyu. Ini adalah mengarah pada siswa menjadi pembelajar mandiri.
Bagaimana guru dapat membuat siswa menjadi pembelajar mandiri dalam menuntaskan pembelajaran ketika dilaksanakan remedial atau pengayaan. Hal ini bisa dilakukan bermacam-macam cara, misalnya guru memberikan tugas kepada pelajar untuk membuat makalah, guru membuat modul yang harus dipelajari pelajar di rumah dan sebagainya.
Pengajaran remedial (remedial teaching ) adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat perbaikan, atau pengajaran yang membuat menjadi baik.
Dalam belajar mengajar guru melakukan pengajaran dengan tujuan agar siswa dapat belajar secara optimal. Namun jika ternyata terdapat siswa yang lamban dalam belajar dan prestasi belajarnya rendah maka diperlukan suatu proses belajar mengajar yang dapat membantu siswa agar tercapai hasil yang diharapkan (Moh Uzer Usman,2000).
Pengayaan adalah kegiatan tambahan yang diberikan kepada siswa yang telah mencapai ketentuan dalam belajar yang dimaksudkan untuk menambah wawasan atau memperluas pengetahuannya dalam materi pelajarn yang telah dipelajarinya (Moh Uzer Usman, 2000).
Permasalahan ke tiga, guru belum menggunakan perpustakaan sebagai sarana bagi terlaksananya learner autonomy. Perpustakaan merupakan pusat dan sumber belajar bagi pelajar dan ciri-ciri khas dari seorang pembelajar mandiri adalah kegemarannya dalam membaca. Jika guru mampu menggunakan perpustakaan semaksimal mungkin sebagai sumber belajar siswa, maka tujuan menjadikan siswa suka belajar akan tercapai.
Guru tidak bisa memberikan semua dan seluas-luasnya lmu kepada siswa, mengingat cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu perpustakaan di sekolah harus diberdayakan. Proses belajar mengajar harus melibatkan perpustakaan sekolah. Disamping itu siswa juga diberdayakan untuk menggunakan jaringan komputer (Internet) sebagai sumber pustaka Audio Visual Aids (AVA). Banyak informasi yang bisa diakses dari Internet untuk mengembangkan pengetahun siswa seperti jurnal ilmiah, berita, dan informasi lainnya yang membantu penambahan ilmu pengetahuan siswa.
Menurut SWA-Markplus, dari lima kota (daerah) yang mereka survey yaitu Jabotabek, Surabaya, Bandung, Yogyakarta dan Medan akses internet dari perguruan tinggi dan sekolah terbilang kecil rata-rata 6,7%. Bandingkan dengan akses dari warnet yang menunjukkan angka 45,8% atau dari rumah 19%.
Rupanya internet di kampus dan sekolah belum menjadi kebutuhan. Masih banyak kepala sekolah yang menganggap internet belum jelas manfaatnya di sekolah. Karena itulah mereka tak melengkapi sekolahnya dengan internet. Alasan lain karena faktor dana dan tidak tersedianya sumber daya yang paham internet. Demikian diungkapkan Amir Faisal, staf Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan (Dimenjur) yang sering berkunjung ke sekolah-sekolah di Indonesia untuk melatih penggunaan internet. Dari 700 Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di Indonesia, baru 300 sekolah yang membuka Internet, "tuturnya (Republika,17/10/2000).
Permasalahan keempat, guru belum menggunakan metode mengajar yang mengarah pada learner autonomy. Perlu bagi guru untuk mengembangkan metode mengajarnya ke arah pelajar menjadi mandiri. Belajar Kelompok atau Diskusi kelompok yang diungkapkan di atas jika di kelola dengan serius oleh guru akan mengantarkan pelajar menjadi pembelajar mandiri.
Belajar Kelompok (Cooperative learning) adalah sebuah strategi pengajaran yang sukses di dalam tim kecil, penggunaan sebuah variasi dari aktivitas belajar untuk memperbaiki pemahaman subyek. Setiap anggota tim tidak hanya bertanggung jawab pada belajar yang telah diajarkan tapi juga membantu kawan belajar se-tim, jadi membuat sebuah kondisi berprestasi (Stephen Balkcom).

Ciri-ciri pembelajaran kooperatif menurut Muslimin Ibrahin (2000) adalah :
1.Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah
3.Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda
4.Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu

Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperative :
Fase Tingkah Laku Guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa



Fase 2
Menyajikan informasi


Fase 3
Mengorganisasikan siswa kedalam ke –
lompok-kelompok belajar


Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Fase 5
Evaluasi


Fase 6
Memberikan penghargaan

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar


Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demostrasi atau lewat bahan bacaan


Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu agar setiap kelompok melakukan transisi secara fisien

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok


Belajar kelompok yang terdiri 4-6 anak per kelompok sangat bagus bagi perkembangan kepribadian anak dan perkembangan sosialisasi. Pada belajar ini siswa dapat saling berinteraksi sehingga akan timbul rasa persaudaraan, siswa belajar untuk mengeluarkan pendapat, ide. Siswa akan bangga terhadap penguasaan topik tertentu dan akan memberikan presentasi kepada teman-temannya, bahkan dalam salah satu strategi belajar kelompok siswa dapat memperoleh julukan ahli misalnya ahli empedu, ahli jantung dan sebagainya dalam belajar kelompok.
Linda luendgren (1994 dan Nur dkk, 1997) yang dikutip oleh Muslimin Ibrahim dkk, memberikan beberapa hasil penelitian yang menunjukan manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan hasil yang rendah antara lain :
• Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas
• Rasa harga diri lebih tinggi
• Memperbaiki sikap terhadap IPA dan segala
• Memperbaiki kehadiran
• Angka putus sekolah menjadi lebih rendah
• Penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar
• Perilaku menggangu menjadi lebih kecil
• Konflik antar pribadi berkurang
• Sikap apatis berkurang
• Pemahaman yang lebih mendalam
• Motivasi lebih besar
• Hasil belajar lebih tinggi
• Retensi lebih lama
• Meningkatakan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi

Berdasarkan teknik pelaksanaan , diskusi kelompok dapat digolongkan dua macam, yang jika dilaksanakan akan mengarahkan siswa untuk menjadi pembelajar mandiri, yaitu :
1. Debate. Di dalam debate terdapat dua kelompok mempertahankan pendapatnya masing-masing yang bertentangan. Pendengar (Audience) dijadikan sebagai kelompok yang memutuskan mana yang benar dan mana yang salah dalam keputusan akhir. Agar debate tidak bekrpanjangan harus dibatasi sesuai dengan waktu yang tersedia.
2. Diskusi. Diskusi pada dasarnya merupakan musyawarah untuk mencari titik temu pendapat tentang sesuatu masalah. Ditinjau dari pelaksanaannya dapat digolongkan ke dalam :
1. Diskusi kelas. Diskusi kelas adalah semacam 'brain storming' (pertukaran pendapat). Dalam hal ini guru mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas. Jawaban dari siswa diajukan lagi kepada siswa lain atau dapat pula meminta pendapat siswa lain tentang hal itu. Sehingga terjadi pertukaran pendapat secara serius dan wajar.

1. Diskusi kelompok. Guru mengemukakan suatu masalah. Masalah dipecah ke dalam sub masalah. Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil mendiskusikan sub-sub masalah tersebut. Hasil diskusi kelompok dilaporkan di depan kelas dan ditanggapi. Kesimpulan akhir adalah kesimpulan hasil laporan kelompok yang sudah ditanggapi seluruh isiwa.

1. Panel. Panel merupakan diskusi yang dilakukan oleh beberapa orang saja. Bisanya antara 3 sampai dengan 7 orang panelis. Siswa lain hanya bertindak sebagai pendengar (Audience). Dengan diskusi yang dilakukan oleh panelis tadi, audiens dapat memahami maksud yang terkandung pada masalah yang didiskusikan; merangsang berfikir untuk mendiskusikan lebih lanjut. Oleh karena itu panel dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar ahli memahami seluk beluk masalah yang didiskusikan. Panel tidak bertujuan memproleh kesimpulan, tapi merangsang berfikir agar siswa mendiskusikan lebih lanjut.

1. Konferensi. Dalam konferensi anggota duduk saling menghadap, mendiskusikan sesuatu masalah. Setiap peserta/siswa harus memahami bahwa kehadirannya harus sudah mempersiapkan pendapat yang akan diajukan.

1. Symposium. Pelaksanaan symposium dapat menempuh dua cara. Cara pertama, mengundang dua orang pembicara atau lebih. Setiap pembicara dimintakan untuk menyajikan prasaran yang sudah ditulis. Masalah yang dibahas oleh setiap pembicara adalah sama. Namun masing-masing menyoroti dari sudut pandangan yang berbeda-beda. Cara ke dua, membagi masalah ke dalam beberapa aspek. Setiap aspek di bahas oleh seorang pemrasaran, Selanjutnya disiapkan penyanggah umum yang akan menyoroti pemrasaran tersebut. Setelah selesai penyanggah umum memberikan sanggahan, baru diberikan kesempatan memberikan jawaban sanggahan.

1. Seminar. Seminar merupakan pembahasan ilmiah yang dilaksankan dalam meletakkan dasar-dasr pembinaan tentang masalah yang dibahas. Pembahasan seminar bertolak dari kertas kerja yang disusun oleh pemrasaran, dan maksud yang terkandung dalam pokok seminar (tema). Pelaksanaanya seringkali diawali dengan pandangan umum atau pengarahan dari fihak tertentu yang berkepentingan.

Peranan guru sebagai pemimpin diskusi pada umumnya adalah sebagai berikut :
1. Pengatur jalannya diskusi, yakni :
a. Menunjukkan pertanyaan kepada seorang siswa
b. Menjaga ketertiban pembicaraan
c. Memberi rangsangan kepada siswa untuk berpendapat
d. Memperjelas suatu pendapat yang dikemukakan
2. Sebagai dinding penangkis, yakni menerima dan menyebarkan pertanyaan
/pendapat kepada seluruh peserta
3. Sebagai penunjuk jalan, yakni memberikan pengarahan tentang tatacara
diskusi (muhamad Ali,1990:80)

Dalam pengajaran bahasa, terutama bahasa Inggris penggunaan belajar kelompok seperti diskusi kelompok dan seminar akan sangat menarik, dan mampu membuat siswa menjadi mahir dalam berbahasa Inggris, sebab siswa dengan metode ini mau tidak mau dipaksa untuk menggunakan bahasa Inggris dalam melakukan pembicaraan, menyanggah, berdebat dan berargumentasi.
Di SMK Negeri Y Samarinda, berhubung ada pelaksanaan Praktik Industri (On the Job Training) dimana siswa harus meninggalkan sekolah selama 3 (tiga) bulan untuk latihan kerja di dunia usaha/perusahaan maka akan mengakibatkan jam belajar siswa berkurang. Untuk itu perlu bagi sekolah untuk mampu membuat siswa menjadi pembelajar mandiri di rumah dengan cara belajar menggunakan Modul.

Menurut James D. Ruseel (1973) dalam Muhammad Ali, modul yaitu merupakan suatu paket belajar mengajar berkenaan dengan satu unit bahan pelajaran. Dengan modul siswa dapat mencapai taraf mastery (tuntas) dengan belajar secara individual. Siswa tidak dapat melanjutkan ke suatu unit pelajaran berikutnya sebelum mencapai taraf tuntas. Biasanya modul menggunakan multi media. Dengan melalui modul siswa dapat mengontrol kemampuan dan intesitas belajarnya, modul dapat dipelajari dimana saja. Lama sebuah modul tidak tertentu. Dapat beberapa menit, dapat bebetapa jam, dapat dilakukan secara tersendiri atau dibuat variasi dengan metoda lain.

Jika dilihat dari segi interaksi belajar mengajar yang berorientasi pada siswa sebagai subyek maka, modul itu dapat membuat:
1. Anak didik akan lebih aktif dalam belajar karena yang bersangkutan dituntut aktif berpartisipasi dalam setiap penyelesaian modul sesuai kemampuan anak dan guru hanya sebagai pembimbing, yang berusaha mengatur kelas sedemikian rupa sehingga anak belajar dengan baik.

1. Anak belajar sesuai dengan pertumbuhan masing-masing. Anak yang cepat akan dapat menyelsaikan modul lebih dahulu, tetapi ada pula anak yang lambat dalam penyelesaian modulnya.

E. Simpulan dan Saran

Dari uraian di atas dapat di buat simpulan dan saran sebagai berikut :
1. SMK Negeri Y Samarinda dalam proses belajar mengajar belum memberdayakan pelajar menjadi Learner Autonomy, padahal ini perlu digalakkan dalam kerangka menjebatani salah satu kebijakan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dalam meningkatkan mutu pendidikan untuk mengembangkan SDM dengan konsep menggunakan paradigma belajar atau learning paradigm yang akan menjadikan pelajar-pelajar atau learner menjadi manusia yang diberdayakan
2. SMK Negeri Y Samarinda perlu memberdayakan siswa menjadi leraner outonomy dengan menghapus kelas unggulan, memberdayakan perpustakaan dan jaringan komputer (internet), pelaksanaan belajar tuntas dengan mengadakan remedial dan pengayaan, metode belajar kelompok terutama diskusi kelompok dan seminar dan pengajaran modul
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Internet Belum Dianggap Penting Di SMK, berita dalam harian Republika, 17/10/00
Ali, Muhammad, 2000, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru Algensindo, Bandung
Astati, Sutriati, 1999, Pendukung Pelaksanaan Buku II Kurikulum SMK Edisi 1999, PPPGK Sawangan, Depdikbud
Balkcom, Stephen, Cooperative Learning, diakses dari http://www.ed. gov/pubs/ OR/Consumen Guides/Index.html diakses 2 Mei 2002
arah, Syaiful Bakri, 1996, Starategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta
Ibrahim, Muslimin, dkk. 2000, Pembelajaran Cooperative, Program Pascasarjana Unesa, University Press, Surabaya

Little, David, Learner Autonomy : What and Why ?, The Language Teacher Online 22.10, diakses dari http://longue.hyoer.chubu.ac.jp/jalt/pub/t;t /98/nov/littledam.html diakses 2 Mei 2002
Usman, Moh. Uzer, 2000. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Remaja Rosdakarya, Bandung
Yusuf, A. Muri, 1982, Pengantar Ilmu Pendidikan, Ghalia Indonesia, Jakarta
Sumber: Blog sukarni dhm